
Jihan nampak langsung pergi dari hadapan pria itu, di dalam mobilnya ia tak kuasa untuk membendung air matanya keluar, ia menangis sepuasnya hingga setelah ia menumpahkan semua emosi yang menyesakan dadanya kini Jihan nampak mulai dapat tenang dan menguasai dirinya.
“Tidak apa, kamu dan dia adalah sebuah masa lalu, tidak perlu kamu pikirkan.”
Jihan melajukan kendaraannya meninggalkan taman itu untuk segera pulang ke rumah, ia berusaha untuk fokus dalam mengemudi agar tidak celaka, hingga akhirnya ia pun tiba di rumah, Ester bertanya padanya namun Jihan tidak mempedulikan mamanya itu, Jihan langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menguci pintunya.
“Tidak, aku baik-baik saja.”
Jihan berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja, namun tetap saja air mata terus membanjiri kedua pipinya, Ester yang khawatir pada keadaan Jihan, mengetuk pintu kamar Jihan namun Jihan mengacuhkan
Ester.
“Jihan, kamu dengar Mama, Nak?”
Ester masih terus saja berusaha mengetuk pintu kamar Jihan berharap bahwa Jihan akan membukakan pintu untuknya namun sepertinya apa yang diinginkan oleh Ester tidak tercapai, Jihan tetap saja tidak membukakan
pintu untuknya.
“Jihan, Mama mohon buka pintunya, Nak.”
*****
Ester tentu saja bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Jihan saat ini, kenapa tiba-tiba saja Jihan pulang dalam keadaan menangis lagi, baru saja ia akan mencoba menghubungi Ferdian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya, Jihan muncul dari lantai dua, ia nampak sudah berganti pakaian dan berjalan menuju dapur.
“Jihan, Mama ingin bicara denganmu.”
“Apa yang ingin Mama bicarakan padaku?”
“Apa yang terjadi padamu?”
“Aku baik-baik saja, Mama tidak perlu khawatir.”
“Bagaimana mungkin Mama tidak khawatir, Nak? Kamu jelas sekali tidak baik-baik saja.”
“Ma, aku sudah mengatakan bahwa aku baik-baik saja, apakah Mama tidak bisa percaya dan berhenti bertanya padaku?! Kepalaku rasanya mau pecah sekarang!”
Setelah mengatakan itu Jihan langsung pergi kembali ke kamarnya, Ester makin bingung sebenarnya apa yang terjadi pada Jihan saat ini, satu-satunya cara agar ia tahu apa yang saat ini terjadi pada Jihan adalah menghubungi Ferdian, pasti pria itu tahu apa yang membuat Jihan menjadi seperti ini.
“Halo Tante?”
“Halo Ferdian, Maaf Tante lagi-lagi mengganggu kamu, ya?”
__ADS_1
“Tidak kok, ada apa Tante menelponku?”
“Begini, apakah kamu tahu apa yang terjadi pada Jihan tadi?”
“Jihan? Memangnya apa yang terjadi pada Jihan?”
“Dia pulang dalam keadaan sedih, ketika Tante tanya dia malah marah-marah dan tidak menjawab kenapa dia begitu sedih.”
*****
Handi membantu Tania memakan makanannya, Tania sudah mengatakan pada Handi bahwa pria itu tidak perlu membantunya karena ia dapat melakukan semua itu sendiri, namun Handi tetap saja mengatakan bahwa ia ingin
membantu Tania makan.
“Aku baik-baik saja Om, kedua tanganku masih bisa berfungsi normal.”
“Baiklah kalau begitu.”
Maka Handi pun memberikan kesempatan pada Tania membuktikan ucapannya bahwa ia bisa makan sendiri dan Tania pun memang dapat makan sendiri saat ini, Handi diam-diam memperhatikan Tania yang sedang makan
hingga akhirnya Tania pun nampak bingung kenapa Handi menatapnya seperti itu.
“Om, kenapa menatapku seperti itu?”
“Begitu rupanya.”
“Semoga saja papamu tenang di sana.”
“Amiin, ngomong-ngomong soal papa, aku jadi merindukannya.”
“Nanti kalau kamu sudah diizinkan dokter pulang, maka Om janji akan membawamu bertemu dengan papa dan mama.”
“Terima kasih Om.”
“Tidak masalah sayang, sekarang kamu makan dulu, ya.”
Tania menganggukan kepalanya dan memakan makanan yang sudah tersedia di sana, ketika Tania sedang makan itulah pintu ruangan inap Tania terbuka dan menampakan sosok Minanti yang ingin menjenguk Tania di sini.
“Maaf, saya pikir kamu sedang tidak makan.”
“Tidak apa Nyonya, ada apa?”
__ADS_1
“Ah, tidak, kamu lanjutkan saja makanmu, aku ada urusan dengan Tuan Handi.”
*****
Ester bertemu dengan calon besannya untuk membahas perihal acara pertunangan kedua anak mereka yang sudah semakin dekat, Ester dan Maya sama-sama sibuk membicarakan apa saja hal-hal yang perlu mereka persiapkan jelang pertunangan, Ester dan Maya tentu saja ingin pertunangan Jihan dan Ferdian diliput oleh banyak media dan menampilkan kesan mewah agar membuktikan bahwa status sosial mereka bukanlah datang dari keluarga biasa saja melainkan keluarga kaya raya yang berpengaruh di negara ini.
“Bagaimana dengan konsep seperti ini?”
“Aku suka sekali.”
Dan setelah mereka menentukan konsep dan pakaian apa saja yang akan dikenakan Jihan dan Ferdian nanti di acara pertunangan, kini Maya menanyakan sesuatu pada Ester, pertanyaan Maya itu cenderung menyudutkan
Ester namun Maya tidak bermaksud seperti itu.
“Kenapa kamu menanyakan perihal suamiku yang sudah dipecat dari jabatannya? Apakah kamu ingin membatalkan pertunangan ini?”
“Tentu saja tidak, kamu tahu sendiri bahwa aku ini adalah orang yang pantang untuk menarik kembali kata-kataku, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggungmu.”
“Kalau kamu memang tidak bermaksud untuk menyinggungku, kenapa kamu menanyakan soal suamiku yang kehilangan pekerjaan? Apakah saat ini kamu sedang mengejekku?”
“Sepertinya kamu sudah salah paham padaku.”
“Aku tidak salah paham, aku harap kamu lebih menjaga ucapanmu kembali, aku permisi dulu.”
*****
Handi dan Minanti bicara di luar ruangan inap Tania, Minanti mengatakan bahwa ia bersiap untuk menjadi donatur operasi rekonstruksi wajah dan tubuh Tania yang terbakar, Handi tentu saja terkejut dengan niat Minanti itu, ia justru merasa tidak enak dengan niatan baik wanita ini.
“Bukannya saya menolak Nyonya, hanya saja...sepertinya Nyonya terlalu berlebihan.”
“Tuan Handi, saya tahu bahwa anda ada di posisi sulit saat ini, jadi tolong terima uluran bantuan saya, saya ikhlas melakukan ini demi Tania.”
“Namun Nyonya, biaya operasi itu tentu saja tidaklah sedikit.”
“Tentu saya tahu, sudahlah Tuan Handi tidak perlu khawatir, saya sudah berbicara dengan suami saya, dan beliau juga sudah memberikan saya izin untuk ini.”
Handi nampak bingung harus mengambil keputusan apa saat ini, apakah ia harus menerima uluran bantuan dari Minanti ini dengan tangan terbuka? Atau lebih baik ia tolak saja? Namun kalau ia menolak uluran tangan Minanti, ia merasa kasihan pada Tania, masa depan gadis itu masih panjang dan kalau kulitnya bisa disembuhkan kenapa tidak ia coba?
“Saya melakukan semua ini ikhlas untuk Tania, karena saya yakin dia akan menjadi seseorang di masa depan.”
“Izinkan saya memikirkan ini dulu dan berdiskusi dengan Tania.”
__ADS_1
“Baiklah, namun saya mohon segera buat keputusan karena saya sudah membuat janji dengan dokter bedah ternama di Korea Selatan yang siap membantu operasi ini.”
“Baiklah Nyonya, terima kasih.”