
Bram sudah berada di lobi apartemen Tania, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus mengatakan kebenaran ini pada Tania walaupun mungkin kebenaran itu membuat Tania akan terluka. Bram sebelumnya menelpon wanita itu untuk memastikan apakah Tania ada di apartemennya atau tidak dan setelah ia sudah tahu bahwa Tania ada di apartemennya, maka Bram pun memasuki lift dan menuju lantai Tania tinggal.
“Silakan masuk Tuan.”
Tania mempersilakan Bram untuk masuk ke dalam apartemennya, Bram dapat melihat bahwa saat ini Tania tidak sendirian pasti ada Minanti di sini dan istrinya itu sedang pergi. Maka Bram pun akhirnya mengatakan apa maksud dan tujuannya datang ke apartemen Tania ini.
“Maafkan aku Tania kalau aku harus mengatakan ini padamu.”
“Apa maksud Tuan?”
“Sebenarnya….”
Namun belum sempat Bram mengatakan apa yang ingin ia katakan, seseorang masuk ke dalam apartemen Tania dan orang itu adalah Minanti yang baru saja kembali setelah ia berbelanja, wanita itu nampak terkejut ketika
melihat Bram ada di dalam apartemen ini dan sepertinya suaminya itu sedang berbicara dengan Tania.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
*****
Minanti membawa Bram keluar dari apartemen Tania agar mereka berdua dapat bicara tanpa didengar oleh Tania, saat ini Minanti bertanya apa maksud dan tujuan suaminya datang ke apartemen Tania.
“Aku ingin agar Tania mengetahui semuanya.”
“Apa maksudmu mengetahui semuanya?”
“Dia harus tahu kalau kamu dan Bima memiliki hubungan di masa lalu.”
“Tidak, kamu tidak usah mengatakan hal tersebut padanya.”
“Kenapa memangnya? Tania berhak tahu tentang hal itu.”
“Apakah menurutmu itu hal yang penting?! Tania sudah cukup menderita selama ini, aku tidak ingin menambah penderitaannya dengan kejujuran ini.”
“Itu hanya alasanmu saja, bukan?”
“Sudahlah Bram, aku mohon padamu untuk tidak mengatakan apa pun pada Tania.”
“Mau sampai kapan kamu menyembunyikan hal ini Minanti? Tania berhak tahu.”
“Tidak Bram, Tania tidak perlu tahu masa laluku dengan mendiang papanya, biarkan kita saja dan Tuhan yang tahu masalah ini.”
“Apakah Tania itu adalah anakmu?”
“Apa-apaan kamu ini? Bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu?”
“Aku minta maaf kalau aku bicara sembarangan, hanya saja… mungkin saja kamu dan Bima pernah khilaf di masa lalu dan kemudian….”
“Cukup!” seru Minanti kesal.
“Aku minta maaf Minanti.”
“Sudahlah Bram, dari pada kamu terus menerus bicara hal omong kosong seperti ini, lebih baik kamu pulang saja.”
__ADS_1
*****
Tania melirik ke arah pintu apartemennya yang terbuka, nampak Minanti di sana masuk namun tidak bersama dengan Bram, Tania tentu saja bertanya-tanya ke mana perginya Bram saat ini.
“Tuan Bram ke mana, Nyonya?”
“Dia sudah pulang tadi.”
“Apa? Pulang? Tapi tadi dia mengatakan hendak bicara denganku, kenapa dia malah pulang?”
“Sudahlah Tania, dia katanya ada urusan mendadak jadi harus pulang.”
Walaupun Tania agak ragu dengan ucapan Minanti barusan, namun ia berusaha mempercayai wanita ini, Minanti kemudian memasakan makan malam untuk Tania walaupun Tania sudah menolaknya.
“Tidak baik menolak niat baik seseorang.”
“Tapi sejujurnya aku jadi tidak enak pada anda, Nyonya.”
“Kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku Tania, aku tidak masalah kok.”
Maka Minanti pun memasakan sesuatu untuk Tania dan tidak mengizinkan Tania untuk membantunya.
“Terima kasih karena anda telah membuatkan makan malam untuk saya.”
“Tidak perlu berterima kasih Tania, ayo cicipi.”
Maka kini Tania pun mencicipi masakan Minanti dan harus Tania akui bahwa masakan Minanti ini memang lezat sekali.
“Ini lezat sekali, Nyonya.”
“Tidak, aku mengatakan yang sesungguhnya, ini benar-benar enak sekali.”
“Syukurlah kalau kamu menyukainya, ayo dihabiskan.”
*****
Saat ini Juan sedang mencari tahu di mana keberadaan Felli dari orang suruhannya dan setelah melakukan penelusuran selama beberapa jam, akhirnya Juan dapat mengetahui di mana keberadaan istrinya itu. Juan tiba
di sebuah café yang alamatnya telah dikirimkan oleh orang suruhannya, tidak lama kemudian orang suruhannya itu menghampiri mobil Juan dan mengatakan bahwa Felli ada di dalam café ini.
“Apakah kamu yakin kalau dia ada di sini?”
“Saya yakin, anda bisa cek sendiri kalau istri anda ada di dalam.”
“Baiklah kalau begitu, uangnya sudah aku transfer.”
“Terima kasih Tuan.”
Maka Juan pun turun dari kendaraannya dan masuk ke dalam café itu, matanya menyisir ke setiap sudut ruangan tempat ini hingga akhirnya ia menemukan sosok Felli di antara keramaian pengunjung.
“Rupanya dia memang di sini, namun dia tengah menunggu siapa?”
Juan pun mengambil duduk di salah satu kursi yang agak jauh dari Felli seraya ia memperhatikan istrinya dari tempatnya saat ini, ia benar-benar penasaran sebenarnya siapa orang yang ditemui Felli di tempat seperti ini.
__ADS_1
“Permisi, anda ingin pesan apa?” tanya seorang pelayan menghampiri Juan.
“Aku… berikan aku jus jeruk.”
“Ada lagi?”
“Tidak ada.”
“Baik, tunggu sebentar ya.”
Sementara itu saat pelayan itu pergi, nampak Felli dihampiri oleh seorang pemuda yang mana pemuda itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Felli saat ini.
*****
Felli nampak terkejut ketika Juan menghampirinya, pemuda itu pun juga nampak terkejut karena sepertinya orang ini adalah suaminya Felli, Juan langsung meminta Felli menjelaskan siapa pemuda ini.
“Katakan siapa pemuda ini.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Felli, apakah dia selingkuhanmu?”
“Aku sudah katakan kalau itu bukan urusanmu!”
“Katakan padaku siapa kamu?!” seru Juan pada Ricky.
“Ricky, kamu tidak perlu menjawabnya, ayo kita pulang.”
Felli menarik tangan pemuda itu untuk segera pergi dari café yang memang sudah tutup ini, namun sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Juan menghadang langkah mereka.
“Berhenti! Kalian belum menjawab pertanyaanku.”
“Minggir!”
“Aku tidak akan menyingkir sebelum kamu menjawab siapa pemuda ini!”
“Juan hentikan sikapmu ini sekarang!”
“Kenapa? Karena kamu kepergok selingkuh dengan brondong begitu?”
PLAK
“Jaga ucapanmu Juan, apakah kamu tidak mengaca pada dirimu sendir? Kamu sendiri juga berselingkuh dengan wanita iblis itu!”
“Aku tidak berselingkuh dengan dia!”
“Terserah, namun aku tak percaya dengan apa yang kamu katakan, kamu sudah jatuh cinta pada wanita iblis itu dibandingkan istrimu sendiri.”
“Jadi kamu ingin balas dendam padaku?!”
“Itu bukan urusanmu, minggir!”
Felli mendorong tubuh Juan dan mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, Juan berusaha menggedor kaca mobil Felli namun istrinya itu tak bergeming dan malah melajukan kendarannya meninggalkan Juan di parkiran.
__ADS_1
“Awas saja kamu Felli!” seru Juan berang dengan perlakuan istrinya ini.