
Di luar sana terjadi kericuhan karena ada seorang wanita yang berteriak-teriak meminta agar dia dapat bertemu dengan Tania namun aksinya itu ditahan oleh satpam yang berjaga.
“Saya ingin bertemu dengan Tania.”
“Anda tidak boleh masuk ke dalam.”
“Kalau anda tidak mengizinkan saya masuk, maka saya akan meledakan diri saya di sini sekarang juga!”
Semua orang yang berada di sana tentu saja panik mendengar ucapan wanita itu yang mengatakan kalau dia akan meledakan dirinya, namun satpam berusaha tetap tenang menghadapi wanita itu yang kelakuannya semakin tidak terkendali, ia terus saja berteriak sambil mengancam bahwa dia akan meledakan diri.
“Aku serius dengan ucapanku, kalau kalian tidak mengizinkan saya bertemu dengan Tania maka saya akan meledakan diri saya di sini, kalian dan mereka semua akan menjadi korbannya!”
“Anda jangan coba mengancam kami!”
“Baiklah kalau itu yang kalian inginkan!”
Namun belum sempat ia meledakan diri, polisi sudah meringkusnya dan membawanya masuk ke dalam mobil polisi, wanita itu menolak dan berusaha meronta melepaskan diri namun tentu saja usahanya sia-sia belaka.
Suasana pun kembali kondusif setelah wanita itu diringkus oleh polisi.
****
Namun nyatanya itu bukanlah satu-satunya teror yang Tania alami ketika ia menjadi Direktur Utama perusahaan ini, ketika kunjungan kerja ke proyek perusahaan yang saat ini tengah mereka bangun, seorang warga hendak menyerangnya dengan sebuah benda tajam, warga itu tak terima ketika perusahaan Tania menyerobot lahan milik warga, walaupun urusan lahan itu sudah diselesaikan lewat pengadilan dan pengadilan memenangkan perusahaan, warga sekitar menolak dan selalu melakukan aksi demo di depan proyek pembangunan sebuah real estate mewah yang saat ini tengah mereka garap.
“Nyonya baik-baik saja?”
“Saya baik-baik saja? Bagaimana dengan dia?”
“Nyonya tidak perlu khawatir, dia akan mendapatkan penangan medis.”
“Apakah warga di sekitar sini selalu begini? Maksudku mereka selalu melakukan penyerangan terhadap kita?”
“Iya Nyonya, warga sekitar selalu melempari para pekerja proyek dengan batu dan mereka kadang kala juga mengancam dengan menggunakan senjata tajam.”
“Apakah kita tidak memberikan uang pada mereka sebagai kompensasi pada warga?”
“Soal itu… saya tidak bisa menjawabnya.”
“Apa maksudmu tidak bisa menjawabnya?”
Tania pun penasaran kenapa sekretarisnya itu tidak dapat menjawab pertanyaannya, ketika ia kembal ke kantor ia meminta sekretarisnya itu membawakan semua dokumen yang berhubungan dengan kasus di pembangunan real estate tadi. Dan Tania baru menemukan fakta bahwa selama ini rupanya perusahaan tidak memberikan hak yang seharusnya pada warga terdampak.
__ADS_1
“Apa-apaan ini? Kenapa uang perusahaan tidak dicairkan pada warga?!”
****
Tania diajak bertemu siang ini oleh Ferdian di sebuah restoran, awalnya Tania sempat menolak namun Ferdian beralasan bahwa saat ini ia ingin bertemu dengan Tania selepas ia diperbolehkan untuk keluar dari rumah
sakit. Ferdian nampak begitu bahagia saat melihat Tania datang dan hal tersebut berbanding terbalik dengan Tania yang nampak tidak suka ketika Ferdian memintanya datang ke sini.
“Duduklah.”
Tania pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Ferdian, ia sama sekali tidak berniat membuka percakapan dengan pria ini, namun Ferdian meraih tangannya secara tiba-tiba hingga membuat Tania terkejut dengan
yang dilakukan oleh pria ini.
“Apa-apaan kamu?”
“Apakah kamu tidak merindukanku?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Tania, aku memintamu datang ke sini untuk mengatakan kalau pernikahan kita akan segera tiba.”
“Iya, sudah aku katakan padamu bahwa aku akan mempercepat pernikahan kita saat itu, kan? Dan aku sudah menentukan tanggalnya kapan.”
“Kenapa secara tiba-tiba kamu memutuskannya tanpa meminta persetujuan dariku?”
“Kalau aku meminta persetujuan darimu, aku yakin kamu akan menolaknya.”
“Tapi ….”
“Tania, aku sudah pernah mengatakannya padamu bukan? Aku tidak akan membiarkan siapa pun memilikimu, aku akan memilikimu dan kita akan hidup bahagia bersama dengan anak kita.”
****
Ucapan Ferdian itu membuat Tania begitu tertekan, pria itu semakin ingin mengikatnya dalam pernikahan dan ia yakin bahwa tidak akan mudah baginya untuk berpisah dengan pria itu setelah mereka melangsungkan pernikahan. Tania pun berusaha untuk menenangkan dirinya saat ini agar dia tidak terlalu stress, ia teringat pesan dokter bahwa ia harus mengelola stressnya agar bayi di dalam kandungannya baik-baik saja. Ketika ia tengah duduk di sofa seorang diri, Tania mendengar bel pintu apartemennya berbunyi, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu untuk melihat siapa orang yang datang saat ini, rupanya orang yang datang saat ini adalah Olaf. Ia pun segera membukakan pintu untuk pria tersebut.
“Maaf apakah aku menganggumu?”
“Sama sekali tidak, masuklah.”
Olaf pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Tania setelah wanita itu mempersilakannya masuk, Olaf nampak bersyukur karena saat ini tidak ada Ferdian di apartemen ini karena kalau sampai ada Ferdian
__ADS_1
maka sudah dipastikan mereka berdua pasti akan saling baku hantam,
“Kamu mau minum apa?”
“Tidak perlu repot-repot, aku dengar tadi sesuatu hal yang buruk terjadi padamu?”
“Maksudmu soal kejadian di proyek?”
“Begitulah, apakah kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu, namun… sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, ya?”
“Tadi aku bertemu dengan Ferdian, dia sudah diizinkan pulang dari rumah sakit dan… dia mengatakan kalau pernikahan kami akan dimajukan tanpa sepengetahuanku.”
“APA?!”
****
Ester dibawa ke rumah sakit jiwa untuk pemeriksaan, polisi menduga bahwa Ester mengalami gangguan jiwa setelah pemeriksaan oleh psikiater yang didatangkan oleh polisi untuk memeriksa kejiwaan Ester. Dan hasilnya Ester memang mengalami gangguan kejiwaan, Ester dipindahkan dari tahanan polisi ke rumah sakit jiwa, di rumah sakit jiwa itu penjagaannya lumayan ketat hingga membuat Ester sulit keluar dari rumah sakit jiwa ini.
“Aku harus mencari cara keluar dari sini.”
Keesokan paginya dokter dan perawat masuk ke ruang inap Ester, mereka memeriksa bagaimana keadaan Ester saat ini, dan hal tersebut dimanfaatkan oleh Ester untuk meminta agar ia dapat keluar dari ruangan inap ini.
“Dokter, saya ingin keluar menghirup udara bebas.”
“Baiklah kalau memang itu yang anda mau, namun anda harus ditemani oleh perawat, ya.”
Kini Ester sudah diizinkan untuk keluar dari ruang inap dengan penjagaan dari perawat, Ester dan perawat itu berjalan di koridor yang sepi hingga akhirnya Ester melihat ada sebuah ruang yang di pintunya tertulis ruang peralatan. Ester pun mendorong perawat itu masuk ke dalam ruang peralatan dan membuat perawat itu terkejut.
“Apa yang anda lakukan?!”
BUGH
Ester kemudian keluar dari ruang peralatan itu dengan mengenakan pakaian perawat yang tadi ia sekap di dalam ruangan itu, dengan segera Ester berjalan menuju pintu keluar rumah sakit jiwa namun penyamarannya terbongkar hingga kini ia dihadang oleh satpam.
“Anda mau pergi ke mana?!”
“Lepaskan aku!”
__ADS_1