
Setelah insiden yang terjadi di depan rumah Handi, baik Tania maupun Ferdian jadi tidak bisa terlalu menikmati makan siang mereka, Ferdian sepertinya masih terbayang-bayang tingkah Jihan yang sudah sangat keterlaluan tadi. Tania pun berinisiatif untuk membuka percakapan dengan pria ini.
“Apakah kamu masih memikirkan dia?”
“Kalau dia yang kamu maksud adalah Jihan, maka kamu benar, aku masih memikirkan perilaku wanita itu.”
“Bukankah sudah aku katakan untuk tidak perlu terlalu memikirkan dia?”
“Namun dia hendak melukaimu, Tania.”
“Namun pada kenyataannya dia tidak dapat melakukan itu, kan?”
“Namun tetap saja hal itu tidak dapat menjamin bahwa di masa yang akan datang ia tidak akan mengganggu kita.”
Tania menggenggam tangan Ferdian dan membuat pria itu menatap Tania, wanita tersebut nampak tersenyum padanya seolah memberikan kesejukan pada Ferdian yang saat ini tengah diliputi oleh amarah akibat kelakuan Jhan tadi.
“Terima kasih Tania.”
“Kenapa kamu malah berterima kasih padaku?”
“Karena kamu sudah hadir di dalam hidupku.”
****
Saat ini Jihan masih ada di rumah Handi, ia menceritakan apa yang ia lihat tadi depan rumah, Handi nampak sama sekali tidak terkejut dengan kelakuan Tania dan malah terlihat begitu santai. Namun sikap Handi yang santai dan menganggap bahwa seolah tidak terjadi apa pun saat ini sungguh membuat Jihan jengkel.
“Pa, apakah Papa hanya akan diam saja dan membiarkan Tania dan Ferdian melakukan itu?”
“Bukankah kamu dan Ferdian akan berpisah? Kenapa masih mengurusi urusan mereka?”
“Kenapa Papa malah bertanya seperti itu padaku?”
“Tania, apakah kamu mencintai Ferdian?”
“Apakah Papa bercanda? Tentu saja tidak, andai saja mama tidak menjodohkanku dengan dia, sudah pasti aku tidak akan pernah mau menikah dengannya.”
“Lantas kenapa sikapmu saat ini seperti orang yang cemburu?”
“Cemburu? Aku? Apakah Papa sedang bercanda saat ini?”
__ADS_1
“Sudahlah Nak, Papa tahu bahwa saat ini masih sulit untukmu menerima kenyataan ini, namun hidup harus terus berjalan, kamu tidak boleh berhenti di sini dan tidak menerima semua kenyataan yang ada.”
“Namun ini salah, aku tidak akan pernah dapat menerimanya, Pa!”
“Jihan, Papa tahu bahwa saat ini kamu sulit untuk menerimanya, namun Papa mohon untuk kamu mencobanya, hidup terkadang tidak sepert apa yang kita inginkan.”
****
Ester kembali dipanggil oleh polisi dan ketika ia tiba di kantor polisi, seperti dugaannya para wartawan sudah berada di sana dan menyodorkan mikrofon mereka pada Ester untuk meminta Ester berbicara pada mereka.
“Nyonya boleh minta tanggapannya?”
“Bagaimana perasaan Nyonya saat ini?”
“Apakah Nyonya adalah dalang di balik semua penyerangan itu?”
“Apakah berita di luar sana memang benar bahwa anda telah menyuruh seseorang membunuh mantan suami anda sendiri?”
Namun Ester hanya diam dan sama sekali tidak menanggapi pertanyaan para wartawan barusan, dengan pengawalan super ketat, wanita itu masuk ke dalam kantor polisi dan siap untuk diperiksa sebagai saksi.
Bahkan setelah lebih dari 12 jam berlalu, para wartawan masih saja setia berdiri di depan kantor polisi dan bertanya pada Ester mengenai pemeriksaan dirinya yang memakan waktu lama.
“Tolong kalian semua menyingkir dan tolong berikan jalan untuk kami,” ujar seorang pengawal Ester.
banyak hal padanya.
“Awas saja kalian,” geram Ester saat dia sudah berada di dalam mobilnya.
Ester kemudian meraih ponselnya dan menelpon seseorang, tidak lama kemudian ia menyuruh orang di ujung sambungan telepon itu untuk memulai aksinya.
“Pokoknya segera lakukan itu sekarang juga.”
****
Olaf terduduk di kursi belakang rumah menatap bulan yang bersinar di langit, pikirannya melayang apakah ia harus menyerahkan bukti yang sudah ia miliki ini pada polisi atau ia akan tunduk pada keinginan Jihan. Minanti lagi-lagi yang belum tidur menemukan sang putra tengah duduk sendiran malam-malam seperti ini, ia pun segera menghampiri Olaf dan duduk tepat disebelah Olaf hingga membuat pria tersebut terkejut.
“Mama? Mama belum tidur?”
“Kalau Mama sudah tidur, kenapa Mama ada di sini.”
__ADS_1
Olaf nampak menundukan kepalanya, ia sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun pada Minanti, sang mama kemudian meraih tangan Olaf dan mengusapnya lembut, Olaf pun perlahan menoleh ke arah sang mama. Nampak
Minanti juga tengah menatapnya dengan lembut, Olaf akhirnya menghela napasnya berat, ia memilih untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Jihan tadi.
“Begitu Ma.”
“Lantas bagaimana keputusanmu?”
“Sejujurnya aku bingung, Ma.”
“Menurut Mama, kamu tidak perlu bingung Olaf, kamu sudah memiliki cukup bukti untuk menyeret wanita itu ke penjara.”
“Namun apakah hal tersebut tidak terlalu kejam?”
“Kejam? Kamu ini bicara apa? Lantas apakah kamu ingin menggadaikan kebahagiaanmu dan menuruti apa yang dia katakan?”
Olaf terdiam ketika mendengar pertanyaan Minanti barusan, sang mama kemudian meremas tangan Olaf dan mengatakan bahwa Olaf harus mengambil sikap untuk membuat Jihan menyesali perbuatannya.
****
Nampak beberapa orang berpakaian serba hitam turun dari dalam sebuah mobil, mereka kemudian mengeluarkan beberapa botol jerigen berisi bensin dari dalam mobil itu, mereka perlahan menyiramkan jerigen berisi bensin itu ke sebuah rumah yang tidak lain adalah rumah milik Handi. Namun rupanya aksi mereka dipergoki oleh satpam komplek yang kebetulan melintas karena sedang berpatroli, namun orang-orang itu ikut menyiramkan bensin pada
sang satpam dan langsung menyulut api hingga membuat sang satpam terbakar, salah satu di antara mereka pun ikut menyulutkan api ke arah bensin yang sudah mereka siram di pekarangan rumah Handi.
“Sekarang saatnya.”
Api pun kemudian membesar dan membakar hampir beberapa bagian depan rumah, Tania terbangun ketika mencium adanya bau terbakar dan alangkah terkejutnya ia ketika keluar dari dalam kamar saat ini api sudah
membakar seisi rumah.
“Ya Tuhan ada api!”
Tania panik dan berusaha menyelamatkan dirinya dan Handi, ia pergi ke kamar Handi namun rupanya api sudah menghalangi jalannya hingga ia tidak dapat pergi ke kamar Handi.
“Om Handi! Api!”
Namun Tania dibawa keluar oleh asisten rumah tangga sebelum puing-puing rumah berjatuhan, Tania berusaha melepaskan diri, ia ingin menyelamatkan Handi namun ia tidak diizinkan masuk ke dalam rumah lagi karena
jelas terlalu berbahaya.
__ADS_1
“Berbahaya Nona.”
“Tapi ada Om Handi di dalam, Bi.”