Berkah Cinta

Berkah Cinta
Biar Saja Mereka Tahu


__ADS_3

Tania akhirnya tiba di ruangan inap Juan di mana di ruangan itu terdapat Minanti, Olaf dan juga Bram, Tania pun kemudian berjalan menghampiri tempat tidur di mana saat ini Juan tengah tertidur.


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Tania.


“Kami tidak tahu, tadi Stefani menelpon bahwa Juan tak sadarkan diri dan ia dibawa ke rumah sakit ini,” jawab Minanti.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya, ya?”


Mereka sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya Tania mengajak Olaf untuk bicara di luar ruangan inap agar tidak didengar oleh Minanti dan Bram, kini mereka berdua sudah berada di luar ruangan inap Juan dan Olaf bertanya kenapa Tania mengajaknya untuk keluar dari ruangan itu.


“Tadi aku bertemu dengan Stefani di bawah.”


“Benarkah? Apakah dia melukaimu?”


“Tidak, dia sama sekali tidak melukaiku hanya saja….”


“Hanya saja apa?”


“Apakah kamu tidak curiga padanya? Maksudku… bisa saja dia melakukan hal yang buruk pada Juan, kan?”


“Sejujurnya aku juga curiga bahwa Stefani adalah dalang di balik semua ini, namun untuk saat ini kita belum memiliki bukti untuk menjerat wanita itu.”


*****


Stefani kembali ke ruangan inap Juan namun ia melihat Olaf dan Tania sedang berbicara di luar ruangan inap, seketika ia pun jadi penasaran apa yang tengah mereka bicarakan, baru saja ia hendak bersembunyi untuk


menguping pembicaraan mereka, Olaf dan Tania sudah mengetahui keberadaannya hingga mau tidak mau akhirnya Stefani tidak jadi bersembunyi karena sudah ketahuan bahwa dia akan menguping pembicaraan mereka berdua.


“Apakah kamu tidak memiliki pekerjaan selain menguping pembicaraan orang lain?” tanya Tania.


“Diam kamu!” seru Stefani kesal.


“Jangan berteriak padanya,” ujar Olaf.


“Olaf, sepertinya kamu sudah dibutakan oleh wanita ini, apakah menurutmu Tania itu wanita baik-baik? Ya Tuhan, kamu pasti bercanda,” ujar Stefani.


“Dia jauh lebih baik darimu, dan asal kamu tahu saja bahwa aku tidak mungkin sembarang jatuh cinta pada orang lain, apalagi jatuh cinta pada wanita licik sepertimu,” ujar Olaf.


“Olaf aku ….”


“Sudahlah, aku tidak mau mendengar apa pun yang keluar dari mulutmu, mau apa kamu datang ke sini?”


“Tentu saja aku ingin menjenguk Juan, anak dalam perutku ini merindukan papanya, jadi aku bawa dia ke sini.”

__ADS_1


“Menggelikan sekali,” ujar Tania.


“Kenapa? Apakah kamu iri karena aku sedang hamil sementara kamu sudah kehilangan anakmu?”


“Stefani jaga bicaramu!” seru Olaf.


“Kenapa sih? Memangnya aku salah? Aku kan hanya bertanya padanya,” ujar Stefani kesal.


“Sudahlah, lebih baik kamu pergi saja, jangan buat keributan di rumah sakit ini,” ujar Olaf.


“Kenapa kamu malah mengusirku? Harusnya kamu mengusir wanita ini,” ujar Stefani menunjuk Tania.


*****


Maka keributan pun tidak dapat terlekan, satpam yang berjaga di sana segera Olaf panggil untuk membawa Stefani pergi dari rumah sakit ini.


“Pak, dia ini selalu saja membuat keributan tolong jangan sampai wanita ini mengacau di rumah sakit,” ujar Olaf.


“Apa katamu? Aku pengacau? Olaf, kenapa kamu tega sekali! Aku ini bukan pengacau namun wanita itu yang pengacau!” seru Stefani menunjuk Tania.


“Sudahlah Pak, jangan dengarkan wanita itu, dia memang sedikit tidak waras,” ujar Olaf.


“Berani sekali kamu mengatakan itu padaku, Olaf!”


Satpam pun membawa Stefani pergi dari rumah sakit walaupun Stefani berusaha meronta dan melepaskan dirinya, setelah Stefani dibawa pergi oleh satpam, Minanti keluar dari ruangan inap dan bertanya apa yang terjadi barusan.


“Ya Tuhan, wanita itu sudah tahu ini rumah sakit masih saja juga membuat masalah,” ujar Minanti menggelengkan kepalanya.


*****


Stefani digiring pergi dari rumah sakit ini oleh satpam itu, sementara wanita itu masih saja berusaha untuk kembali masuk ke dalam dan tentu saja hal tersebut sia-sia saja.


“Biarkan aku masuk ke dalam! Suamiku sedang dirawat di sana, kalian tidak bisa melakukan ini padaku!” seru Stefani.


“Kami terpaksa harus melakukan ini karena anda telah mengacau!”


“Apa katamu?! Aku akan melaporkanmu pada polisi agar kamu tahu siapa yang kamu hadapi saat ini!”


Nampak Felli dan mamanya hendak masuk ke dalam rumah sakit dan melihat pertengakaran yang terjadi antara Stefani dan satpam itu, mamanya Felli nampak penasaran siapa wanita yang berteriak-teriak pada satpam


itu.


“Dia adalah orang yang merusak rumah tanggaku.”

__ADS_1


“Apa?! Jadi dia orangnya?!”


Stefani yang melihat Felli kembali di sana, tentu saja berang, ia langsung menghampiri Felli dan hendak memukulnya namun tentu saja sang mama menghadang Stefani melakukan kekerasan pada putrinya.


“Siapa kamu berani-beraninya hendak melakukan kekerasan pada anakku?!”


“Oh jadi anda adalah ibu dari wanita ini, tolong beri tahu wanita ini agar tidak usah mencari perhatian dengan mantan suaminya karena hal itu tidak akan pernah berhasil!”


“Hei, kamu itu wanita tidak tahu diri, kamu menggoda suami anakku hingga dia ingin menceraikannya namun kamu malah menyalahkan anakku?! Ya Tuhan, bagaimana bisa wanita tidak waras ini dicintai oleh menantuku?”


“Apa katamu?!”


Hampir saja kembali terjadi keributan namun untung saja satpam yang berjaga di sana dengan sigap melerai sebelum keributan menjadi semakin besar.


*****


Tania berpamitan pada Olaf, Minanti dan Bram karena ia harus kembali ke apartemennya, Olaf mengantarkan Tania sampai ke bawah, ketika mereka tengah menunggu lift, dengan sengaja Olaf menggandeng tangan Tania hingga membuat wanita itu melirik ke arahnya.


“Kenapa?”


“Ini tempat umum, kenapa menggandeng tanganku seperti orang yang hendak menyebrang jalan saja?”


“Memangnya aku tidak boleh menunjukan rasa cintaku pada wanita yang aku cintai?”


“Sejak kapan kamu berubah menjadi menggelikan seperti ini Olaf?”


Obrolan mereka terhenti ketika pintu lift terbuka dan menampakan sosok Felli dan mamanya, seketika Olaf melepaskan genggaman tangannya dari tangan Tania tadi namun tentu saja semua itu sudah terlambat karena mereka berdua sudah melihatnya.


“Hai,” sapa Olaf ramah.


“Kamu mau pergi ke mana?” tanya mamanya Felli.


“Aku ingin mengantarkan kekasihku ke bawah, dia mau pulang,” jawab Olaf tanpa malu.


“Begitu rupanya, apakah di sana ada orang tuamu?”


“Iya, mereka ada di sana, kamarnya ada di ujung sana.”


“Baiklah, terima kasih.”


Kini Olaf dan Tania masuk ke dalam lift dan ketika pintu lift sudah tertutup, Tania mencubit pinggang Olaf dengan keras hingga membuat Olaf mengaduh dengan apa yang Tania lakukan barusan.


“Kenapa kamu mencubitku, sih?”

__ADS_1


“Kamu ini memang benar-benar ya, bagaimana bisa se-frontal itu bicara di depan Felli dan mamanya?”


“Memangnya kenapa? Biarkan saja mereka tahu soal hubungan kita.”


__ADS_2