Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Tidak Akan Ingkar Janji


__ADS_3

Tania nampak mulai kesulitan bernapas ketika terjebak di dalam lift dan ia terus berusaha meminta bantuan lewat tombol yang ada di dalam lift tersebut, untung saja tidak lama kemudian akhirnya bantuan datang dan ia dapat diselamatkan dari dalam lift tersebut.


“Nyonya, apakah anda baik-baik saja?”


“Iya, saya baik-baik saja.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Tania kemudian akhirnya dapat pulang ke apartemennya dan ia kini tengah duduk di sofa ruang tengah apartemennya sambil memikirkan apa yang barusan terjadi padanya.


“Mungkinkah ada sabotase tadi?”


Namun Tania menggelengkan kepalanya agar ia tidak berpikiran buruk seperti tadi, ia hendak pergi ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian namun baru saja ia bangkit dari sofa dan hendak pergi ke


kamar, ponsel yang ada di dalam tasnya berbunyi, Tania kemudian meraih benda itu dan melihat di layar ponselnya tertera sebuah nomor asing, Tania nampak ragu apakah ia harus menjawab panggilan dari nomor asing tersebut atau tidak.


*****


Keesokan harinya Olaf datang ke kantor Tania dan secara tidak sengaja ia mendengar obrolan dua karyawan yang tengah membicarakan insiden lift macet tadi malam yang membuat Tania terjebak di dalamnya, Olaf yang mendengar obrolan kedua karyawan itu tentu saja terkejut dan ia jadi ingin semakin cepat bertemu dengan Tania dan menanyakan apakah obrolan kedua karyawan itu benar. Olaf berdiri di bagian paling belakang lift dan di dalam lift itu memang lumayan banyak orang hingga akhirnya ia pun tiba di lantai Tania bekerja, kini pria itu berjalan menuju ruangan kerja Tania, sekretaris Tania yang sudah tahu Olaf tanpa banyak bertanya mengizinkan pria itu untuk masuk ke dalam ruangan kerja Tania.


“Olaf?”


Tania nampak terkejut ketika melihat Olaf masuk ke dalam ruangan kerjanya, sementara itu pria itu hanya tersenyum saja dan duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Tania, wanita tersebut pun menghampiri Olaf


dan duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Olaf duduk.


“Apa yang membuatmu datang ke sini?”


“Aku merindukanmu.”


“Benarkah?”


“Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu, tadi di bawah aku secara tidak sengaja mendengar obrolan kedua karyawanmu yang mengatakan bahwa semalam ada insiden lift macet dan hal tersebut membuatmu terjebak di


dalamnya, apakah itu benar?”

__ADS_1


*****


Sudah semakin dekat dengan hari pernikahan mereka membuat Stefani justru menjadi gelisah, ia takut kalau Juan akan membatalkan pernikahan atau mungkin pria itu akan melarikan diri di hari pernikahan mereka,


walaupun Juan sudah mengatakan bahwa ia tidak akan melarikan diri atau membatalkan pernikahan mereka namun Stefani tidak akan dapat percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Juan tersebut.


“Tidak, aku tidak bisa percaya begitu saja apa yang dia katakan, aku harus membuat Felli menjauh dulu selama aku dan Juan belum menikah.”


Stefani kemudian meraih ponselnya dan kemudian mencari kontak seseorang di sana, setelah menemukan kontak orang itu akhirnya Stefani menelpon orang tersebut dan mengatakan apa yang harus orang itu lakukan untuknya.


“Ini aku, aku memiliki pekerjaan untukmu dan kali ini tolong jangan buat aku kecewa, ya?”


“Apa yang dapat saya lakukan untuk anda, Nona?”


“Tolong untuk sementara waktu kamu singkirkan wanita yang bernama Felli, aku akan mengirimkan fotonya padamu, pokoknya singkirkan saja wanita itu selama aku dan Juan belum resmi menikah, kalau kami sudah resmi


menikah maka kamu bisa kembalikan wanita itu ke kota ini, apakah kamu mengerti?”


“Saya mengerti Nona.”


“Baguslah kalau kamu mengerti.”


Stefani menutup sambungan teleponnya dan kemudian ia mengirimkan foto Felli pada orang itu, ia kemudian menyeringai jahat.


“Aku terpaksa harus melakukan ini karena tidak memiliki pilihan lain.”


*****


Felli yang sedang berkendara dengan mobilnya nampak terkejut ketika mobilnya dihadang oleh sebuah mobil berwarna hitam, Felli langsung menginjak pedal rem agar tidak terjadi kecelakaan. Dari dalam mobil hitam itu muncul dua orang berbadan besar dan mereka berjalan menghampiri mobilnya, seketika perasaan Felli menjadi tidak enak saat ini.


“Buka pintunya!” ujar salah satu dari mereka namun Felli tidak mau membukakan pintu mobilnya.


“Hei, aku bilang buka pintunya!”


Namun tetap saja Felli tidak mau membukakan pintu mobilnya bahkan ia berniat untuk memundurkan mobilnya dan melarikan diri, namun sebelum ia berhasil melakukan itu, salah satu dari orang tersebut mengambil sebuah batu

__ADS_1


besar dan melemparkannya ke arah mobil Felli hingga membuat kaca depan mobil itu retak dan Felli terluka akibat pecahan kaca yang mengenai tubuhnya.


“Buka pintunya!”


“Felli masih tidak mau menyerah, ia berusaha melarikan diri namun kemudian salah satu dari mereka menembak ban mobil Felli hingga mobil itu tidak dapat pergi ke mana-mana.


“Sudah aku katakan jangan mencoba melarikan diri!”


Maka orang tersebut membuka paksa mobil Felli dengan cara memecahkan kaca mobil hingga membuat Felli memekik ketakutan.


“Sudah aku katakan untuk keluar! Kenapa masih saja keras kepala, hah?!”


“Kalian ini siapa?!”


*****


Sementara itu Juan tengah berada di dalam ruangan kerjanya, tentu saja ia ingat kalau besok adalah hari pernikahannya dengan Stefani namun ia sama sekali tidak ada rasa bahagia ketika mengingat besok


adalah hari pernikahannya dengan Stefani, padahal dulu ia begitu bahagia ketika mendengar nama Stefani namun saat ini entah kenapa ia justru malah biasa saja dan cenderung malas mendengar nama dan suara wanita itu, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain menikah dengan Stefani. Ketika ia tengah menatap ke luar jendela dari ruangan kerjanya, ponsel yang ia taruh di atas meja kerjanya berdering, Juan kemudian berjalan mendekati ponselnya tersebut untuk melihat siapa orang yang menelponnya saat ini, rupanya orang yang menelponnya


saat ini adalah Stefani.


“Untuk apa dia menelponku?”


Namun walaupun ia malas ketika Stefani menelponnya, ia tetap menjawab telepon dari Stefani tersebut karena tidak ingin membuat wanita itu marah padanya.


“Ada apa lagi Stefani?”


“Kamu tidak lupa kalau besok adalah hari pernikahan kita, kan?”


“Astaga, tentu saja aku ingat Stefani.”


“Jangan pernah kamu mencoba untuk melarikan diri dariku!”


“Tidak, aku tidak akan melarikan diri darimu, besok aku akan menikah denganmu, kenapa sih kamu ini tidak percaya padaku?”

__ADS_1


“Aku tidak akan percaya padamu sampai besok kamu menikah denganku karena awas saja kalau kamu tidak menepati janjimu.”


“Aku bukanlah orang yang akan mengingkari janjiku, percayalah padaku.”


__ADS_2