Berkah Cinta

Berkah Cinta
Saya Tidak Menuduh


__ADS_3

Ester keesokan harinya berkunjung ke penjara, Jihan tentu saja menolak untuk bertemu dengan Ester, namun karena petugas terus membujuknya maka mau tidak mau Jihan harus bertemu dengan Ester. Ester nampak


tersenyum padanya saat ini namun Jihan sama sekali tidak tersenyum pada sang mama, ia bahkan mengatakan bahwa sebaiknya Ester segera memberitahu apa maksud dan tujuannya datang ke sini.


“Lebih baik Mama segera katakan apa maksud dan tujuan Mama datang ke sini.”


“Nak, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bersikap seperti ini pada Mama?”


“Ma, bisakah tidak perlu berbasa-basi dan langsung masuk pada intinya saja?”


“Kenapa sikapmu bisa berubah setelah dipenjara, Nak? Apakah mereka memperlakukanmu dengan buruk selama kamu ada di sini?”


“Kalau memang tidak ada satu pun hal penting yang ingin Mama katakan padaku, maka sebaiknya aku pergi saja.”


“Baiklah, Mama datang ke sini untuk memberitahumu sesuatu.”


“Apa itu?”


“Kamu akan segera bebas, Jihan. Mama sudah mengatur semuanya agar saat sidang pra peradilan digelar, hakim akan menyatakan kamu tidak bersalah dan kamu akan bebas.”


“Bukankah aku sudah mengatakan pada Mama untuk tidak perlu ikut campur dalam urusanku?!”


“Jihan, Mama hanya ingin yang terbaik untukmu.”


****


Tania menghela napasnya berat, ia masih memikirkan apa yang kemarin dikatakan oleh Olaf padanya, pria itu mengatakan bahwa Tania tidak boleh melanjutkan hubungannya dengan Ferdian karena pria itu bukanlah pria


baik-baik. Sebenarnya Tania ingin mengatakan pada Olaf bahwa ia sudah tahu bahwa pria itu bukanlah pria yang baik, namun ia harus menyelesaikan misi yang sudah ia dan Minanti buat sebelum pergi meninggalkan Ferdian. Tania sepertinya butuh saran saat ini, ia meraih ponselnya dan menghubungi Minanti dan mengajak wanita itu untuk bertemu, Minanti setuju untuk bertemu saat ini dan ia pun mengirimkan sebuah lokasi untuk mereka bertemu. Lokasi yang dikirimkan oleh Minanti adalah sebuah restoran, Tania sudah tiba di tempat itu dan saat ini


tengah menunggu Minanti datang. Tidak lama kemudian akhirnya Minanti pun datang dan wanita itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Tania saat ini.


“Apakah kamu sudah menunggu lama?”


“Belum, Nyonya.”


“Kalau begitu, apa yang ingin kamu katakan padaku?”


“Sebenarnya….”

__ADS_1


“Ada apa Tania?”


Tania pun menceritakan apa yang terjadi kemarin, ia merasa bahwa saat ini mereka sudah tidak perlu lagi melibatkan Ferdian untuk rencana yang sudah mereka susun karena Jihan pun sudah masuk penjara dan ia


sadar akan kesalahannya di masa lalu. Minanti mengerti apa yang ingin Tania katakan, ia pun mengatakan kalau Tania ingin pergi dari Ferdian maka ia pun dapat melakukan itu.


“Namun rasanya itu bukanlah perkara yang mudah, Nyonya.”


****


Ester mendatangi sebuah rumah kontrakan yang ada di kawasan kumuh kota, ia menunggu beberapa saat hingga si pemilik rumah itu datang, Galang nampak heran ketika menemukan Ester berdiri di depan rumah kontrakannya, Galang membuka helm yang tadi ia kenakan dan turun dari sepeda motor yang tadi ia tumpangi kemudian berjalan ke arah Ester.


“Apa yang anda inginkan?”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Baiklah, silakan masuk.”


Galang membukakan pintu untuk Ester dan mereka berdua pun masuk ke dalam rumah itu, Ester nampak jijik dengan tempat tinggal Galang, beberapa kali ia memasang raut wajah jijiknya ketika melihat betapa kotornya


tempat yang ditempati oleh Galang.


“Apakah kamu tinggal di tempat menjijikan seperti ini?” tanya Ester.


“Anda datang ke sini hanya untuk menghina tempat tinggal saya?”


Ester kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan amplop putih itu pada Galang, pria itu nampak heran kenapa Ester menyodorkan amplop itu padanya.


“Kenapa hanya diam saja? Ambil amplop ini.”


“Kenapa saya harus mengambil amplop ini?”


“Sudahlah, jangan banyak tanya! Ambil saja ini dan setelah ini jangan pernah coba kamu temui anakku lagi!” seru Ester meraih tangan Galang dan memaksa pria itu menerima amplop berisi uang itu.


****


Minanti mengerti kekhawatiran Tania, dan Minanti mengatakan bahwa ia akan turun tangan untuk membantu Tania jika memang dibutuhkan, Tania merasa bersyukur karena Minanti bersedia untuk membantunya, namun sejujurnya ia juga merasa tidak enak pada wanita ini karena ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan Minanti selama ini.


“Saya juga ingin minta maaf karena selama ini selalu saja merepotkan Nyonya.”

__ADS_1


“Kamu ini bicara apa, Tania? Kamu sama sekali tidak merepotkan, kok.”


“Namun selama ini Nyonya sudah sangat baik sekali pada saya.”


“Sudahlah Tania, jangan berlebihan begini, saya melakukan ini karena ingin membuat kamu mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak kamu.”


“Terima kasih banyak Nyonya.”


Setelah berbincang dan makan siang, kini Tania dan Minanti keluar dari restoran itu, Minanti mengatakan bahwa ia ingin mengantarkan Tania pulang sampai ke apartemen, namun Tania mengatakan bahwa ia dapat pulang sendiri.


“Saya tidak ingin merepotkan Nyonya terlalu banyak.”


“Kamu ini bicara apa Tania? Sudah aku katakan kalau kamu sama sekali tidak merepotkanku, ayo masuklah, kalau kamu pulang sendiri, aku malah takut sesuatu hal yang buruk dapat terjadi padamu.”


****


Galang mengatakan bahwa ia tidak dapat menerima uang yang disodorkan oleh Ester ini, namun penolakan yang dilakukan oleh Galang membuat Ester naik pitam, ia menuding bahwa Galang sengaja mendekati putrinya untuk mendapatkan kekayaannya.


“Kamu pasti mendekati putriku karena kamu berambisi menguasai kekayaanku bukan?”


“Apa?”


“Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura polos dan tidak tahu apa-apa, aku tahu siasat licikmu itu, kamu menolak hadiahku ini karena kamu menginginkan sesuatu yang lebih dari ini, kamu itu harusnya bersyukur karena aku memberikan ini secara cuma-cuma padamu, namun kamu itu tidak tahu diri!”


“Maaf, sepertinya Nyonya sudah salah paham pada saya, saya sama sekali tidak mau menerima uang itu karena saya merasa bahwa saya tidak pantas menerimanya, saya bukan pengemis yang meminta-minta uang dari


orang lain.”


“Sudahlah, jangan banyak bertingkah dan terima saja ini! Setelah menerima ini, kamu jangan pernah mencoba mendekati anakku lagi!”


“Sudah saya katakan bahwa saya tidak akan menerima ini.”


“Kenapa kamu begitu keras kepala, hah?!”


“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada Nyonya, apakah Nyonya sudah tahu hubungan saya dengan Jihan di masa lalu? Dan Nyonya adalah dalang kenapa aku dan Jihan bisa putus?”


“Dasar pria kurang ajar! Berani sekali kamu menuduhku seperti itu!”


“Saya bukan sembarang menuduh Nyonya, namun saya memiliki bukti bahwa Nyonya terlibat akan hal itu.”

__ADS_1


__ADS_2