
Handi nampak dapat melihat keseriusan di mata Ferdian ketika pria ini mengatakan hal tersebut, Handi pun nampak membuang napasnya berat, ia kembali bertanya pada Ferdian lantas kenapa ia memilih untuk menikah
dengan Jihan kalau memang pria ini tidak mencintainya?
“Anda tahu sendiri bagaimana mamaku dan mamanya Jihan sangat ingin kami bersama? Sebelumnya kami sudah pernah mengatakan pada mereka bahwa kami keberatan dengan rencana perjodohan ini, namun anda bisa lihat
sendiri bagaimana mereka itu benar-benar keras kepala?”
“Aku minta maaf atas apa yang sudah Ester lakukan padamu.”
“Sudahlah, anda tidak perlu meminta maaf, saya datang ke sini untuk mengajak Tania pergi, apakah dia ada?”
“Iya, dia ada sebentar, aku akan panggilkan dia dulu.”
Tidak lama kemudian Tania muncul dari dalam rumah, Ferdian langsung mengajak Tania untuk pergi dengannya, ketika mereka sudah ada di dalam mobil, Tania nampak ingin mengetahui apa saja yang tadi Ferdian dan
Handi bicarakan.
“Ferdian, apa yang tadi kamu dan Om Handi bicarakan?”
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin tahu saja, statusmu saat ini kan masih menantunya.”
“Aku jujur padanya mengenai perasaanku padamu.”
Tania nampak terkejut ketika mendengar ucapan Ferdian barusan, rupanya pria ini tergolong berani juga mengatakan kejujurannya pada Handi.
****
Minanti kini mengerti dengan apa masalah yang tengah Olaf hadapi, ia meyakinkan Olaf bahwa Jihan akan baik-baik saja namun Olaf dihantui oleh perasaan bersalah yang berlebihan pada wanita itu karena sudah membuat Jihan celaka.
“Mama mengerti kamu merasa bersalah, namun jangan sampai rasa bersalah itu terus menerus menghantuimu.”
“Lantas kalau dia meninggal dunia bagaimana?”
“Olaf, jangan mendahului takdir Tuhan, belum tentu juga Jihan akan meninggal dunia akibat kecelakaan itu.”
“Namun luka yang ia derita cukup parah.”
“Olaf, Mama tahu kalau saat ini kamu sedang gelisah dan juga khawatir, namun jangan sampai hal-hal tersebut membuat emosimu menjadi tidak stabil, saat ini kamu butuh istirahat.”
Minanti pun membawa Olaf menuju kamarnya, ia meminta Olaf untuk beristirahat di dalam kamar dan tidak memikirkan apa pun tentang Jihan, Minanti pun kemudian pergi dari kamar putranya untuk membiarkan Olaf
beristirahat, namun saat Olaf hendak memejamkan matanya, ia tetap tidak bisa melakukannya, ia sudah mencoba berkali-kali untuk terpejam walau hanya sesaat namun tidak bisa.
“Ya Tuhan, aku selalu saja terbayang-bayang oleh kejadian itu,” lirih Olaf.
__ADS_1
Olaf meraih ponselnya dan mencari kontak seseorang di sana, kontak yang ia cari saat ini adalah Tania, namun ketika sudah menemukan kontak Tania, ia malah ragu apakah ia harus menelpon dia atau tidak.
****
Di tempat yang lain saat ini Ferdian dan Tania tengah makan bersama, Tania dapat melihat keseriusan Ferdian tentang pria itu akan menikahinya, tidak pernah terbayang dalam benak Tania bahwa ia akan terjebak dalam situasi seperti ini, kalau ia bercerita jujur pada Ferdian bahwa ia tidak pernah mencintainya, pasti hal tersebut akan sangat menyakiti Ferdian, namun apakah dengan berdusta seperti ini adalah suatu hal yang baik?
“Tania, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, ya?”
“Apa?”
“Apa yang saat ini sedang kamu pikirkan?”
“Tidak kok, aku sedang tidak memikirkan apa pun.”
“Baiklah kalau kamu tidak mau menceritakannya padaku, toh aku juga tidak akan memaksamu untuk bercerita.”
Tania tersenyum pada Ferdian, dan mereka pun kembali menyantap makanan mereka hingga habis, sebelum mengantarkan Tania pulang ke rumah, Ferdian sempat memberikan sesuatu pada Tania.
“Aku memiliki sesuatu untukmu.”
“Sesuatu?”
“Tunggu sebentar,” ujar Ferdian yang kemudian pergi ke mobilnya untuk mencari sesuatu yang hendak ia berikan pada Tania.
Tidak lama kemudian pria itu kembali ke arah Tania dan ia membawa sebuah kotak yang membuat Tania penasaran, kira-kira apa isi di dalam kotak tersebut.
“Kalau kamu penasaran dengan isi kotaknya, maka kamu dapat membukanya saat ini.”
****
Handi kembali datang ke rumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Jihan saat ini, namun rupanya kondisi Jihan masih kritis dan ia masih berada di ruang ICU, Ester nampak tidak suka ketika Handi kembali lagi datang ke rumah sakit ini, ia bahkan malah mengusir Handi untuk pergi saja dari rumah sakit ini.
“Mau apa lagi kamu datang ke sini? Lebih baik kamu pergi saja dari rumah sakit ini.”
“Ester, aku datang ke sini karena aku ingin tahu bagaimana keadaan Jihan.”
“Sudahlah Handi, jangan membuatku muak denganmu, lebih baik kamu pergi saja dari rumah sakit ini.”
“Apakah kamu masih marah padaku akibat kejadian hari itu?”
“Tentu saja, kamu selalu saja membela wanita itu, sudah jelas kalau dia adalah orang yang menyebabkan Jihan masuk rumah sakit dan kondisinya kritis sampai saat ini.”
“Ester, kamu tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti seperti itu.”
“Sudahlah Handi, mendengar kamu selalu membela wanita itu membuat kepalaku pusing dan rasanya ingin meledak!”
Handi menghela napasnya dan kemudian ia terpaksa pergi dari rumah sakit itu karena tidak ingin Ester membuat keributan di sana, ketika ia keluar dari rumah sakit ini ia berpapasan dengan Tania yang sepertinya juga ingin menjenguk Jihan.
__ADS_1
“Om Handi baru dari sini?”
“Tania? Lebih baik kamu tidak perlu datang ke sini.”
****
Tania menerima telepon dari seseorang yang tidak lain adalah Olaf, pria itu bertanya pada Tania bagaimana keadaan Jihan saat ini, Tania pun mengatakan pada Olaf bahwa kondisi Jihan sampai saat ini belum
sadarkan diri, dia masih kritis kondisinya.
“Ya Tuhan.”
“Sudahlah, kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu.”
“Namun Tania, aku yang menyebabkan Jihan seperti itu.”
“Tidak Olaf, Tuhan sudah menggariskan itu semua.”
“Namun Tania ….”
“Sepertinya kamu butuh istirahat saat ini, jangan memaksakan dirimu bekerja kalau kamu tidak baik-baik saja, lebih baik pulihkan dulu kesehatan kamu baru kembali bekerja, ok?”
“Baiklah.”
“Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya, ya?”
“Iya, terima kasih sudah memberitahuku informasi
terkini tentang Jihan.”
“Tidak masalah.”
Setelah Tania bertelpon dengan Olaf, kini ponsel Tania kembali berdering, kali ini Minanti yang menelpon Tania, dengan segera Tania menjawab telepon dari wanita ini.
“Halo Nyonya?”
“Kenapa sejak tadi teleponmu tidak tersambung?”
“Itu karena barusan Olaf menelponku.”
“Olaf? Apa yang dia bicarakan denganmu?”
“Dia mengatakan merasa bersalah karena sudah membuat Jihan terbaring di rumah sakit seperti itu.”
“Sudah aku duga bahwa dia pasti masih merasa bersalah, sejujurnya aku khawatir dengan kesehatan dia, baik fisik maupun mentalnya.”
“Aku pun demikian Nyonya, Olaf sepertinya terkurung oleh perasaan bersalah berlebihan karena sudah membuat Jihan terbaring di rumah sakit saat ini.”
__ADS_1