Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Terkejut


__ADS_3

Jihan nampak terkejut sekaligus heran kenapa pria ini malah memberitahunya hal-hal konyol seperti itu, Jihan mengatakan bahwa ia tidak memiliki waktu untuk membicarakan masalah itu namun Ferdian melanjutkan kata-katanya.


“Mamaku sudah tahu hubunganku dengan dia dan dia memaksanya untuk kami putus, dia sekarang sangat ingin agar kita menjadi dekat.”


“Itu bukan urusanku, itu urusanmu.”


“Jihan, tidak bisakah kamu bekerja sama denganku?”


“Apa maksudmu? Bekerja sama?”


“Iya, kita bekerja sama, maksudku begini kita berpura-pura baik di depan kedua orang tua kita dan kalau tidak ada orang tua kita maka kita akan bersikap apa adanya saja seperti ini.


“Lalu kalau aku menuruti skenariomu itu, bukankah justru itu malah makin membuat masalah menjadi runyam? Kalau orang tua kita melihat kita baik-baik saja, maka mereka akan makin mendorong kita ke arah pernikahan?”


“Lalu apa masalahnya?”


“Ferdian! Apakah kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan?!”


“Aku sadar, aku tidak masalah menikah denganmu, toh kita sudah sama-sama jujur di awal bahwa tidak ada yang saling mencintai di antara kita jadi aku rasa itu tidak masalah, tidak ada satu pun dari kita yang akan tersakiti dengan keputusan ini.”


*****


Walau berat, akhirnya Jihan harus menerima rencana Ferdian itu, lagi pula kalau ia pikirkan tidak selamanya ia dan Ferdian harus bersikap manis dan mesra, hanya saat-saat tertentu saja mereka harus melakukan hal menyebalkan itu. Kini Jihan dan Ferdian masuk ke dalam rumah dan mengobrol dengan Ester, Ferdian mengatakan bahwa saat ini ia hendak membawa Jihan pergi ke luar dan tentu saja Ester mengizinkan pria itu membawa Jihan keluar


bersamanya.


“Tentu saja sayang, kamu boleh membawanya keluar, nikmati hari kalian, ya?”


“Aku mau siap-siap dulu,” ujar Jihan pergi ke kamarnya.


Sembari menunggu Jihan berganti pakaian kini Ferdian dan Ester mengobrol banyak hal, diam-diam pria itu melirik ke arah Tania yang sedang membersihkan perabotan rumah tangga di belakang Ester. Ester yang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada Ferdian pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.


“Apa yang sedang kamu lihat saat ini?”


“Apa? Tidak ada kok Tante,” ujar Ferdian berkilah.


“Apa? Benarkah?”


“Iya Tante, sepertinya saya harus pergi dulu saat ini

__ADS_1


karena Jihan sudah siap.”


Jihan memang sudah siap dan menunggu Ferdian menyelesaikan obrolannya dengan Ester, setelah itu mereka berdua pun berpamitan pada Ester dan segera pergi, selepas mereka berdua pergi kini Ester melirik ke arah belakangnya dan menemukan Tania yang sedang membersihkan perabotan rumah tangga.


“Tidak mungkin,” lirih Ester.


****


Handi berada di sebuah taman pemakaman umum lebih tepatnya di pemakaman Bima dan Hanum, ia bersimpuh di samping makam keduanya dan tidak kuasa untuk membendung air matanya, ia meminta maaf pada Bima dan


Hanum karena sudah membuat Tania menderita dan sama sekali tidak menjaganya selama ini karena ia terlalu takut pada Ester.


“Kak, aku minta maaf, aku minta maaf karena selama ini telah membuat Tania menderita,” isak Handi.


Bayangan masa kecilnya dengan Bima berkelibat dalam benaknya, semua kebaikan Bima yang tulus ia anggap sebagai cari perhatian karena mendiang kedua orang tua mereka selalu saja membangga-banggakan Bima


hingga akhirnya Handi menjadi cemburu dan menyimpan dendam pada kakaknya itu yang lebih bersinar darinya, namun kini Handi sadar bahwa hal tersebut tidaklah seharusnya ia lakukan, mendendam pada kakaknya adalah perbuatan yang salah, Bima adalah orang yang baik dan tidak seharusnya ia cemburu pada Bima yang sudah terlalu banyak membantunya selama ini.


“Namun aku janji padamu Kak, mulai saat ini Tania akan aman bersamaku, aku akan melindunginya dari siapa pun termasuk Ester, jadi kamu dan Kak Hanum beristirahatlah dengan tenang,” lirih Handi setelah ia puas menumpahkan semua kesedihannya di makam Bima dan Hanum.


****


namun sayang hati Ferdian tidak terpaut pada wanita ini.


“Apakah aku begitu tampan sampai kamu harus melirikku seperti itu?”


“Maaf, apa yang kamu bilang tadi?”


“Oh sudahlah Jihan, kamu tidak perlu malu mengakuinya, aku tahu kalau aku ini tampan.”


“Dasar percaya diri, aku tidak melirik ke arahmu namun orang yang ada di belakangmu.”


“Di belakangku?”


Ferdian menolehkan kepalanya ke arah yang dimaksud oleh Jihan dan ia menemukan seorang pria yang sedang makan seorang diri di meja di belakang mereka, kini Ferdian kembali menatap Jihan.


“Kenapa dengan pria itu?”


“Kenapa? Aku mencintai dia,” bisik Jihan.

__ADS_1


“Benarkah?!” ujar Ferdian terkejut hingga tanpa ia sadari suaranya agak besar dan membuat semua orang yang sedang makan siang di restoran itu melirik heran ke arah mereka berdua.


“Apakah kamu sudah tidak waras?!” seru Jihan kesal.


“Aku minta maaf, namun apakah benar dia orangnya?”


“Iya, namun sayangnya dia jual mahal padaku.”


“Mungkin sebaiknya kamu relakan saja dia, mengejar cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan.”


“Sepertinya kamu pakar sekali dalam bidang ini, ya?”


*****


Akhirnya Ferdian mengantarkan Jihan untuk kembali ke rumahnya namun Jihan menolak dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin langsung pulang ke rumah, ia bosan jika harus dikurung di dalam rumah bersama dengan


Ester seharian penuh.


“Kenapa kamu tidak mencoba memulai bisnis atau lain sebagainya?”


“Aku tidak tertarik dengan dunia seperti itu, lagi pula calon suamiku itu pasti sudah dapat menghidupiku sampai aku menutup mata.”


“Bukankah aku calon suamimu?”


“Apa maksudmu?”


“Aku bercanda, namun aku serius soal yang tadi, aku tidak ingin kamu berharap lebih padanya karena itu hanya akan menyakitimu.”


“Sudahlah Ferdian, kamu hanya belum tahu seperti apa kekuatan Jihan yang sebenarnya, aku akan pastikan dia akan menjadi milikku.”


“Terserah kamu sajalah, namun aku sudah memperingatkanmu agar tidak sakit di akhir.”


Jihan meminta Ferdian menurunkannya di mall saja, Jihan bilang nanti dia akan pulang dengan menumpang taksi dan Ferdian pun melakukan seperti yang dikatakan oleh Jihan. Jihan masuk ke dalam mall dan hanya sekedar berjalan-jalan saja tanpa ada niat untuk membeli sesuatu hingga akhirnya seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


“Jihan?”


Jihan terkejut dengan suara itu, jelas sekali ia mengenali suara itu dan benar saja ketika ia berbalik badan dan menemukan sosok orang yang memanggilnya tadi, wajahnya berubah.


“Kenapa kamu ada di sini?”

__ADS_1


__ADS_2