Berkah Cinta

Berkah Cinta
Dibawa Ke Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Stefani pulang ke rumah dengan seringai jahatnya, sementara itu di rumah tersebut nampak Minanti dan Bram hanya diam saja dan cenderung mengacuhkan kedatangan menantu mereka itu.


“Selamat malam.”


“Kamu dari mana?”


“Aku habis keluar bertemu dengan temanku.”


Setelahnya tidak ada pembicaraan lanjutan di antara mereka, Stefani pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya di dalam sana nampak Juan yang sudah menunggunya pulang.


“Hai, sayangku.”


“Beraninya kamu melakukan itu.”


“Melakukan apa? Aku tidak melakukan apa pun.”


Jawaban dari Stefani itu memancing Juan menjadi naik pitam, bagaimana mungkin Stefani dengan polosnya mengatakan bahwa ia tidam melakukan apa pun padahal dirinya hendak mencelakai Felli tadi.


“Apa maksudmu kamu tidak melakukan apa pun? Apakah menurutmu tindakanmu yang mencelakai Felli itu bukan perbuatanmu?!”


Stefani nampak menyeringai dan kemudian ia mendekati suaminya seraya bergelayut manja di lengan Juan, namun tentu saja tindakan Stefani ini membuat Juan geram dan segera melepaskan diri dari wanita ini.


“Kenapa kamu begitu kasar padaku?”


“Sudahlah Stefani, jangan berpura-pura tidak ada yang terjadi hari ini, sampai mati pun aku akan mengingat kejahatanmu itu.”


“Terserah, namun setidaknya kamu sudah mencabut laporanmu pada polisi dan aku bebas!”


*****


Serangan pada Felli yang dilakukan oleh Stefani menjadi pembicaraan serius Juan dan keluarganya, bagaimanapun juga Stefani tidak dapat mereka biarkan begitu saja karena semakin lama wanita itu semakin


merasa di atas angin dan kemudian ia dapat berbuat sewenang-wenang.


“Kita tidak dapat membiarkan wanita itu selalu menang.”


“Lantas, apakah kamu memiliki solusinya?”


“Aku sudah memiliki solusinya, dia harus dibawa ke rumah sakit jiwa.”


“Rumah sakit jwa? Apakah kamu yakin?”


“Tentu saja Ma, wanita itu sudah tidak waras, bagaimana mungkin ada orang yang memiliki akal melakukan tindakan di luar batas seperti itu?”


“Entahlah Nak, sejujurnya Papa ragu dengan idemu itu.”


“Kenapa Papa ragu? Apakah Papa tidak yakin kalau Stefani itu memang sudah tidak waras?”

__ADS_1


“Bukan seperti itu Nak, namun Stefani itu licik dan ia memiliki berbagai cara untuk melepaskan diri dari perangkap yang sudah kita siapkan, buktinya tadi ketika kamu sudah melaporkannya pada polisi dengan cepat dia berbuat nekat dan hampir saja membuat nyawa Felli melayang.”


“Namun kita tidak bisa selamanya membiarkan wanita itu menang dengan mudah, wanita itu berbahaya.”


Rupanya percakapan Juan dan kedua orang tuanya didengar dengan baik oleh Stefani, wanita itu mengeluarkan seringai jahatnya, ia tentu saja tidak akan membiarkan Juan memasukannya ke dalam rumah sakit jiwa dengan mudah.


“Kamu lihat saja nanti Juan, apakah kamu dapat melakukan hal itu padaku atau tidak.”


*****


Ricky yang mendengar bahwa Felli nyaris menjadi korban ledakan di dalam mobilnya tentu saja panik, namun ia bersyukur karena setelahnya Felli menelpon dan mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja dan sama sekali tidak terluka sedikit pun.


“Syukurlah kalau begitu, aku benar-benar khawatir kalau tadi sesuatu hal yang buruk terjadi padamu.”


“Tidak kok, aku baik-baik saja.”


Obrolan antara Felli dan Ricky lewat telepon rupanya didengarkan oleh Hilda, wanita itu tentu saja tidak suka dengan hubungan anaknya dengan Ricky, ia menanggap bahwa Ricky adalah hama yang harus segera disingkirkan bagaimanapun caranya.


“Baiklah, sampai jumpa lagi.”


TUT


Selepas Felli menutup sambungan teleponnya dengan Ricky, kini Hilda pun berjalan menghampiri putrinya itu, Hilda bertanya dengan siapa Felli bertelepon tadi.


“Aku bertelepon dengan Ricky.”


“Dia hanya bertanya apakah aku baik-baik saja selepas ledakan itu, tentu saja aku jawab kalau aku baik-baik saja.”


“Hanya itu saja?”


“Iya, tentu saja, memangnya ada apa Mama menanyakan itu?”


“Tidak kok, Mama hanya ingin tahu saja, kalau begitu kamu pergilah ke kamarmu, ini pasti adalah hari yang berat untukmu, ya?”


“Baiklah, selamat malam, Ma.”


“Selamat malam, Nak.”


Selepas Felli pergi ke kamarnya kini Hilda mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang saat ini.


*****


Hilda sudah janjian bertemu dengan seseorang di café ini, tidak lama kemudian orang yang ia tunggu sejak tadi akhirnya menampakan dirinya, orang tersebut adalah Setfani, wanita itu nampak tersenyum pada Hilda sebelum duduk di kursi yang berhadapan dengan wanita ini.


“Halo Nyonya Hilda, senang bertemu denganmu.”


“Hentikan basa-basimu itu.”

__ADS_1


“Ada apa anda ingin bertemu denganku hari ini?”


“Tidak perlu banyak basa-basi Stefani, kamu adalah dalang di balik peristiwa ledakan di mobil Felli, kan?”


“Apa maksud anda?”


“Sudahlah Stefani, kamu pikir aku tidak memiliki orang dalam yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”


Stefani nampak sama sekali tidak merasa tersudut dengan ucapan Hilda itu, ia malah tertawa menanggapinya, respon yang diberikan oleh Stefani itu rupanya membuat Hilda geram bukan main.


“Apakah yang barusan aku katakan itu lucu?! Kamu mencoba bermain-main dengan nyawa anakku dan kamu malah tertawa seolah itu adalah sebuah lelucon? Di mana hati nuranimu?”


“Maaf Nyonya, namun ucapan anda benar-benar membuatku tidak dapat menahan tawa.”


“Tidak ada yang lucu, Stefani!”


“Memang aku adalah dalangnya, aku yang menyiapkan skenario itu untuk membuat Juan mencabut laporannya pada polisi.”


“Namun kamu tidak perlu melakukan hal menyeramkan seperti itu Stefani, kamu nyaris membunuh putriku!”


“Namun nyatanya sampai saat ini Felli baik-baik saja, kan?”


*****


Juan sudah menyiapkan petugas dari rumah sakit jiwa untuk membawa Stefani ke tempat yang seharusnya dia berada, Stefani sudah sangat membahayakan semua orang dan dia harus dirawat karena penyakitnya itu. Stefani pulang ke rumah dan ia nampak terkejut ketika mendapati petugas dari rumah sakit jiwa sudah bersiap siaga di sana.


“Ada apa ini?”


“Itu dia pasiennya, dia harus segera dibawa,” ujar


Juan.


Kedua petugas itu kemudian membawa Stefani untuk masuk ke dalam mobil, namun tentu saja Stefani meronta dan bertanya ada apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


“Kamu harus dibawa oleh mereka Stefani, kamu sakit!” seru Juan.


“Apa maksudmu aku sakit?! Aku sama sekali tidak sakit!” seru Stefani.


“Kamu sakit Stefani, kamu sudah sangat melampaui batas dan tindakanmu itu sangat membahayakan banyak orang, aku tidak dapat mengambil risiko dengan membiarkan kamu berkeliaran begitu saja di luar sana tanpa


penanganan dari dokter spesialis kejiwaan.”


“Apa katamu?! Dokter spesialis kejiwaan?! Jadi maksudmu aku ini mengalami gangguan jiwa seperti itu?!”


“Sudahlah bawa saja dia pergi dari sini sebelum dia semakin menjadi-jadi,” ujar Juan pada kedua petugas dari rumah sakit jiwa itu.


Stefani tentu saja menolak untuk dibawa, ia meronta dan meminta agar kedua petugas ini melepaskannya karena ia sama sekali tidak seperti yang dituduhkan oleh Juan barusan.

__ADS_1


“Tidak, kalian tidak dapat melakukan ini semua padaku! Aku masih waras, lepaskan aku!"


__ADS_2