Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Curiga


__ADS_3

Ferdian nampak menyeringai pada Olaf dan hal tersebut membuat Olaf yakin bahwa memang apa yang dikatakan oleh sang mama adalah sebuah kebenaran, Olaf tidak dapat menahan dirinya untuk tidak memukul wajah pria ini.


Ferdian nampak memegangi bagian rahangnya yang terasa sakit akibat pukulan Olaf tadi, seolah tidak cukup hanya memukul rahang Ferdian, kini Olaf menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh Ferdian, ia menatap tajam sosok pria yang sudah menodai kesucian Tania.


“Apa yang kamu lakukan pada Tania adalah sesuatu yang tidak dapat dimaafkan, kamu pria yang menjijkan!”


Ferdian mendorong tubuh Olaf hingga cengkraman Olaf pada kerah kemejanya dapat terlepas, Ferdian nampak menyeringai pada pria tersebut, Ferdian mengatakan bahwa ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya


pada Tania.


“Tania tidak pantas memiliki pria kurang ajar seperti dirimu!”


“Dan apakah kamu pikir Tania akan mendengarkan apa yang kamu katakan? Aku rasa dia tidak akan mau mendengarkan apa yang kamu katakan karena dia mencintaiku.”


“Kamu terlalu percaya diri Ferdian, Tania tidak mencintaimu, kamu harusnya sadar itu!”


“Kamu mengatakan itu karena kamu sudah kalah dariku, terimalah kenyataan Olaf, Tania bukan ditakdirkan untukmu!”


Setelah mengatakan itu, Ferdian masuk ke dalam lift dan meninggalkan Olaf yang terdiam di tempatnya sambil mengepalkan kedua tangannya menatap tajam Ferdian yang sudah masuk ke dalam lift.


****


Tania begitu terkejut ketika melihat sosok Ferdian muncul di depan apartemennya, namun hal yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah melihat wajah Ferdian babak belur saat ini. Tania pun mempersilakan Ferdian masuk ke dalam dan ia mengambil obat di kotak P3K untuk mengobati luka Ferdian saat ini.


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa sampai babak belur begini?”


“Ini semua karena pria itu.”


Tania nampak mengerutkan keningnya heran saat mendengar ucapan Ferdian barusan, ia tak mengerti siapa orang yang saat ini tengah dibcarakan oleh pria tersebut saat ini.


“Kamu tidak tahu? Olaf, dia adalah orang yang aku bicarakan saat ini.”


“Apa? Dia yang melakukan ini padamu?!” seru Tania tak percaya.


“Iya, dia yang melakukan semua ini padaku, dia tiba-tiba saja menyerangku,” ujar Ferdian.


Tania nampak agak sangsi saat mendengar ucapan Ferdian barusan, sejujurnya ia tidak percaya kalau Olaf tiba-tiba menyerang Ferdian, pasti ada sebuah pemicu hingga membuat Olaf bertindak seperti itu.


“Kenapa kamu hanya diam saja?”


“Apa? Oh tidak kok.”


“Tania, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Ada apa?”


“Apakah kamu benar-benar mencintaiku?”


****

__ADS_1


Tania berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain, namun Ferdian tetap saja memaksanya untuk menjawab pertanyaannya, tentu saja saat ini Tania merasa tidak nyaman dengan semua ini. Namun mau tidak mau


akhirnya Tania pun harus menjawab bahwa ia mencintai Ferdian, pria itu nampak tersenyum saat Tania mengatakan itu, perlahan Ferdian mencondongkan tubuhnya pada Tania dan kemudian membisikan sesuatu pada wanita ini.


“Aku akan ingat kata-katamu ini Tania, kamu tidak akan dapat meralat ucapanmu itu dikemudian hari.”


Tania bergidik ngeri saat mendengar ucapan Ferdian itu walaupun setelahnya pria itu tersenyum manis padanya dan berterima kasih karena Tania sudah mau mengobati lukanya.


“Aku pergi dulu.”


“Apa? Kamu sudah mau pergi?”


“Iya, aku harus mengerjakan sesuatu saat ini.”


“Baiklah, hati-hati di jalan, ya.”


“Kabari aku kalau sesuatu hal yang buruk terjadi.”


“Baiklah.”


Ferdian kemudian pergi dari apartemen Tania, selepas kepergian Ferdian kini Tania duduk seorang diri di sofa ruang tengah memikirkan apa yang baru saja terjadi, ia merasa bahwa ia tidak akan mudah lepas dari


Ferdian, namun ia yakin Minanti akan membantunya kelak. Saat Tania sedang duduk bersantai itu, ponselnya berdering dan ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia begitu terkejut.


“Kenapa dia menelponku?”


****


Tania perlahan membukakan pintu apartemennya untuk orang yang tidak lain adalah Olaf, ia pun mempersilakan Olaf untuk masuk ke dalam apartemennya, Olaf yang sudah dipersilakan masuk pun melangkahkan kakinya


masuk ke dalam apartemen Tania. Ini merupakan kali pertama pria ini menginjakan kakinya di apartemen Tania.


“Kamu mau minum apa?”


“Tidak perlu repot-repot.”


Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tengah, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka berdua hingga akhirnya Olaf pun berinisiatif untuk membuka percakapan dengan wanita ini.


“Apakah nyaman tinggal di apartemen ini?”


“Iya.”


“Apakah selama kamu tinggal di apartemen ini terjadi hal yang buruk padamu?”


“Tidak.”


“Apakah kamu yakin?” tanya Olaf yang kini menatapnya dengan tatapan tajamnya hingga membuat Tania merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu.


“Memangnya kenapa kamu menanyakan hal tersebut padaku?”

__ADS_1


“Tania, apakah kamu ingin jujur padaku?”


“Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini.”


“Aku tadi bertemu dengan pria itu di parkiran dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku begitu marah.”


“Benarkah? Memangnya apa yang dia katakan padamu?”


“Dia mengatakan bahwa kamu dan dia sudah melakukan sesuatu, apakah itu benar?”


****


Galang kembali mengunjungi Jihan di penjara, hubungan mereka memang makin membaik dari hari ke hari, Jihan sama sekali tidak keberatan kalau Galang datang menjenguknya di tempat ini. Walau dengan waktu yang terbatas akibat jam kunjung yang sebentar, namun mereka berdua dapat memaksimalkan waktu yang diberikan.


“Aku ingin minta maaf padamu.”


“Kenapa kamu ingin minta maaf padaku?”


“Ini soal mamaku.”


“Ah, soal itu… itu bukan masalah, kok.”


“Namun sepertinya ucapan mamaku itu suka kelewat batas.”


“Aku sama sekali tidak memikirkannya, kok.”


“Namun tetap saja… aku merasa tidak enak padamu.”


“Aku baik-baik saja.”


Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka, namun Jihan dapat merasakan bahwa sebenarnya ada sesuatu yang hendak dikatakan oleh Galang namun pria ini seperti sedang menahan diri untuk


tidak mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan padanya.


“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, kamu dapat katakan sekarang juga.”


“Apa?”


“Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, kamu bisa katakan hal tersebut padaku, aku akan mendengarkannya.”


Galang nampak ragu, apakah ia harus mengatakan apa yang sedang ia pikirkan pada Jihan atau tidak, namun Jihan meyakinkannya untuk mengatakan saja apa yang ingin ia katakan.


“Tidak perlu ragu Galang, katakan saja, waktu kita tidak banyak, apakah kamu ingat?”


“Baiklah, namun… sejujurnya aku merasa tidak enak ketika harus mengatakan ini padamu.”


“Katakan saja sebelum waktu kunjunganmu habis.”


“Sebenarnya aku curiga kalau mamamu adalah dalang berakhirnya hubungan kita dulu.”

__ADS_1


__ADS_2