Berkah Cinta

Berkah Cinta
Memaksa Mengaku


__ADS_3

Jihan nampak misuh-misuh ketika tiba di rumah, ia benar-benar kesal karena Olaf malah pergi begitu saja padahal ia sudah bersusah payah dandan seperti ini, namun Jihan tentu saja bertekad tidak akan menyerah begitu saja walaupun pria itu nampak tidak tertarik dengannya, ia akan buat Olaf tergila-gila padanya.


“Jihan!”


Jihan menghela napasnya panjang, jelas sekali ia tahu siapa pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan Ester, wanita itu menghampiri Jihan dan sepertinya Ester sedang marah saat ini.


“Kenapa lagi, Ma?”


“Kenapa kamu tidak mengaktifkan ponselmu?”


“Apakah itu penting?”


“Iya karena tadi Ferdian datang ke sini dan dia ingin mengajakku makan siang.”


“Begitu rupanya.”


“Namun ada satu hal yang membuat Mama jengkel, dia sepertinya tertarik pada Tania.”


“Apa? Apakah Mama bercanda?”


“Tidak sayang, tadi ketika dia datang ke sini dan kebetulan ada Tania, ia menatap lama sekali pada gadis ini, Mama yakin kalau dia pasti tertarik pada Tania.”


“Itu sungguh tidak masuk akal, bagaimana mungkin dia tertarik pada Tania padahal...”


“Padahal apa?”


“Padahal Tania itu adalah pembantu di rumah ini.”


“Itu dia yang Mama tidak habis pikir, gadis itu benar-benar.”


****


Di ruangan kerjanya Olaf menatap layar ponselnya, ia nampak ragu apakah ia harus menghubungi Tania saat ini atau tidak, namun setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya pria itu mau juga untuk menghubungi Tania, namun ada hal yang aneh yaitu nomor telepon Tania tidak aktif saat ini.


“Kok nomornya tidak aktif, ya?”


Olaf kembali mencoba untuk menghubungi nomor itu namun tetap saja nomor tersebut tidak aktif, pria itu menghembuskan napasnya kesal, ia merasa ada sesuatu kekhawatiran berlebih pada gadis itu, namun kalau ia


pikir lagi, untuk apa ia harus memikirkan gadis yang bahkan belum sampai satu minggu dikenalnya itu.


“Untuk apa juga aku harus memikirkannya?”


Olaf melirik ke arah ponselnya yang berdering saat ini, tertera nama sang mama di sana, pria itu nampak menghela napasnya panjang sebelum akhirnya meraih ponsel itu dan menjawab panggilan dari sang mama.


“Halo Ma, ada apa?”


“Nak, nanti malam bisakah kamu datang ke suatu tempat?”


“Apakah Mama sedang berusaha menjodohkanku lagi dengan seseorang?”


“Sudahlah Olaf, kamu tak perlu banyak tanya, lakukan saja apa yang Mama minta, ya?”


“Aku sibuk dan mungkin akan lembur, sepertinya aku tidak bisa datang ke sana.”

__ADS_1


“Jangan mencari-cari alasan, Mama tahu kalau kamu sedang berbohong.”


Pria itu menghela napasnya panjang, dan sang mama kembali mengingatkan supaya Olaf mau datang ke tempat yang akan dikirimkan alamatnya oleh sang mama nanti.


*****


Keesokan harinya Jihan menemui Ferdian, ia ingin bertanya secara langsung pada pria itu apakah yang dikatakan oleh Ester itu benar, namun Ferdian menampik itu semua, ia mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada Tania.


“Apakah mamamu mengatakan itu? Sungguh menggelikan.”


“Nah, aku pun tak percaya, lagi pula kamu sudah punya pacar, untuk apa juga melirik pada wanita lain, bukan?”


“Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah berhasil membujuk mamamu untuk membatalkan acara pertunangan kita?”


“Sudah, aku bahkan sudah berulang kali mencoba, namun kamu tahu sendiri betapa keras kepalanya dia, jika dia menginginkan sesuatu maka itu harus terjadi.”


“Begitu rupanya.”


“Kamu sendiri?”


“Kurang lebih begitu.”


“Lantas apakah kamu sudah memberitahu pacarmu bahwa kamu hendak dijodohkan denganku?”


“Tentu saja tidak, apakah kamu sudah tidak waras? Aku mencintainya dan mana tega aku mengatakan hal tersebut?”


“Namun kalau kedua orang tua kita terus menerus menginginkan kita bertunangan maka apa yang dapat kita lakukan untuk membatalkan semua itu?”


“Sepertinya kamu sama sekali tidak berniat menghentikan pertunangan ini, atau justru kamu sudah mulai tertarik padaku, ya?”


“Percaya diri sekali kamu bisa mengatakan itu, asal kamu tahu saja, aku sama sekali tidak tertarik padamu.”


*****


Tania yang sedang membersihkan halaman rumah terkejut ketika Ester mendatanginya, entah ada masalah apa lagi dengan wanita ini sampai-sampai wanita ini harus menghampirinya begini.


“Ada apa Nyonya?”


“Aku peringatkan kamu untuk menjaga sikapmu.”


“Maaf?”


“Kamu pikir dengan menggoda Ferdian kamu bisa menentangku? Jangan mimpi kamu!”


“Saya tidak mengerti apa yang Nyonya katakan ini.”


“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu sok polos begitu di depanku, hal tersebut justru membuatku semakin muak padamu.”


Setelah mengatakan itu pada Tania, Ester langsung pergi begitu saja meninggalkan Tania, gadis itu menggelengkan kepalanya, ia benar-benar heran dengan sikap Ester yang begitu memusuhinya sampai seperti ini.


“Akhirnya selesai juga,” ujar Tania.


Tania akhirnya selesai juga membersihkan halaman rumah, ia pun masuk ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya yang lain, ketika melewati halaman belakang rumah, ia melihat Ester tengah menelpon

__ADS_1


seseorang, awalnya ia tidak mau menguping pembicaraan Ester itu namun ketika nama Handi disebut-sebut oleh Ester, Tania terkejut dan ia menajamkan pendengarannya apa yang saat ini tengah dibicarakan oleh Ester.


“Pokoknya aku mau kamu segera singkirkan Handi seperti kamu menyingkirkan Bima dan Hanum saat itu.”


.....


“Aku tak peduli, aku sudah muak dengan pria itu, aku akan mengambil alih kekayaan Pratama Group dan semua aset yang mereka miliki.”


.....


“Lakukan saja tugasmu, polisi tidak akan mengusut kasus ini sampai tuntas kamu tenang saja, ok?”


TUT


Tania nampak tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, ia harus memperingatkan Handi tentang potensi ancaman dari Ester itu dan yang lebih membuatnya terkejut adalah rupanya Ester memang dalang di balik kematian kedua orang tuanya.


“Bagaimana mungkin?”


Tania kemudian mencoba menelpon Handi lewat telepon rumah karena ponselnya sedang dalam perbaikan saat ini, ia berharap agar Handi mau menjawab telepon darinya saat ini dan sepertinya doanya pada Tuhan terkabul


karena Handi mau menerima telepon darinya.


“Halo?”


“Halo Om.”


“Tania? Kenapa kamu menelpon?”


“Anu Om sebenarnya....”


“Ada apa Tania? Katakan saja padaku, apa yang terjadi saat ini?”


“Sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini, namun aku harus mengatakannya.”


“Kamu katakan saja ada apa sekarang, Om akan mendengarkannya.”


“Sebenarnya tadi... aku tidak sengaja mendengar obrolan Nyonya Ester.”


“Kenapa dengan wanita itu?”


“Om, sebenarnya... sebenarnya ....”


Tiba-tiba saja Ester merampas telepon Tania dan mendorong gadis itu hingga jatuh ke lantai, Ester nampak geram dan ia sudah menduga bahwa Tania menguping pembicaraannya sejak tadi.


“Aku sudah menaruh curiga yang besar padamu dan rupanya kecurigaanku selama ini benar, kamu rupanya selama ini menguping pembicaraanku, ya?!”


“Tidak Nyonya.”


“Tidak? Beraninya kamu masih mengelak!” geram Ester.


“Ampun Nyonya.”


“Sekarang katakan padaku, apa saja yang sudah kamu dengar selama ini!”

__ADS_1


__ADS_2