
Tania berusaha bersikap tenang di depan Ferdian, bagaimanapun juga ia harus melakukan rencananya ini dengan baik dan jangan sampai pria ini curiga berlebihan padanya karena hanya menunggu waktu saja sampai Ferdian akan dijebloskan ke dalam penjara.
“Kenapa kamu hanya diam saja sejak tadi?” tanya Ferdian.
“Tidak apa-apa.”
“Aku minta maaf karena menuduhmu yang bukan-bukan tadi.”
“Sudahlah, kamu tidak perlu meminta maaf, segeralah pergi, bukankah kamu ada urusan penting?”
“Baiklah, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik.”
“Tentu saja.”
Ferdian kemudian pergi dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya, Tania memperhatikan Ferdian dari dalam rumah dan setelah ia memastikan kalau mobil yang Ferdian tumpangi sudah keluar dari pekarangan rumah, kini Tania meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
“Halo ini aku, apakah semua rencana kita berjalan dengan baik?”
“Tentu saja Nyonya, semua masih sesuai dengan rencana.”
“Baguslah kalau begitu, jangan sampai kali ini gagal.”
“Tentu saja Nyonya, anda tidak perlu khawatir.”
TUT
Tania menutup sambungan telepon tersebut, ia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana Ferdian akan ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara atas perbuatannya itu.
“Semua hanya tinggal menunggu waktu saja Ferdian, nikmati hari-hari bebasmu sebelum kamu akan mendekam di balik jeruji besi.”
****
Di kantor, Ferdian dihadapkan dengan banyaknya wartawan yang sudah berkumpul di lobi untuk melakukan wawancaranya, namun tentu saja Ferdian bungkam dan tidak mau menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan
oleh wartawan, dengan pengawalan super ketat kini pria itu menembus banyaknya awak media yang menyodorkan mikrofon padanya.
“Tuan Ferdian boleh minta komentarnya?”
“Tuan Ferdian apakah yang dikatakan dalam artikel itu benar?”
“Tuan Ferdian boleh bicara sepatah kata?”
“Tolong berikan Tuan Ferdian jalan!”
Akhirnya Ferdian pun berhasil menembus para wartawan tanpa mengatakan sepatah kata pun pada mereka, sesampainya di ruang kerja, ia memanggil sang sekretaris untuk menghadapnya.
“Anda memanggil saya Tuan?”
“Sejak kapan mereka ada di lobi?”
“Mereka sudah berkumpul sejak pukul 6 pagi.”
“Mereka benar-benar mengganggu, tolong katakan pada petugas keamanan untuk mengusir para wartawan itu dan kalau mereka masih tidak mau pergi juga segera laporkan pada polisi.”
“Baik Tuan.”
Setelah itu sang sekretaris pun pergi dari ruangan kerja Ferdian, sementara selepas sang sekretaris pergi kini Ferdian melihat adanya sebuah acara Breaking News yang menampilkan wajah sang Gubernur yang sedang melakukan konfrensi pers pada wartawan dan beliau menampik semua tuduhan tersebut.
“Semua tidak benar, sekali lagi saya tegaskan bahwa semua ini tidak benar.”
__ADS_1
*****
Tania meminta laporan dari orang suruhannya mengenai perkembangan tentang siapa sebenarnya orang yang berusaha membunuhnya kala itu namun kata orang suruhannya mereka belum menemukan titik terang perihal hal
tersebut.
“Bagaimana bisa kalian belum mendapatkan titik terang mengenai siapa pelakunya?”
“Kami minta maaf Nyonya, namun kami janji pasti akan segera mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua ini.”
“Iya, aku menunggu kabar baik dari kalian, pokoknya cari tahu siapa orang itu dan segera berikan kabar padaku.”
“Kami mengerti Nyonya.”
TUT
Tania menghembuskan napasnya berat, selama siapa dalang di balik aksi teror itu membuat Tania jadi tidak tenang, beberapa kali ia merasa seperti ada seseorang yang tengah mengikuti dan mengawasinya dari jarak yang jauh.
“Tante Ester, mungkinkah dia?”
Saat Tania tengah memikirkan itu dan tidak lagi bisa fokus dengan pekerjaannya, ponselnya kembali berdering, kali ini tertera nama Minanti di sana, dengan segera Tania menjawab telepon dari wanita itu.
“Iya Nyonya?”
“Apakah aku mengganggumu?”
“Sama sekali tidak, apa yang membuat Nyonya menelponku saat ini?”
“Sebenarnya aku ingin memberikan sebuah informasi padamu.”
“Benarkah apa itu?”
****
menuju meja dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Minanti saat ini.
“Halo Tante.”
“Halo sayang, apa kabarmu?”
“Kabarku baik.”
“Bagaimana kalau kita memesan sesuatu dulu sebelum memulai berbincang?”
“Tentu saja.”
Minanti kemudian memanggil pelayan untuk menuju meja mereka, pelayan itu memberikan buku menu dan Minanti serta orang yang tidak lain adalah Stefani ini melihat daftar menu dalam buku tersebut, setelah memilih akhirnya mereka pun menyebutkan pesanan mereka, pelayan pun dengan sigap mencatat pesanan mereka dan meminta agar mereka menunggu sampai makanan tiba.
“Jadi ada apa Tante?”
“Ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan denganmu.”
“Soal apa?”
“Ini tentang Tania.”
“Tania? Kenapa Tante ingin membahas wanita itu denganku?”
“Karena Tante memiliki satu pertanyaan untukmu, Nak.”
__ADS_1
“Apa itu?”
“Apakah kamu yang merancang teror untuk Tania?”
“Tante ini bicara apa? Untuk apa aku harus melakukan itu?”
“Nak, bisakah kamu jujur pada Tante yang sebenarnya?”
“Tante, aku mengatakan yang sejujurnya, aku benar-benar tidak mengerti apa yang Tante bicarakan ini.”
“Kamu menyuruh dua orang itu untuk menculik Tania di hari itu, bukan?”
“Apa?”
****
Sementara itu selepas bertemu dengan Minanti, Stefani melajukan kendaraannya menuju kantor Tania, namun langkahnya dihadang oleh satpam yang berjaga di depan pintu.
“Kenapa kamu menghadangku?”
“Maaf, namun anda ini siapa? Dan anda memiliki kepentingan apa datang ke kantor ini?”
“Aku ingin bertemu dengan Tania.”
“Maaf, namun tidak sembarang orang dapat menemui beliau kecuali anda sudah membuat janji.”
“Kamu ini benar-benar, ya!”
“Silakan anda pergi sendiri sebelum saya melakukan tindakan paksa pada anda.”
“Berani sekali kamu mengancamku? Aku bisa menuntutmu dan membuatmu kehilangan pekerjaanmu!”
Nampak beberapa karyawan menatap ke arah Stefani dengan berbagai tatapan dan membuat wanita itu semakin berang.
“Kenapa kalian lihat-lihat aku?!”
Kericuhan pun tak dapat dihindarkan, Stefani masih saja memaksa masuk ke dalam kantor namun satpam tidak memberikan wanita itu untuk masuk sampai petugas keamanan lain pun turun tangan untuk mengusir Stefani dari kantor ini.
“Apa-apaan ini? Kalian berdua lepaskan aku!”
“Kami tidak memiliki pilihan, kami melakukan ini karena anda sudah keterlaluan!”
“Hentikan!”
Kedua satpam itu berhenti ketika mendengar suara seseorang, rupanya Tania telah berdiri di sana, wanita itu melangkahkan kakinya ke arah kedua satpam yang tengah memegangi Stefani.
“Ada apa ini?”
“Wanita ini membuat keributan maka dari itu kami mengusirnya.”
“Aku mengenalnya.”
“Kalian dengar? Lepaskan aku!”
“Ada apa kamu ke sini?”
“Aku datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Benarkah? Kalau begitu mari kita bicara di ruanganku.”
__ADS_1