
Keesokan harinya Maya mendatangi sel tahanan Ferdian,
pria itu kemudian menceritakan bahwa kemarin ada seseorang yang membujuknya
agar mau menuruti apa yang dia perintahkan.
“Apa maksudmu?”
“Dia menghasutku untuk membantunya menghancurkan
hubungan Tania dan Olaf, dengan imbalannya aku dapat keringanan hukuman di
penjara ini.”
“Lalu kamu menolaknya?”
“Tentu saja aku menolaknya, aku tahu bahwa selama ini
aku terlalu egois karena memaksakan perasaanku pada Tania, selama ini dia tidak
bahagia denganku dan aku sudah melukainya.”
“Ferdian, namun kesempatan hanya datang sekali,
bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan kesempatan itu?”
“Aku sudah mengatakannya pada Mama bahwa aku sama
sekali tidak tertarik untuk itu, aku tak ingin merusak kebahagiaan Olaf dan
Tania, kalau memang Tania bahagia bersama dengan pria itu maka aku akan juga akan berbahagia dengan pilihannya
itu.”
“Astaga Ferdian, Mama benar-benar tidak mengerti
dengan jalan pikiranmu.”
Karena waktu kunjung yang sudah habis maka Ferdian kini
digiring kembali ke dalam sel tahanannya sementara itu Maya nampak berpikir
siapa kira-kira orang yang sudah membujuk anaknya untuk melakukan hal itu.
“Kenapa aku jadi penasaran begini, ya?”
*****
Sementara itu Juan nampak tersenyum ketika melihat
Felli sudah menandatangani surat cerai yang ia sodorkan lewat pengacaranya,
dengan begini proses sidang bisa segera dimulai, semakin cepat akan semakin
baik karena Juan sendiri tidak berniat rujuk lagi dengan Felli. Baru saja ia
keluar dari ruangan kerjanya, ponselnya berdering, Juan kemudian melihat siapa
orang yang menelponnya saat ini, ketika ia melihat layar ponselnya nama Olaf
tertera di sana, ia pun segera menjawab panggilan dari kakaknya itu.
“Di mana kamu sekarang?”
“Aku baru mau makan siang di luar, ada apa?”
“Bisakah kamu datang ke ruanganku sekarang?”
“Memangnya ada apa?”
“Sudahlah, jangan banyak bertanya, datang saja
sekarang.”
TUT
Juan nampak heran dengan Olaf, kenapa juga kakaknya
itu meminta datang ke ruangan kerjanya saat ini padahal ia sudah ada janji
makan siang dengan Stefani. Juan mengetuk pintu ruangan Olaf terlebih dahulu
sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerja kakaknya
ini.
“Kakak memanggilku?”
“Iya, aku memanggilmu, duduklah.”
Juan pun duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Olaf,
ia mengatakan pada Olaf untuk segera mengatakan kenapa Olaf ingin bertemu
__ADS_1
dengannya karena ia tidak memiliki banyak waktu.
“Baiklah, kamu lihat rekaman CCTV ini.”
*****
Stefani sudah ada di sebuah restoran yang tadi ia
sudah sepakati dengan Juan untuk bertemu, ia melirik jam yang ada di ponselnya,
ini sudah lewat 25 menit dari jadwal mereka janjian bertemu, tidak biasanya
Juan akan terlambat sampai sejauh ini.
“Dia ini ke mana, sih? Kenapa jam segini belum juga
sampai?”
Stefani baru saja hendak menelpon Juan, namun pria itu
baru saja datang di restoran ini hingga Stefani pun mengurungkan niatnya untuk
menelpon pria ini, Juan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Stefani.
“Kenapa kamu lama sekali? Tidak biasanya kamu akan
terlambat datang menemuiku?”
Namun Juan hanya diam saja dan menatapnya dengan
tatapan yang sulit untuk diartikan, Stefani pun merasa bingung karena
sepertinya ada sesuatu yang tidak beres pada Juan.
“Juan, kenapa hanya diam saja? Apakah kamu tidak
mendengar pertanyaanku?”
“Aku mendengar pertanyaanmu, kok.”
“Lantas kalau kamu mendengar pertanyaanku, kenapa kamu
hanya diam saja dan tidak menjawabnya?”
“Stefani, bisakah kamu jujur padaku?”
“Apa? Jujur tentang apa?”
“Sebenarnya kamu masih mencintai kakakku, kan?”
“Jawab saja pertanyaanku barusan.”
“Astaga, baiklah, aku akui bahwa aku memang masih
menyukai kakakmu, namun aku akan berusaha menghilangkan perasaanku itu padanya,
lagi pula sebentar lagi kita akan menikah.”
*****
Malam ini Olaf mengajak Tania untuk makan malam di
luar, tentu saja Tania tidak menolaknya dan mengiyakan ajakan pria itu, kini
Tania sudah sampai di sebuah restoran tempat di mana dirinya dan Olaf sudah
janjian akan makan malam bersama di sini. Namun ketika dirinya memasuki
restoran itu, Tania merasa heran karena ia sama sekali tidak menemukan orang
lain ada di dalam restoran ini, seorang pegawai restoran kemudian
menghampirinya dan membawa Tania menuju sebuah meja yang mana di sana sudah ada
Olaf.
“Selamat malam, sayang.”
“Olaf, kenapa kamu membawaku ke restoran ini? Kenapa
restoran ini sepi sekali?”
“Aku sengaja menyewa restoran ini hanya untuk kita
berdua.”
“Apa?”
“Iya, kamu tidak salah dengar, aku memang menyewa
seluruh restoran ini agar aku dapat makan malam berdua denganmu.”
“Kamu ini.”
__ADS_1
“Aku sudah memesankan makan malam untukmu.”
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dan
membawakan mereka berdua makan malam yang sudah dipesan oleh Olaf terlebih
dahulu, Tania nampak begitu antusias ketika melihat makan malam yang tersaji di
hadapannya.
“Bagaimana menurutmu?”
“Ini kelihatannya lezat sekali.”
“Kalau begitu, ayo kita makan.”
Maka mereka berdua pun menyantap makan malam itu,
Tania nampak begitu menikmati hidangan makan malam yang dipesankan oleh Olaf
dan pria itu nampak bahagia karena sepertinya apa yang ia lakukan itu tidaklah
sia-sia.
*****
Setelah mereka berdua selesai makan malam kini Olaf
mengatakan bahwa masih ada hal yang ia ingin lakukan dengan Tania dan tentu
saja Tania heran sekaligus penasaran dengan apa yang hendak Olaf lakukan
padanya saat ini.
“Ada apa, Olaf?”
Tiba-tiba saja Olaf langsung berlutut di depannya dan
mengeluarkan sebuah cincin dari balik jas yang ia kenakan, Tania tentu saja
terkejut dengan yang dilakukan oleh Olaf ini.
“Tania, maukah kamu menikah denganku?”
“Olaf…aku…..”
“Apakah kamu bersedia menerima cincin ini?”
Tania nampak tidak dapat menahan air mata harunya, ia
pun menganggukan kepalanya tanda ia setuju bahwa ia menerima pria ini, Olaf pun
memasangkan cincin itu pada jari Tania dan setelah Olaf melakukan itu, Tania
langsung memeluk erat tubuh Olaf dengan berderai air mata.
“Kenapa kamu menangis?”
“Aku menangis karena terharu dengan apa yang kamu
lakukan ini.”
“Sudahlah, jangan menangis lagi, ok?”
Tania pun melerai pelukannya dengan Olaf dan pria itu
kemudian menghapus air mata yang tadi sempat membasahi kedua pipi Tania.
“Jangan menangis, ok?”
“Terima kasih Olaf.”
“Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, justru
akulah yang seharusnya berterima kasih padamu karena kamu sudah mau menerima
lamaranku ini, aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu.”
“Iya, Olaf.”
Acara makan malam yang sungguh membuat Tania begitu
bahagia karena pada malam ini Olaf secara resmi melamarnya untuk menikah dengan
pria itu, tentu saja Tania tidak akan menolaknya, ia juga mencintai Olaf dan
lagi mereka sama-sama sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Olaf namun
rupanya ada seseorang yang melihat apa yang terjadi barusan dan ia nampak
mengepalkan tangannya geram.
“Tunggu dan lihat saja, aku akan membuat kalian
__ADS_1
berpisah selamanya.”