Berkah Cinta

Berkah Cinta
Janji Suci


__ADS_3

Rencana Ester yang berusaha melarikan diri dari rumah sakit jiwa rupanya sampai juga ke telinga Minanti, wanita itu kini sedang berada di rumah sakit jiwa dan ingin bertemu dengan Ester. Dokter membawa Minanti menuju sebuah ruangan di mana saat ini Ester tengah dirawat, karena terlalu sering memberontak maka terpaksa dokter mengikat tangan dan kaki Ester.


“Beginilah keadaannya,” ujar dokter.


“Kasihan sekali dia.”


Ester nampak tidak suka dengan kedatangan Minanti, ia berusaha untuk melepaskan diri namun tentu saja usahanya itu sia-sia saja, Minanti mengatakan pada dokter bahwa ia ingin berbicara sebentar dengan Ester


namun dokter agak ragu dengan itu.


“Saya paham kalau dokter khawatir dengan saya, namun dokter bisa menunggu di luar sebentar, saya ingin bicara dengan pasien.”


“Baiklah kalau itu yang Nyonya inginkan.”


Dokter pun bergegas keluar dari ruang inap Ester dan menyisakan Minanti dan wanita itu saja, Ester nampak tidak suka dengan kedatangan Minanti, ia berteriak dan mengancam akan membunuh Minanti saat ini.


“Apakah kamu tidak sadar posisimu, hm? Kamu tidak akan dapat pergi ke mana pun!”


****


Sementara itu Ferdian nampak begitu bersemangat mempersiapkan pernikahannya dengan Tania, pria itu kini membawa Tania untuk mencoba pakaian yang akan mereka kenakan saat upacara pernikahan berlangsung.


“Bagaimana menurutmu?”


“Bagus.”


Tania nampak tidak bersemangat ketika mencoba pakaian yang akan ia kenakan di hari pernikahannya dengan Ferdian, ia lebih memilih menjawab seadanya namun Ferdian tidak mempedulikan itu, ia nampak sibuk


berbicara dengan perancang busana mengenai apa saja yang perlu ditambahkan dalam pakaian mereka.


“Bisakah kita kembali? Aku ada rapat penting sebentar lagi,” ujar Tania.


“Tania, apakah kamu pikir dapat menipuku?”


“Apa maksudmu?”


“Aku tahu bahwa hari ini kamu tidak ada rapat atau apa pun itu, kamu jangan coba menipuku.”


Tania menghela napasnya kesal, Ferdian semakin lama semakin menjengkelkan, pria itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Ferdian membawa Tania menuju tempat lain yang tidak lain adalah gedung yang akan mereka gunakan sebagai acara pesta pernikahan, Ferdian memperlihatkan betapa mewahnya gedung itu namun lagi-lagi Tania tidak bersemangat dan hanya menanggapi seadanya saja. Saat mereka tengah berkeliling gedung itu, ponsel Tania

__ADS_1


berdering, wanita itu meraih ponselnya untuk melihat siapa orang yang menelponnya saat ini rupanya orang yang menelponnya saat ini adalah Olaf dan baru saja Tania hendak menjawab panggilan dari Olaf, ponselnya sudah direbut oleh Ferdian.


“Apa-apaan kamu? Kembalikan ponselku!”


“Kita sedang meninjau gedung ini, jangan terima telepon dari siapa pun.”


****


Olaf tentu saja heran kenapa Tania tidak menjawab teleponnya saat ini, saat ia mencoba kembali menghubungi Tania, ponsel wanita itu malah tidak aktif, Olaf menghela napasnya panjang dan sepertinya nanti setelah ia pulang bekerja ia akan pergi ke apartemen Tania untuk bertemu dengan wanita itu. Baru saja Olaf kembali fokus dengan pekerjaannya, pintu ruangan kerjanya terbuka dan menampakan Stefani, Olaf tentu saja heran, bagaimana bisa wanita ini masuk ke dalam ruangan kerjanya padahal ia sudah menyuruh satpam tidak mengizinkan wanita ini masuk ke dalam ruangan ini.


“Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?”


“Tentu saja aku bisa.”


“Aku akan panggil satpam agar kamu diseret keluar dari ruangan ini.”


Stefani tentu saja tidak akan membiarkan Olaf mengusirnya, ia bergegas menghampiri pria itu dan duduk di dalam pangkuan Olaf, tentu saja Olaf merasa risih dengan yang dilakukan oleh wanita ini, Olaf mendorong tubuh Stefani agar menjauh darinya.


“Apa-apaan kamu ini? Menyingkir dariku!”


“Ayolah sayang, aku tahu kamu menyukainya.”


“Aku tidak mau, aku sudah bersusah payah datang ke sini dan kamu mau mengusirku begitu saja?!”


****


Hari yang melelahkan, itulah yang Tania rasakan, seharian ini ia menemani Ferdian melihat hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan yang akan digelar minggu depan. Ferdian mengantarkannya sampai ke


apartemen, ia pikir Ferdian hanya akan mengantar sampai ke lobi namun dugaan Tania salah, rupanya ia hendak mengantarkannya sampai ke kamar apartemennya, tentu saja Tania menolak.


“Ferdian, kamu tidak perlu berlebihan begitu.”


“Berlebihan apanya? Aku hanya ingin memastikan kalau tidak ada orang yang berusaha mencelakaimu di kamar apartemenmu itu saja.”


“Ferdian, seharian ini aku sudah menuruti apa yang kamu katakan, sekarang tolong jangan buat aku kesal dengan tingkahmu ini!”


“Tania, aku ini calon suamimu, wajar kalau aku ingin melindungimu dari bahaya, kan?”


Tania dan Ferdian masih saja berdebat di lobi sampai Olaf muncul di sana, sontak kedua orang itu berhenti berdebat ketika Olaf datang. Ferdian yang melihat pria itu muncul langsung berjalan menghampirinya, namun Tania yang tidak ingin terjadi kericuhan di lobi segera mengikuti Ferdian agar jangan sampai pria itu membuat keributan di apartemen ini.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di tempat ini?”


“Itu bukan urusanmu.”


“Aku tahu, kamu pasti ingin bertemu dengan calon istriku, bukan? Dasar pria tidak tahu malu, apakah kamu tidak mengerti juga kalau Tania akan menjadi istriku kelak?!”


“Ferdian jangan buat masalah di sini!” seru Tania.


****


Sementara itu sudah satu minggu berlalu dan kini Tania sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin, dirinya sudah mengenakan gaun pernikahannya yang dipesan oleh Ferdian jauh-jauh hari. Nyatanya sekuat apa pun


ia berusaha membatalkan pernikahannya, Ferdian tetap memiliki cara agar Tania menikah dengannya, Tania dibuat tak berdaya dan menuruti semua yang dikatakan oleh pria itu.


“Tania.”


Tania menoleh ke arah pintu, nampak Minanti berdiri di sana, wanita itu pun kemudian berjalan menghampiri Tania yang masih duduk memandangi pantulan dirinya di kaca, Minanti tahu bahwa saat ini Tania pasti begitu sedih dan kecewa karena harus menikah dengan Ferdian.


“Aku minta maaf ya?”


“Kenapa Nyonya harus meminta maaf? Nyonya tidak salah apa pun.”


“Namun aku tidak bisa membantumu untuk keluar dari masalah ini.”


“Nyonya tidak perlu menyalahkan diri sendiri, aku siap untuk semua ini.”


“Tania ….”


“Terima kasih banyak atas semua yang telah Nyonya lakukan padaku, aku sangat menghargainya.”


Minanti dan Tania saling berpelukan saat ini untuk beberapa saat hingga akhirnya Ferdian muncul dan mengatakan bahwa sebentar lagi upacara pernikahan agar segera dimulai.


“Baiklah.”


Tania pun menggandeng tangan Ferdian, dengan diiringi tepuk tangan yang meriah dari tamu undangan, mereka berjalan menuju altar di mana mereka akan mengucapkan janji suci mereka. Namun tanpa sepengetahuan


mereka ada seseorang dari balik pohon mengamati gerak-gerik Tania, ia mengeluarkan sebuah senjata api dan mengarahkan benda itu pada Tania.


“Selamat tinggal Tania.”

__ADS_1


DOR


__ADS_2