
Maka kini Olaf datang ke apartemen Tania untuk memenuhi undangan makan malam Tania, nampak wanita itu membukakan pintu dan mempersilakan Olaf untuk masuk ke dalam apartemennya.
“Kamu pasti lelah seharian ini,” ujar Tania ketika ia mempersiapkan makan malam mereka di meja makan.
“Kamu juga sama lelahnya denganku namun kamu masih memasak makan malam untuk kita, aku jadi tidak enak padamu,” ujar Olaf.
“Ini bukan hidangan yang sulit kok.”
“Tidak apa, semua masakanmu itu pasti enak dan aku suka.”
“Kamu ini bisa saja.”
“Aku serius Tania.”
“Sudahlah jangan banyak bicara, ayo kita makan.”
“Baiklah.”
Maka Tania dan Olaf pun duduk di kursi meja makan dan mulai menyantap hidangan makan malam yang sudah Tania buat untuk mereka, Olaf memuji masakan Tania yang rasanya lezat ini.
“Ini lezat sekali.”
“Kamu terlalu memuji Olaf.”
“Tidak Tania, aku serius, ini lezat sekali.”
“Kalau begitu habiskan, sepertinya kamu lapar sekali.”
“Iya, sejujurnya aku memang lapar, aku tidak makan apa pun sejak siang tadi.”
*****
Sesampainya di rumah, Juan terkejut ketika mendapatkan surat panggilan pemeriksaan oleh polisi, tentu saja ia sudah tahu siapa lagi yang melakukan ini padanya kalau bukan Ricky. Bagaimana bisa pria itu melakukan
ini padanya? Juan pun pergi mencari di mana keberadaan Felli, setelah menemukan wanita itu kini Juan meminta nomor ponsel Ricky padanya.
“Untuk apa kamu meminta nomor ponsel Ricky?”
“Berikan saja nomor ponselnya padaku!”
“Aku tidak dapat memberikan nomor ponsel seseorang sebelum mendapatkan izin darinya.”
“Kamu ini memang benar-benar ya! Jangan menguji kesabaranku Felli, berikan nomor ponsel pemuda itu sekarang!”
“Apakah ini berhubungan dengan surat panggilan dari polisi yang kamu terima?”
“Jadi kamu sudah tahu? Baguslah jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi, pemuda itu harus aku beri pelajaran, bagaimana bisa dia tetap melaporkanku ke polisi?”
“Tentu saja karena sikapmu sudah keterlaluan Juan, makanya dia memutuskan untuk melaporkanmu pada polisi.”
“Apa katamu? Sikapku yang keterlaluan?”
__ADS_1
“Kamu dan kakakmu saja, menuduh tanpa bukti maka Ricky akhirnya memutuskan untuk melaporkanmu pada polisi atas pemukulan yang kamu lakukan padanya tempo hari.”
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Minanti menghampiri Juan dan Felli yang tengah ribut.
“Ma, tolong aku, Felli tidak mau memberikan nomor ponsel pemuda kurang ajar itu,” ujar Juan.
“Aku tidak mau memberikan nomor ponselnya karena dia pasti akan mengancam Ricky yang tidak-tidak karena dia sudah melaporkan Juan ke polisi atas tindakan pemukulan itu,” ujar Felli membela diri.
*****
Selepas makan malam, Olaf dan Tania duduk bersisian di sofa ruang tengah apartemen, Olaf menceritakan harinya yang berat hari ini karena harga saham mereka turun akibat pemberitaan itu, belum lagi adanya tekanan dari dewan direksi perusahaan yang menginginkan Olaf segera mengambil tindakan untuk menstabilkan kembali perusahaan.
“Kamu tahu sendiri bahwa hal ini akan berpengaruh pada kepercayaan investor pada perusahaan kami.”
“Aku mengerti, aku harap masalah ini bisa segera selesai.”
“Terima kasih.”
“Tidak masalah, kamu nampak lelah Olaf.”
“Iya aku lelah sekali, bolehkah aku menumpang tidur di apartemenmu?”
“Asal kamu tidak melakukan hal yang bukan-bukan padaku.”
“Aku bukan Ferdian yang akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu.”
“Ngomong-ngomong soal Ferdian… dia jadi nampak lebih kurus dan tidak merawat dirinya dengan baik jelang putusan dia bersalah atau tidak dalam sidang pra peradilan.”
“Kenapa kamu membicarakan pria itu? Apakah kamu mencintainya?”
“Lantas bagaimana proses perceraianmu dengan Ferdian?’
“Tidak lama lagi kami akan resmi berpisah.”
“Aku senang mendengarnya, aku ingin sekali segera menikah denganmu, Tania.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, apakah kamu tidak mau menikah denganku?”
“Tentu saja aku mau.”
*****
Tania terkejut ketika ia membukakan pintu kamar apartemennya saat ini muncul sosok Minanti di sana, Tania kemudian mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam.
“Nyonya, kenapa anda datang pagi-pagi ke sini?”
“Tidak apa, aku hanya rindu padamu dan ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja.”
“Seperti yang Nyonya lihat, aku baik-baik saja.”
__ADS_1
“Syukurlah kalau begitu, sudah aku duga kalau dia bermalam di sini.”
Minanti melirik pada Olaf yang tertidur di sofa ruang tengah, semalam memang Olaf tidak pulang ke rumah dan Minanti yakin kalau anaknya itu pasti ada di sini.
“Apakah semalam dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak padamu?”
“Tidak Nyonya, kami tidur di ruangan yang terpisah, dia tidak melakukan apa pun padaku.”
“Syukurlah kalau begitu, aku pikir dia akan melakukan sesuatu hal yang buruk padamu.”
Olaf membuka matanya perlahan dan mengucek kedua matanya yang masih terasa berat, ia melihat sang mama sedang mengobrol dengan Tania tidak jauh darinya.
“Mama kenapa ke sini?” tanya pria itu yang masih mengantuk.
“Tentu saja Mama mencarimu, kenapa semalam tidak pulang ke rumah dan malah bermalam di sini?” tanya Minanti.
“Maaf, semalam aku lelah sekali dan tidak dapat mengemudi, jadinya aku memilih menginap di sini,” jawab Olaf.
*****
Bram mendapatkan informasi mengenai masa lalu istrinya dengan mendiang Bima, dari laporan itu membuat Bram bisa menyimpulkan bahwa memang Minanti dan Bima memiliki hubungan di masa lalu, kali ini Minanti pasti
tidak akan dapat mengelak lagi kalau dia memiliki hubungan spesial dengan Bima dan ketika Bram membaca lembar berikutnya dari laporan tersebut membuat dirinya terkejut bukan main.
“Apa ini? Apakah ini serius?”
Bram nampak menggelengkan kepalanya, ia harus mencari tahu sendiri kebenarannya, kini Bram pun pergi menuju apartemen Tania, ia tahu bahwa istri dan anaknya sedang ada di sana dan ini adalah kesempatan yang baik agar Minanti mau mengakui bahwa dirinya memiliki hubungan dengan mendiang Bima di masa lalu.
“Minanti, mau sampai kapan kamu akan menutupi semua ini?”
Akhirnya Bram pun tiba di apartemen Tania, ia sengaja tidak menelpon terlebih dahulu agar kedatangannya menjadi kejutan tidak terduga untuk mereka, kini Bram sudah berdiri di depan pintu kamar apartemen Tania, ia menekan bel dan tidak lama kemudian Tania membukakan pintu untuknya.
“Tuan?”
“Apa kabar Tania?”
“Kabar saya baik, silakan masuk.”
Maka Bram pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen, ia melihat sepasang sepatu milik Minanti dan Olaf di rak, Tania nampak gelisah dan bertanya-tanya apa sebenarnya maksud dan tujuan Bram datang ke apartemennya di kala Minanti dan Olaf ada di sini.
“Bram?”
“Papa?”
Nampak Minanti dan Olaf pun terkejut dengan kedatangan Bram yang tak terduga ini.
“Kenapa kamu datang ke sini?”
“Karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua.”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Tania kamu harus tahu kebenaran mengenai masa lalu papamu.”
“Bram!”