
Selepas sarapan pagi, Minanti pergi ke rumah sakit untuk menemui putranya sekaligus menggantikan suaminya yang semalaman telah menjaga Juan di rumah sakit ini.
“Kamu bisa pulang, aku akan menjaga Juan di sini,” ujar Minanti ketika ia tiba di ruangan inap Juan.
“Kata dokter besok kalau kondisi Juan sudah membaik, maka dia sudah diizinkan pulang,” ujar Bram.
“Benarkah? Itu bagus sekali,” ujar Minanti bahagia.
“Iya aku pun senang mendengarnya, jadi kamu harus
sembuh, dengar itu,” ujar Bram pada Juan.
“Tentu saja, aku yakin kalau besok aku pasti boleh pulang karena aku sudah sangat bosan berada di rumah sakit,” ujar Juan.
“Kalau begitu aku pulang dulu, ya.”
“Hati-hati di jalan.”
Setelah berpamitan kini Bram pun pergi dari rumah sakit itu meninggalkan Juan dan Minanti di ruangan ini, kini Minanti pun menanyakan perihal apa yang Ricky katakan semalam pada Juan, apakah yang pemuda katakan itu memang benar atau tidak.
“Juan, ada sesuatu yang ingin Mama tanyakan padamu,” ujar Minanti.
“Apa itu, Ma?” tanya Juan penasaran.
“Ini menyangkut tentang kamu dan Felli, apakah kalian berdua akan rujuk kembali?”
“Kalau soal itu… aku tidak bisa menjawabnya, Ma.”
“Lho? Memangnya kenapa kamu tidak bisa menjawabnya, Nak?”
*****
Tania sedang sibuk di kantornya mengurusi perkara yang sedang melilit perusahaannya, saat ini kasus lahan bermasalah sudah naik ke tahap yang lebih tinggi di kejaksaan dan hal tersebut membuat gonjang-ganjing
di perusahaan yang dipimpinnya, mayoritas para pemegang saham dan dewan direksi perusahaan meminta agar Tania segera turun tangan menyelesaikan kasus ini agar tidak membuat citra perusahaan terpuruk. Tania yang merasa tidak bersalah dan tidak tahu menahu perihal kasus lahan bermasalah itu merasa bahwa ia tidak perlu turun tangan dan bernegosiasi dengan kejaksaan agar kasus ini dapat ditutupi. Namun tekanan dari internal perusahaan membuatnya gusar apalagi beberapa pemegang saham mayoritas terus mendesaknya turun tangan dalam kasus
ini, Tania pun sudah mengutus orang suruhannya mencari tahu siapa saja orang yang terlibat dalam pembelian lahan bermasalah yang diusut oleh kejaksaan saat ini dan nama-nama yang sudah Tania dapatkan membuatnya terkejut.
“Ini semua nama orang-orang yang terlibat dalam kasus
lahan bermasalah itu, Nyonya.”
“Pantas saja mereka selalu mendesakku untuk turun
__ADS_1
tangan dalam kasus ini, kamu boleh pergi sekarang.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.”
Tania mempelajari dokumen yang baru saja diberikan oleh orang suruhannya yang sudah mencari tahu siapa saja orang-orang internal perusahaannya yang bermain dalam kasus ini namun Tania merasa bingung bagaimana
mendepak mereka semua dari perusahaannya karena mereka memiliki pengaruh yang kuat di dalam perusahaannya.
“Ini tentu bukanlah jalan yang mudah.”
*****
Felli saat ini kembali mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Juan, nampak pria itu sumringah ketika melihat Felli datang untuk menjenguknya di rumah sakit, Minanti dapat melihat perubahan wajah Juan tersebut dan ia merasa ikut senang dengan hal tersebut.
“Kalau begitu Mama akan meninggalkan kalian berdua di sini,” ujar Minanti yang seolah tahu bahwa saat ini Juan dan Felli ingin membicarakan sesuatu hal yang penting.
Maka setelah Minanti pergi dari ruangan inap Juan, suasana di antara mereka pun menjadi agak canggung, baik Juan maupun Felli nampak bingung harus memulai percakapan dari mana atau apa yang harus mereka lakukan
saat ini.
“Ehem, sampai kapan kamu akan berdiri di sana?” tanya Juan yang akhirnya memecah keheningan di antara mereka.
“Maaf.”
“Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Juan berusaha memancing Felli mengatakan apa yang saat ini ada dalam pikirannya.
“Sejujurnya iya… namun aku ragu,” jawab Felli.
“Kenapa kamu ragu? Katakan saja,” ujar Juan yang penasaran dengan apa yang ingin Felli katakan padanya saat ini.
*****
Stefani berusaha masuk ke dalam rumah sakit untuk menjenguk Juan, namun lagi-lagi ia tidak dapat masuk ke dalam sana karena satpam yang berjaga di depan pintu masih tidak mengizinkannya masuk. Namun tentu saja Stefani tidak kehabisan akal, ia menunggu sampai satpam itu lengah setelahnya ia akan berlari dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit itu.
“Kita lihat saja nanti.”
Tidak lama kemudian satpam itu dihampiri oleh seorang nenek, nenek tersebut nampak berbicara sebentar pada satpam hingga akhirnya satpam tersebut mengantarkan sang nenek masuk ke dalam rumah sakit dan
kesempatan itulah yang digunakan oleh Stefani untuk masuk ke dalam rumah sakit, ia segera berlari memasuki rumah sakit itu agar tidak diketahui oleh satpam yang masih sibuk dengan nenek yang meminta bantuannya tadi.
“Akhirnya aku bisa masuk ke lift juga,” ujar Stefani bahagia karena saat ini dirinya sudah ada di dalam lift.
Akhirnya ia sampai juga di lantai di mana Juan sedang dirawat saat ini, secara kebetulan juga tidak ada perawat yang berjaga di meja dekat lift hingga membuat Stefani dapat leluasa menuju ruangan inap Juan, namun
__ADS_1
ketika ia sudah sampai di depan ruangan inap Juan, ia melihat di dalam sana ada Felli dan hal tersebut membuatnya geram bukan main.
*****
Di dalam ruangan inap Juan, nampak Felli ingin mengatakan sesuatu pada Juan namun wanita itu agak ragu mengatakannya, Juan mengatakan pada Felli untuk jangan ragu dan katakan saja apa yang ingin dia
katakan.
“Baiklah, ini tentang apa yang kamu katakan padaku beberapa hari yang lalu.”
“Iya? Ada apa?”
“Maaf kalau aku harus mengatakan ini padamu di tempat ini, namun aku sudah memikirkannya baik-baik.”
“Jadi apa keputusanmu Felli?”
Felli nampak menundukan kepalanya, ia nampak agak berat untuk mengatakan apa keputusan yang sudah ia ambil saat ini, namun belum sempat Felli mengatakannya pintu ruangan inap Juan terbuka dan menampakan sosok
Stefani di sana, mereka berdua nampak terkejut ketika melihat wanita itu ada di ruangan inap Juan.
“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Stefani pada Felli.
“Stefani, kenapa kamu bisa masuk ke sini?” tanya Juan.
“Jadi kamu tidak suka kalau aku datang menjengukmu?” tanya Stefani kesal.
“Bukan seperti itu hanya saja….”
“Sudahlah, kamu tidak perlu mengelak lagi, aku yakin bahwa andai saja aku tidak datang kamu dan wanita ini pasti akan saling mengungkapkan perasaan dan kalian ingin kembali, kan?”
“Stefani jangan bicara sembarangan.”
“Bicara sembarangan katamu? Juan, kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengan wanita ini? Kamu ingin mencampakanku dan anak kita untuk wanita ini, kan?!”
“Aku datang ke sini untuk menjawab pertanyaan itu,” ujar Felli.
“Kamu pasti ingin kembali juga pada Juan, kan?!”
“Maaf namun kamu salah Stefani, aku tidak bisa kembali pada Juan.”
Juan nampak terkejut dengan ucapan Felli barusan, Stefani pun juga nampak agak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Felli barusan.
“Apakah kamu serius?”
__ADS_1