
Saat ini Minanti mengatakan bahwa ia akan pulang ke rumahnya dan ia sudah mengajak Olaf untuk pulang bersamanya namun Olaf menolak dan mengatakan bahwa ia masih ingin berada di sini sebentar lagi sebelum ia
pulang.
“Baiklah, namun jangan lama-lama.”
“Tentu saja, aku akan tiba sebelum makan malam.”
Maka Minanti pun pergi dari apartemen Tania dan selepas Minanti pergi dari apartemen Tania, kini Olaf menceritakan yang terjadi dalam keluarganya kepada Tania.
“Belakangan ini papa dan mama sering bertengkar di rumah, walaupun mereka bertengkar di dalam kamar dan bersikap seolah tidak ada apa-apa ketika bertemu kami semua di luar kamar, namun aku sempat beberapa kali
mendengar mereka bertengkar di kamar dan masalah yang mereka bahas itu pun selalu sama.”
“Apakah masalah itu mengenai masa lalu mamamu dan papaku?”
“Iya, masalah itu.”
“Aku jadi tidak enak pada keluargamu.”
“Sudahlah Tania, kamu tak perlu merasa tidak enak begitu.”
“Namun sejujurnya, aku juga penasaran sebenarnya dan ….”
“Dan apa Tania?”
“Maaf kalau aku harus mengatakan ini padamu, namun aku merasa kalau mamamu menyembunyikan sesuatu dari kita semua.”
*****
Sementara itu Minanti baru saja tiba di rumah, namun ia sama sekali tidak berniat masuk ke dalam kamarnya karena ia tahu kalau Bram pasti masih ada di dalam, ia lebih memilih untuk duduk di sofa sambil membaca
majalah. Pintu kamar mereka terbuka dan menampakan sosok Bram di sana, sang suami pun berjalan menghampiri istrinya yang baru saja pulang.
“Kenapa kamu tidak langsung masuk ke kamar dan ganti baju?”
“Memangnya kenapa?”
“Apakah kamu menghindariku?”
“Kamu ini bicara apa? Sudahlah.”
Saat Minanti hendak masuk ke dalam kamar, Bram menahan tangan istrinya itu, ia meminta agar Minanti jujur saat ini namun Minanti tetap pada jawabannya bahwa ia tidak apa-apa.
“Kamu ini kenapa, sih?”
__ADS_1
“Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, semenjak masa lalumu dan Bima terbongkar, sikapmu menjadi aneh dan lagi belakangan ini kamu jadi sering pergi ke apartemen Tania.”
“Jadi kamu ingin menuduhku yang tidak-tidak lagi, berapa kali aku sudah mengatakannya padamu kalau aku dan Bima tidak ada hubungan apa-apa selain teman saja. Dan soal Tania, memangnya salah kalau aku selalu datang ke apartemennya? Dia tinggal sendiri di apartemen itu dan aku takut kalau ada orang jahat yang mencelakainya, aku tidak mau kejadian buruk kembali menimpanya.”
“Benarkah hanya itu?”
“Memangnya apa lagi menurutmu?”
*****
Olaf lagi-lagi merasakan sikap sang papa dan mama yang berbeda saat makan malam berlangsung, mereka melangsungkan makan malam tanpa Juan yang pergi entah ke mana, saat makan malam pun tidak banyak obrolan yang terjadi di meja makan. Setelah Felli selesai makan malam dan dia kembali ke kamarnya kini hanya ada mereka bertiga saja di meja makan dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Olaf untuk bertanya pada kedua orang tuanya.
“Apakah kalian bertengkar lagi?”
“Kamu ini bicara apa, Olaf?”
“Mama tidak perlu mengelak, pasti kalian berdua bertengkar lagi, kan?”
Mereka berdua tidak menjawab pertanyaan Olaf, dan Olaf pun sudah tahu sebenarnya jawaban mereka berdua, entah sampai kapan suasana rumah ini tidak kondusif seperti dulu lagi.
“Aku rindu kondisi rumah yang kondusif dan penuh cinta seperti dulu, sekarang di rumah ini banyak sekali masalah dan membuat rumah ini menjadi tidak nyaman.”
“Sudhalah Nak, lebih baik kamu segera habiskan makan malammu.”
“Nak, tolong kamu jangan terkejut setelah mendengar ucapan Papa ini.”
“Memangnya ada apa, Pa?”
“Sebenarnya mama kalian itu memiliki hubungan khusus dengan mendiang papanya Tania.”
“Apa maksud Papa?”
“Papa sudah menyelidikinya, dan akhirnya dari penyelidikan itu Papa mendapatkan kesimpulan bahwa di masa lalu mamamu dan papanya Tania memiliki hubungan.”
*****
Olaf jadi tidak bisa tidur karena terus menerus memikirkan ucapan papanya semalam, Bram mengatakan bahwa Minanti dan Bima memiliki hubungan khusus pada masa lalu mereka, dan Bram juga curiga bahwa Tania adalah buah cinta mereka berdua walaupun itu butuh penyelidikan lebih lanjut.
“Ya Tuhan, ini tidak mungkin, pasti apa yang papa katakan tidak benar.”
Olaf turun dari tempat tidur dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari namun ia belum juga dapat memejamkan matanya karena masih memikirkan perihal masalah keluarganya.
“Apakah benar yang papa bicarakan tadi? Apakah jangan-jangan Tania memang anaknya mama dan Om Bima?”
Olaf berusaha mengenyahkan pikiran itu dan ia pun menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh yang menerobos masuk ke dalam pikirannya malam ini.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak boleh berpikiran buruk dulu sebelum mendapatkan bukti yang kuat.”
Olaf memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil segelas air, ketika ia sudah sampai di dapur, ia melihat ada seseorang tengah duduk seorang diri di kursi dan Olaf mengenali orang itu sebagai mamanya.
“Kenapa Mama jam segini ada di sini?”
“Kamu sendiri apa yang kamu lakukan di sini?”
*****
Felli pergi menemui Ricky hari ini di café, ia seperti biasa akan duduk seharian mengamati Ricky bekerja melayani pelanggan yang silih berganti datang ke tempat ini. Karena terlalu sibuk memperhatikan Ricky yang melayani pelanggan maka Felli sampai tidak menyadari kalau bosnya Ricky alias temannya pemilik café ini duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Kamu sepertinya serius sekali memperhatikan pemuda itu.”
“Kamu ini bicara apa, sih?”
“Sudahlah Felli, kamu tidak perlu mengelak, kamu suka pada Ricky, ya?”
“Sembarangan kamu.”
“Aku dengar hubungan rumah tanggamu dengan Juan sedang tidak baik, ya?”
“Sepertinya rumor itu menyebar begitu cepat, ya.”
“Jadi itu benar?”
“Sebenarnya aku malas sekali harus membagi kisah itu padamu, namun… itu benar.”
“Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kalian? Padahal aku lihat sepertinya kalian berdua tidak ada masalah, bahkan ketika kalian masih berpacaran dulu, kalian merupakan pasangan yang romantis dan tidak pernah bertengkar hebat.”
“Iya, aku pikir selamanya kami juga tidak akan pernah bertengkar hebat seperti ini, namun aku begitu naif dan akhirnya aku sendiri juga yang terluka karena kenyataan.”
“Memangnya apa sih yang terjadi pada kalian berdua?”
“Maaf Nanda, aku tidak bisa menceritakan lebih detail padamu.”
“Baiklah, lantas soal hubunganmu dengan Ricky?”
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kami hanya berteman saja.”
“Benarkah? Namun kok aku merasa kalau kamu berharap lebih pada pemuda itu, sih?”
“Kamu mulai bicara yang aneh-aneh lagi.”
“Tidak, aku serius, katakan padaku, kamu suka padanya, kan?”
__ADS_1