Berkah Cinta

Berkah Cinta
Sosok yang Dinanti


__ADS_3

Stefani yang awalnya ragu pun kemudian akhirnya menceritakan bahwa memang benar ia menyukai Olaf, Minanti sama sekali tidak mengatakan apa pun dan membiarkan Stefani mengeluarkan semua keluh kesahnya namun karena pelayan datang membawakan pesanan mereka, Stefani terpaksa berhenti sejenak sampai akhirnya pelayan itu selesai mengantarkan pesanan dan pergi, barulah ia kembali melanjutkan ceritanya.


“Begitulah Tante.”


“Baiklah Tante mengerti, namun... apakah benar kalau kamu menuduh Olaf menyukai Tania?”


“Tidak, aku tidak menuduhnya.”


“Benarkah? Namun Olaf mengatakan itu pada Tante.”


“Tidak Tante, aku sama sekali tidak pernah menuduh kalau Olaf menyukai Tania.”


“Baiklah, mungkin saja Olaf sengaja menambahkan cerita itu,” ujar Minanti.


“Mungkin saja, namun kenapa dia menambahkan cerita itu pada Tante, ya?”


“Tante sendiri tidak tahu, namun Tante ingin berterima kasih padamu karena kamu sudah mau jujur pada Tante.”


“Tidak masalah Tante, aku ingin minta maaf kalau kejujuranku ini membuat Tante menjadi tidak nyaman.”


“Sama sekali tidak Stefani, justru Tante merasa senang karena akhirnya kamu mau jujur pada Tante.”


“Terima kasih Tante.”


“Sudahlah, mari kita makan.”


“Iya.”


Maka mereka berdua pun kini menyantap hidangan yang tadi sudah mereka pesan, setelah acara makan selesai, Stefani dan Minanti berpisah di depan restoran, Stefani mengucapkan terima kasih pada Minanti yang sudah mau mentraktirnya makan saat ini.


“Aku sangat berterima kasih pada Tante atas makanannya.”


“Sudahlah, kamu tidak perlu berlebihan begitu, Tante juga berterima kasih padamu karena kamu sudah mau datang menemui Tante saat ini.”


****


Ester menemui Handi untuk memaki pria yang sebentar lagi akan berstatus sebagai mantan suaminya itu atas keteledoran yang membuat perusahaan merugi saat ini, Handi sendiri tidak tahu menahu apa yang terjadi saat ini, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Ester datang dan marah-marah padanya.


“Kamu ini kenapa? Kenapa datang-datang langsung marah padaku?”

__ADS_1


“Apakah kamu ini memiliki mata? Bagaimana bisa kamu menandatangani sebuah dokumen penting seperti ini, namun kamu tidak mengecek setiap poin yang disodorkan oleh mereka.”


“Memangnya ada masalah apa dengan dokumen itu?”


“Kamu masih bertanya ada masalah apa dengan dokumen ini? Kamu tahu bahwa perusahaan rekan kerja kita membatalkan kerja sama dan kita dituntut membayar semua ganti ruginya!”


“Apa maksudmu?”


Ester menyodorkan dokumen itu pada Handi, dan pria itu mencari poin yang menjadi masalah itu dan benar saja ia akhirnya menemukan poin yang membuat Ester menjadi kesal sekali saat ini.


“Ya Tuhan, bagaimana bisa kamu seteledor ini?!”


“Namun itu bukan urusanku saat ini.”


Ester nampak terkejut dengan ucapan Handi barusan, bagaimana mungkin dia mau lepas tangan begitu saja setelah masalah yang ia buat saat ini?


“Apa maksudmu? Apakah kamu ingin lepas tangan setelah apa yang kamu lakukan ini, hah?!”


****


Minanti berbicara dengan Olaf bahwa tadi ia telah bertemu dengan Stefani, dan wanita itu pun sudah mengakui bahwa ia memang menyukai Olaf, namun ketika Minanti menyinggung perihal ucapan Stefani yang menyudutkan Olaf seolah-olah Olaf mencintai Tania, dia sama sekali tidak mengakuinya.


“Mama sendiri tidak merasakan itu, namun Mama dapat merasakan bahwa ketika Mama menyebut nama Tania di depannya, raut wajahnya agak berubah, namun ia dapat dengan lihainya menutupi itu.”


“Wanita itu ....”


“Sudahlah Olaf, kamu tidak perlu memikirkan Stefani, cukup fokus saja dengan pekerjaanmu, ok?”


“Aku sebenarnya ingin begitu, Ma, namun dia terus saja membuatku terganggu dengan kehadirannya, tidak lama lagi dia pasti akan mendatangi kantor ini lagi untuk menemuiku.”


“Mama akan mencoba bicara dengannya.”


“Terima kasih, Ma.”


“Kalau begitu, Mama permisi dulu, maaf karena sudah mengganggu waktu kerjamu.”


“Sama sekali tidak masalah, Ma, Mama sama sekali tidak menggangguku, kok.”


“Mama pamit dulu.”

__ADS_1


“Hati-hati di jalan, sampai bertemu nanti di rumah.”


“Iya sayang, semangat bekerja.”


Setelah kepergian Minanti kini Olaf jadi kesal pada Stefani, rupanya wanita itu ingin membuat Olaf berbohong di depan Minanti, namun untung saja sang mama lebih mempercayainya dari pada wanita itu.


****


Saat ini Jihan sedang berada di sebuah mall dan tengah melihat-lihat pakaian yang ada di sebuah toko, setelah ia membeli beberapa pakaian baru dan keluar dari toko itu, ia merasakan kalau ponsel yang ada di dalam tasnya berdering, ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan memeriksa ponselnya, kira-kira siapakah yang menelponnya saat ini dan rupanya saat ia melihat layar ponselnya saat ini, Ferdian yang menelponnya.


“Untuk apa dia menelponku?”


Namun tentu saja Jihan tetap menjawab telepon dari Ferdian, ia menanyakan pada suaminya itu kenapa Ferdian menelpon saat ini, Ferdian menelpon karena Ester memintanya untuk bertemu saat ini.


“Apakah kamu tahu kenapa mamamu ingin bertemu denganku?”


“Mana aku tahu, aku tidak peduli dengan urusannya.”


“Begitu, ya, baiklah kalau memang kamu tidak tahu.”


“Hei, namun setelah kamu bertemu dengan mama, jangan lupa beri tahu aku apa yang dia bicarakan denganmu, ya?”


“Kamu pasti penasaran juga, kan? Kalau kamu memang penasaran kenapa kamu tidak menelpon dan bertanya secara langsung padanya?”


“Untuk apa aku harus melakukan itu, bukankah dia menelponmu? Maka kamu yang seharusnya bertemu dengan mama, sudahlah pokoknya temui saja dia dan beri tahu aku apa yang membuatnya ingin bertemu denganmu.”


****


Saat ini Minanti sudah berada di Bandara, ia tengah menunggu seseorang di pintu kedatangan internasional, ia sengaja tidak memberitahu semua orang karena ia memang ingin membuat sebuah kejutan pada semua orang. Sesekali Minanti melirik ke arah arloji yang ia kenakan untuk mengetahui saat ini sudah pukul berapa, seharusnya pesawat yang membawa orang itu sudah mendarat saat ini, namun kenapa sampai saat ini orang itu belum juga


keluar, ya?


“Harusnya pesawatnya sudah mendarat jam segini, namun kenapa dia belum muncul, ya?”


Minanti menunggu dengan gelisah bersama dengan ratusan orang lain yang berdiri di sampingnya sambil membentangkan tulisan agar mereka mudah dikenali, namun Minanti tidak melakukan itu karena ia yakin orang itu


pasti akan segera mengenali dirinya ketika ia keluar dari terminal kedatangan internasional. Akhirnya setelah penantian yang panjang, orang yang sejak tadi Minanti tunggu muncul juga, Minanti melambaikan tangannya pada wanita yang mengenakan kacamata hitam itu, wanita tersebut langsung mengarahkan pandangannya pada Minanti dan ia nampak tersenyum padanya sebelum ia berjalan ke arah Minanti, Minanti sendiri langsung berlari ke arah wanita itu dan memeluknya erat, ia begitu senang karena akhirnya wanita ini kembali juga ke Indonesia.


“Akhirnya kamu kembali juga, Nak, Tante sangat bahagia sekali,” ujar Minanti ketika ia sedang berpelukan dengan wanita ini.

__ADS_1


__ADS_2