Berkah Cinta

Berkah Cinta
Janji Pembalasan


__ADS_3

Bram tiba di depan kamar apartemen Tania, pria tu menekan bel pintu dan tidak lama kemudian akhirnya pintu pun terbuka dan menampakan sosok Tania di sana.


“Tuan?”


“Apa kabar Tania?”


Sementara itu Olaf dan Minanti yang berada di dalam apartemen Tania sekilas mendengar percakapan antara Tania dan Bram, seketika perasaan Minanti menjadi gelisah saat ini, ia seolah tahu apa yang membuat Bram datang ke apartemen Tania ini.


“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Minanti ketika suaminya itu masuk.


“Sepertinya kamu tidak suka aku datang ke sini,” ujar Bram.


“Sebenarnya kenapa Mama datang ke sini?” kali ini giliran Olaf yang bertanya pada sang papa.


“Karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua.”


“Apa maksudmu?” tanya Minanti.


Kini Bram menatap ke arah Tania hingga membuat ia bingung, sebenarnya apa yang terjadi di sini.


“Tania kamu harus tahu kebenaran mengenai masa lalu papamu.”


“Apa?”


“Bram!”


“Kenapa Minanti? Sepertinya kamu takut sekali kalau aku menceritakan ini padanya?”


****


Tania yang penasaran kemudian meminta agar Bram segera mengatakan semuanya namun Minanti agak keberatan dengan itu, ia meminta agar Tania tidak perlu mendengar ucapan Bram ini.


“Kenapa kamu tidak mengizinkan Tania mendengarkan ceritaku?”


“Iya Nyonya, sebenarnya apa yang Nyonya sembunyikan selama ini dariku?” tanya Tania.


Minanti jadi merasa terpojokan saat ini, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membela dirinya karena Tania pun sudah mengutarakan rasa curiganya terhadap dirinya.


“Tuan, tolong katakan,” ujar Tania.


“Baiklah, dulu papamu dan istriku memiliki hubungan.”


“Apa?”


“Iya, mereka memiliki hubungan yang lebih dari sebatas teman dekat.”


Minanti pun menatap tajam ke arah Bram, namun pria itu nampak tidak mempedulikannya, ia terus menceritakan masa lalu Minanti dan Bima pada Tania serta Olaf yang menyimak semuanya dengan seksama, Minanti menjadi


gelisah namun ia tidak bisa menghentikan Bram yang terus menerus membeberkan rahasia masa lalunya.

__ADS_1


“Apakah yang Tuan Bram katakan itu benar? Anda dan mendiang papaku memiliki hubungan spesial lebih dari sekedar teman?” tanya Tania pada Minanti yang sejak tadi diam dan menundukan kepalanya.


“Tania bertanya padamu, kenapa hanya diam saja?” tanya Bram pada istrinya.


“Tania… aku ….”


“Tolong Nyonya jujur padaku.”


“Iya Ma, tolong Mama jujur pada kami semua,” ujar Olaf.


*****


Kini Juan mendatangi kantor polisi untuk dimintai keterangan soal pemukulan dirinya pada Ricky, di depan kantor polisi sudah banyak wartawan yang menunggu kedatangannya dan ketika ia tiba, para wartawan langsung menodongnya dengan berbagai pertanyaan yang membuat Juan jengah namun pria itu sama sekali tidak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan oleh para wartawan dan dengan pengawalan ketat.


“Tuan Juan, boleh minta komentarnya dengan kasus ini?”


“Apakah yang disangkakan itu benar?”


“Apakah Tuan Juan memang melakukan pemukulan?”


Dan masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan oleh para wartawan namun tidak dijawab oleh Juan, setelah 6 jam diperiksa oleh polisi, kini Juan diizinkan pulang dari kantor polisi masih dengan pengawalan ketat, wartawan kembali menodongnya dengan berbagai pertanyaan namun lagi-lagi Juan tidak menjawab satu pun pertanyaan yang wartawan ajukan padanya, ia segera berlalu masuk ke dalam mobilnya.


“Kita akan ke mana Tuan?” tanya sopirnya.


“Kita pergi ke rumah pemuda itu,” jawab Juan singkat.


“Kita sudah sampai Tuan.”


“Aku tahu.”


Juan pun turun dari mobilnya dan berjalan menyusuri gang kecil itu hingga akhirnya dirinya sudah sampai di depan rumah kontrakan Ricky.


*****


Bram, Minanti dan Olaf tiba di rumah, Minanti langsung masuk ke dalam kamar dan sepanjang perjalanan pulang tadi, wanita itu sama sekali tidak mengatakan apa pun dan lebih memilih memalingkan wajahnya ke luar


jendela.


“Apakah itu benar?” tanya Olaf.


“Yang mana?” tanya Bram.


“Semua yang Papa ceritakan tadi,” jawab Olaf.


“Tentu saja, Papa bicara sesuai bukti yang selama ini Papa kumpulkan,” ujar Bram.


“Lalu kenapa baru sekarang Papa mengatakannya?”


“Karena Papa terlalu percaya pada dia, Papa pikir dia tidak memiliki rahasia seperti ini, namun setelah melihatnya menatap foto dari sebuah buku yang sampulnya sudah usang membuat Papa berubah pikiran dan ternyata semua

__ADS_1


itu benar, Papa yang terlalu percaya padanya sampai akhirnya kita mengetahui yang sebenarnya saat ini.”


“Sulit untuk dipercaya.”


“Iya, memang sulit untuk kita percaya, namun itulah kenyataannya.”


“Kalau begitu aku masuk ke kamarku dulu, selamat malam, Pa.”


“Selamat malam, Nak.”


Setelah Olaf naik ke kamarnya yang ada di lantai dua, kini Bram masuk ke dalam kamar yang ia huni bersama Minanti, nampak istrinya itu sudah berbaring di atas tempat tidur dengan menutupi dirinya dengan selimut.


“Aku minta maaf karena harus melakukan semua ini, namun aku tidak mau sampai kamu terus merahasiakan hal ini dari Tania.”


“Apa maksudmu?”


*****


Ricky terkejut ketika melihat sosok Juan berdiri di depan pintu rumah kontrakannya, bertepatan dengan itu sebuah kilat menyambar dengan keras hingga membuat suasana makin mencekam, hujan pun tidak lama turun dengan derasnya dari langit.


“Apakah kamu akan membiarkanku kehujanan?”


“Silakan masuk.”


Ricky pun mempersilakan Juan masuk ke dalam rumahnya, ia tak tahu apa yang akan Juan lakukan padanya saat ini namun ia sudah berjaga-jaga kalau pria ini akan melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.


“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Ricky akhirnya karena sejak tadi Juan sama sekali tidak mengatakan apa pun.


“Apakah kamu sudah merasa puas?”


“Apa?”


“Aku sudah menawarkan jalan damai namun kamu memilih jalur hukum.”


“Maaf, namun saya terpaksa melakukan semua ini karena tindakan anda sudah keterlaluan.”


“Berapa banyak yang kamu inginkan? Apakah uang yang diberikan kakakku tidaklah cukup?”


“Ini bukan soal uang.”


“Jangan munafik Ricky, aku tahu kamu mendekati Felli karena uang, kamu tidak lebih rendah dari sebuah sampah dengan menggunakan trik seperti ini untuk menarik simpati darinya.”


“Jaga bicara anda!”


“Kenapa? Apakah yang aku katakan salah?”


“Kalau anda datang ke sini hanya untuk menghina saya maka lebih baik anda pergi dari sini.”


“Tanpa kamu suruh pergi pun, aku dengan senang hati akan angkat kaki dari tempat ini, namun satu hal yang perlu kamu ingat, walaupun aku dan Felli kelak akan berpisah, namun bukan berarti aku akan melepaskanmu, aku akan membalas perbuatanmu ini.”

__ADS_1


__ADS_2