
Stefani nampak tidak menyangka ketika melihat layar monitor di hadapannya yang memperlihatkan sosok yang tengah berdiri di depan pintu kamar apartemennya, sosok itu adalah Minanti, entah apa yang diinginkan
oleh wanita itu sampai-sampai ia mendatanginya saat ini.
“Aku tahu kalau kamu ada di dalam cepat buka pintunya.”
Maka Stefani pun segera membukakan pintu untuk Minanti, tanpa dipersilakan masuk nampak Minanti dengan sendirinya masuk ke dalam apartemen Stefani. Saat ini Stefani masih berdiri di tempatnya karena ia bingung dengan apa maksud dan tujuan Minanti mendatanginya saat ini.
“Kenapa kamu berdiri di sana saja? Aku ada di sini.”
Stefani kemudian pergi menghampiri Minanti dan duduk tidak jauh dari wanita tu saat ini, Minanti nampak memperhatikan Stefani dengan tatapan yang sulit untuk diartkan namun tatapan Minanti itu membuat Stefani
menjadi tidak nyaman.
“Apakah kamu puas saat ini karena sudah menghancurkan rumah tangga anakku?”
“Apa?”
“Tidak perlu berpura-pura polos kamu, aku sepertinya sudah salah menilaimu selama ini, aku pikir kamu adalah wanita yang baik namun ternyata aku salah, kamu ternyata iblis ular yang berusaha menjerat anak-anakku
jatuh ke dalam pelukanmu.”
****
Stefani nampak menghela napasnya kesal, tentu saja ia tidak terima dikata-katai begitu oleh Minanti, ia menampik bahwa dirinya yang menjerat Juan jatuh ke dalam pelukannya dan dia mengatakan bahwa Juan sendiri yang datang padanya dan mengatakan bahwa dia mencintainya.
“Begitukah?”
“Iya, saya mengatakan yang sejujurnya, kalau Tante tidak percaya maka Tante bisa tanyakan itu pada Juan.”
“Baiklah, apakah anak yang ada di dalam perutmu itu adalah anaknya Juan?”
“Tentu saja, dia adalah anaknya Juan, kenapa Tante tidak percaya?”
“Bukannya aku tidak percaya atau meragukan itu, namun aku tidak bisa percaya begitu saja padamu setelah apa yang kamu lakukan pada Olaf, dan sejujurnya aku jadi curiga padamu, jangan-jangan semua ini hanya sebuah tipu muslihatmu agar kamu dapat mendekati Olaf lagi.”
“Tante, bisakah Tante tidak perlu mengungkit masa lalu? Saat ini aku tidak seperti itu lagi, aku akan mencintai Juan dan anak ini, kami akan hidup bahagia selama-lamanya.”
“Bagus kalau begitu, buktikan padaku kalau ucapanku ini salah, karena sampai kapan pun mataku akan selalu mengawasimu, kalau ada sesuatu yang aku rasa tidak beres, maka jangan salahkan kalau aku akan bertindak tegas padamu.”
Setelah mengatakan itu Minanti kemudian pergi dari apartemen Stefani, wanita itu nampak tak percaya dengan apa yang baru saja Minanti katakan padanya.
“Apakah dia baru saja mengancamku?”
*****
Ricky sudah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter setelah melalui serangkaian pemeriksaan, tentu saja ia begitu senang karena Ricky sudah sangat bosan berada terlalu lama di rumah sakit. Felli nampak membantu Ricky
mengemasi barang-barangnya masuk ke dalam tas.
“Kamu sebenarnya tidak perlu repot-repot melakukan ini Felli.”
__ADS_1
“Sama sekali tidak merepotkan kok.”
Selama Ricky dirawat di rumah sakit, Felli selalu memberikan makan terhadap adik-adik Ricky bahkan tidak hanya sekedar makan tiga kali sehari namun ia juga memberikan uang jajan pada mereka, Ricky yang mendengar
itu tentu saja jadi merasa tidak enak pada Felli namun Felli mengatakan pada pemuda itu untuk merasa jangan sungkan padanya.
“Felli… soal apa yang aku katakan waktu itu….”
“Kenapa?”
“Lupakan saja.”
“Ngomong-ngomong ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
“Apa itu?”
“Aku dan Juan akan segera berpisah.”
“Apa?”
“Dia sudah mengirimiku surat cerai dan aku hanya perlu menandatanganinya segera.”
“Jadi kamu memilih untuk berpisah dengannya? Aku jadi merasa tidak enak padamu.”
“Kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku, toh juga kamu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.”
“Namun tetap saja, suamimu itu masih menuduhku kalau kita memiliki hubungan khusus?”
“Apa?”
*****
Felli baru saja tiba di rumahnya namun langkah kakinya terhenti ketika sang mama memanggilnya dan memintanya untuk berhenti sejenak karena ada sesuatu yang ingin dia katakan padanya.
“Felli, Mama ingin bicara denganmu.”
Felli nampak menghela napasnya panjang, sebelum ia melangkahkan kakinya pergi menghampiri sang mama yang sudah menunggunya di sofa.
“Ada apa, Ma?”
“Duduk.”
Felli kemudian menuruti apa perintah dari sang mama barusan, ia duduk di sofa yang tidak jauh dari sang mama dan bersiap mendengar apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh mamanya ini.
“Apakah benar Juan mengirimkan surat cerai padamu?”
“Iya, dia memang mengirimkan surat cerai itu lewat pengacaranya, ada apa memangnya?”
“Ada apa memangnya? Felli, rumah tanggamu dan Juan berantakan gara-gara pemuda itu! Dia itu pembawa masalah!”
“Ma, bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali bahwa dia tidak salah, Juan yang berselingkuh dengan wanita itu bahkan sampai wanita itu mengandung anaknya saat ini!”
__ADS_1
“Apa katamu?”
“Jadi Mama belum tahu kalau mereka sudah melakukan sampai sejauh itu?”
“Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka, apakah yang kamu katakan ini benar?”
“Tentu saja Ma, untuk apa aku berbohong?”
*****
Saat hari sudah malam dan Olaf baru saja pulang ke rumah, ia menemukan sang mama masih belum tidur dan tengah duduk di sofa ruang tengah, Olaf pun menghampiri Minanti dan menanyakan apa yang sedang Minanti
lakukan malam-malam begini.
“Ma, kenapa belum tidur jam segini?”
“Mama menunggumu.”
“Menungguku? Memangnya ada apa?”
“Apakah Juan tidak mengatakan apa pun padamu ketika kalian di kantor?”
“Tidak, dia tidak mengatakan apa pun, apakah dia membuat masalah lagi?”
“Dia sudah mengirimkan surat cerai pada Felli.”
“Apa?”
“Iya, Mama diberitahu dia tadi siang.”
“Lalu apakah Mama menyetujui kalau mereka bercerai?”
“Mama tidak bisa memaksa Juan untuk mempertahankan pernikahannya dengan Felli, hal tersebut justru membuat Felli merasa tersakiti.”
“Tapi Stefani itu ….”
“Mama tahu apa yang akan kamu katakan, kamu pikir dengan dia yang saat ini sedang mengandung anaknya Juan maka Mama akan lengah? Tidak Olaf, Mama tidak akan lengah, Mama akan mengawasi tindak-tanduk dia, kalau dia berulah maka Mama sendiri yang akan turun tangan membereskannya.”
“Ya Tuhan, semoga saja Stefani sudah berubah walaupun rasanya tidak mungkin.”
“Olaf, Mama berpesan padamu jangan sampai kamu terjebak dalam tipu muslihat wanita ular itu, ya?”
“Tentu saja, Ma. Mama tak perlu khawatir, aku tidak akan terpedaya seperti Juan.”
“Baguslah, kamu pasti lelah sekali setelah seharian ini bekerja, kan? Masuklah ke kamarmu dan istirahat.”
“Mama juga butuh istirahat, hari sudah sangat larut.”
“Mama mengerti, Nak, Mama juga mau tidur.”
“Kalau begitu selamat malam, Ma.”
__ADS_1
“Selamat malam juga, Nak.”