Berkah Cinta

Berkah Cinta
Akan Membantu


__ADS_3

Karena tidak ingin membuat keributan maka Olaf meminta agar Minanti mau pergi dari rumah sakit itu walaupun pada awalanya sang mama masih enggan untuk pergi karena merasa ia tidak melakukan apa pun namun malah


mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Ester.


“Kenapa kamu memilih kita yang pergi? Kita saja tidak melakukan apa pun pada mereka?”


“Ma, itu adalah rumah sakit, tidak baik kalau kita membuat keributan di sana.”


Rupanya masih ada Tania di lobi rumah sakit, ketika ia melihat Minanti dan Olaf keluar dari lift, wanita itu sudah menduga bahwa pasti Ester telah mengusir mereka berdua.


“Bagaimana? Apakah kalian sudah bertemu dengan Jihan?”


“Belum, kami diusir oleh wanita itu,” jawab Minanti.


Tania hanya tersenyum menanggapi ucapan Minanti barusan, namun rupanya diam-diam Olaf memperhatikan Tania yang berada sangat dekat dengannya, karena terlalu fokus menatap Tania ia tidak menyadari bahwa


wanita itu kini menatapnya juga dengan tatapan heran.


“Ada apa dengan wajahku?”


Olaf terkejut karena aksinya diketahui oleh Tania, pria itu nampak salah tingkah dan kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, Minanti hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah putranya itu.


****


Tania baru saja menemani Minanti dan Olaf makan siang di kantin rumah sakit, Tania mengantarkan mereka berdua sampai ke depan mobil, Tania juga meminta maaf pada mereka berdua atas perlakuan tidak menyenangkan


yang diterima oleh Minanti maupun Olaf saat berkunjung ke rumah sakit ini.


“Sekali lagi aku meminta maaf atas perlakuan tidak menyenangkan yang telah diberikan oleh Tante Ester pada kalian berdua.”


“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu meminta maaf pada kami, kami dapat mengerti hal tersebut.”


Maka kemudian Minanti dan Olaf masuk ke dalam mobil dan perlahan kendaraan itu bergerak meninggalkan area parkir rumah sakit, nampak Handi baru saja datang dan menemukan Tania tengah berdiri di tengah parkiran rumah sakit, karena merasa heran maka ia pun berjalan menghampiri Tania dan bertanya apa yang Tania lakukan di tempat ini.


“Apa yang kamu lakukan di sini Tania?”


“Om Handi? Barusan Olaf dan Nyonya Minanti datang namun Tante Ester mengusir mereka.”


“Ya Tuhan, Ester itu memang benar-benar.”

__ADS_1


“Sudahlah Om, aku sudah meminta maaf pada mereka dan Nyonya Minanti menyambut baik permintaan maafku tadi.”


“Syukurlah kalau begitu, semoga saja beliau tidak menyimpan rasa sakit hati akibat kelakuan Ester barusan.”


“Aku yakin bahwa Nyonya Minanti tidak akan seperti itu.”


“Apakah kamu sudah masuk tadi?”


“Tidak, Tante Ester tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk ke dalam ruang inap Jihan.”


****


Handi masuk ke dalam ruangan inap Jihan, sampai saat ini putri mereka belum juga sadarkan diri dan Ester masih setia menunggu sampai Jihan bangun dari tidur panjangnya. Nampak wanita itu sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Handi dan masih saja sibuk dengan ponsel yang sedang ia mainkan, Handi menghela napasnya berat, kelakuan Ester sudah sangat menyebalkan baginya, walaupun ia membenci Minanti namun tidak seharusnya ia menolak kedatangan orang yang berniat menjenguk Jihan saat ini.


“Aku ingin bicara denganmu.”


“Apakah kamu datang untuk membicarakan masalah wanita itu?”


“Kenapa kamu bersikap kekanak-kanakan begitu, Ester?”


“Apa katamu?”


“Kamu bersifat kekanak-kanakan! Aku sudah muak dengan semua tingkah polahmu yang begitu menyebalkan!”


“Kamu pikir aku datang ke sini untukmu? Kamu salah! Aku datang ke sini karena aku adalah ayahnya Jihan!”


“Kamu baru mengakui bahwa dirimu adalah seorang ayah setelah dia tidak sadarkan diri?! Kamu pikir ayah macam apa yang selalu saja membela wanita tidak tahu diri itu?!”


“Cukup Ester, jaga bicaramu!”


“Kenapa? Apakah kamu merasa tersinggung dengan ucapanku?! Apakah kamu merasa bahwa semua yang aku katakan itu memang benar?!”


****


Penolakan yang dilakukan oleh Ester rupanya masih saja menghantui pikiran Olaf, ia merasa bersalah karena telah membuat Jihan masuk rumah sakit, namun Olaf benar-benar tidak menginginkan sampai kejadian mengerikan itu terjadi. Kini dirinya hanya dapat pasrah jikalau nanti ketika Jihan sudah ingat semuanya, maka wanita itu akan membuatnya masuk penjara.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”


Olaf terkejut ketika Minanti duduk di sebelahnya, sang mama menggenggam tangan Olaf dan tersenyum, Olaf nampak tidak dapat menatap Minanti dan ia memilih untuk membuang pandangan ke arah lain.

__ADS_1


“Mama tahu kalau saat ini kamu sedang sedih dan merasa terpukul atas apa yang terjadi pada Jihan, namun hal tersebut tidak akan mengubah apa pun.”


“Kalau kelak Jihan ingat semuanya, maka aku siap untuk masuk penjara.”


Minanti nampak menatap Olaf tak percaya, tentu saja dia tidak akan membiarkan begitu saja sang putra masuk jeruji besi begitu saja.


“Mama tidak akan membiarkan itu, sayang.”


“Mama tidak perlu menghalangi proses hukum yang berlaku, aku memang pantas mendapatkan ini semua, aku yang membuat Jihan masuk rumah sakit.”


“Olaf, hentikan semua ini! Ini semua kecelakaan yang sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.”


Namun ucapan Minanti barusan seolah tidak berdampak apa pun pada Olaf, ia masih saja memimikirkan mengenai Jihan yang sampai saat ini belum juga siuman.


****


Saat ini Handi baru saja tiba di rumah dan ia disambut oleh Tania, wanita itu mengatakan pada Handi bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Handi. Handi tentu saja bingung sekaligus penasaran, sebenarnya apa yang hendak Tania katakan padanya saat ini karena kalau ia lihat dari raut wajahnya sepertinya masalah yang hendak Tania katakan padanya ini termasuk masalah yang cukup serius.


“Ada apa Tania?”


“Mari kita duduk dulu.”


Kemudian mereka berdua pun duduk di sofa ruang tengah, Tania nampak sedang mempersiapkan dirinya untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia ucapkan pada Handi.


“Jadi Tania, ada apa sebenarnya? Apa yang hendak kamu ingin katakan pada Om?”


“Om, apakah Om serius ingin membantuku?”


“Maksudmu?”


“Apakah Om ingin semua aset milik mendiang kedua orang tuaku kembali padaku?”


“Tentu saja Tania, Om serius ingin membantu kamu, kenapa memangnya kamu menanyakan hal itu?”


“Kalau memang Om serius ingin membantuku, apakah aku boleh meminta sesuatu pada Om?”


“Sesuatu? Apa yang kamu inginkan dari Om, Tania?”


“Om harus buka suara atas kejahatan yang sudah Tante Ester lakukan pada kedua orang tuaku.”

__ADS_1


Handi nampak terkejut dengan apa yang Tania katakan barusan, namun Tania nampak begitu memohon pada Handi agar pria itu mau melakukan seperti apa yang ia katakan barusan.


“Aku percaya kalau Om akan membantuku, bukan?”


__ADS_2