
Jihan terfokus pada Olaf yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk Tania, ia tentu saja kesal bahkan di saat Tania tak sadarkan diri pun Olaf masih saja menjenguknya, ia tidak menyadari kalau Ferdian sejak tadi memanggil namanya andai saja pria itu tidak menepuk bahunya mungkin saja Jihan tidak akan sadar bahwa saat ini ia sedang menatap Olaf tak berkedip.
“Apa yang kamu lihat?”
“Aku mendadak ingin pulang saja.”
“Kalau begitu aku bisa mengantarkanmu.”
“Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri.”
Jihan pun segera pergi dari rumah sakit meninggalkan Ferdian yang masih bingung apa yang terjadi padanya, Jihan masuk ke dalam mobilnya dan memegang erat stir mobilnya, ia benar-benar jengkel pada Tania,
kenapa harus Tania yang mendapatkan Olaf?
“Kamu pikir aku akan diam saja dan menerima semua ini? Kamu salah Tania, kamu tidak akan pernah mendapatkan Olaf.”
Setelah mengatakan itu Jihan melajukan kendaraannya dengan cukup kencang, ia terus mengemudi dalam keadaan kesal hingga ia tak menyadari bahwa di depannya sebuah mobil berhenti mendadak, namun sudah
terlambat untuknya menginjak pedal rem hingga akhirnya mobilnya menabrak bagian belakang mobil itu.
*****
Sementara itu di rumah, Ester terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa saat ini Jihan ada di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan, Ester langsung pergi ke rumah sakit untuk mengetahui bagaimana keadaan Jihan saat ini dan untungnya saja dokter mengatakan bahwa Jihan hanya mengalami luka ringan akibat kecelakaan itu.
“Terima kasih banyak dokter.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Setelah dokter pergi, kini Ester menghampiri Jihan untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya, namun Jihan sama sekali tidak mengatakan apa pun, Ester pun kesal dengan tingkah Jihan ini.
“Mama datang ke sini karena Mama mengkhawatirkanmu Jihan.”
“Aku lelah, Mama bisa keluar saja.”
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa sampai kamu kecelakaan?”
“Namanya juga kecelakaan, mana aku tahu kalau hari ini aku akan sial.”
“Jihan, Mama bertanya serius padamu.”
“Semua karena Tania, saat dia tak sadarkan diri pun dia masih saja membuatku kesal.”
__ADS_1
“Tania? Memangnya dia kenapa?”
“Sudahlah, aku malas membahas mengenai hal tersebut.”
Ester menghela napasnya panjang, ia bilang bahwa saat ini ia akan mengurus biaya pengobatan Jihan namun anaknya itu tidak mengatakan apa pun dan membiarkan Ester keluar dari ruangan inapnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada anakku?” tanya Ester pada petugas pusat informasi.
Petugas itu memberitahu apa yang terjadi pada Ester dan akhirnya Ester dapat memahami kenapa Jihan bisa mengalami kecelakaan, Ester mengatakan bahwa ia juga yang akan menanggung biaya pengobatan orang yang luka akibat kelalaian anaknya itu.
*****
Kabar bahwa Jihan masuk rumah sakit membuat Handi menghubungi Jihan untuk menanyakan bagaimana kabar putrinya itu, Jihan saat ini sudah diizinkan pulang oleh dokter dan kondisinya sudah membaik, Jihan meminta agar Handi tidak perlu mencemaskannya karena ia sudah baik-baik saja.
“Siapa itu?” tanya Ester setelah Jihan menutup sambungan teleponnya.
“Papa, memangnya siapa lagi.”
“Dia menelponmu?” tanya Ester heran.
“Memangnya kenapa kalau Papa menelponku? Kami sering bertelepon,” jawab Jihan cuek.
“Dia menelponmu namun dia tidak pernah mau menelponku, kalau aku datang ke hadapannya maka dia akan berlagak acuh padaku, dasar menyebalkan,” ujar Ester kesal.
“Baiklah, Mama akan keluar sekarang juga seperti yang kamu inginkan, apakah kamu puas?!”
Setelah mengatakan itu Ester pun keluar dari dalam kamar Jihan, sepeninggal Ester kini Jihan hanya sendirian di dalam kamarnya, ia merasa begitu bosan hingga akhirnya ia meraih ponselnya untuk mencari kontak seseorang di sana, ia pun segera menelpon orang tersebut.
“Kenapa kamu menelponku?”
“Memangnya salah kalau aku menelponmu?”
“Ada apa?”
“Hum, aku butuh teman, bisakah kamu datang ke sini?”
*****
Handi masih setia menunggu sampai Tania siuman, walaupun dokter bilang Tania sudah melalui masa kritisnya namun dokter tidak tahu kapan Tania akan siuman, Handi meninggalkan pekerjaannya di kantor dan mempercayakan semua pekerjaannya pada wakilnya, ia tidak mau sampai kehilangan moment ketika Tania akhirnya siuman, ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Tania ketika nanti gadis ini siuman.
“Permisi.”
__ADS_1
Handi melirik ke arah pintu, nampak Minanti datang bersama dengan menantunya saat ini, Handi berdiri dan menyambut mereka berdua, Minanti bertanya pada Handi mengenai bagaimana kabar Tania sampai saat ini, Handi
mengatakan bahwa sampai saat ini Tania masih belum juga sadarkan diri.
“Sampai saat ini dia masih belum juga siuman, dokter pun tidak tahu sampai kapan dia akan begini.”
“Aku turut bersedih dengan yang dialami oleh Tania, namun aku juga berharap bahwa Tania bisa segera siuman.”
“Terima kasih banyak.”
Handi mendapatkan telepon saat ini, ia meminta izin keluar dulu sebentar untuk menerima panggilan telepon ini, tidak lama kemudian Handi kembali masuk ke dalam dan mengatakan bahwa saat ini dirinya harus pergi ke kantor dan meminta agar Minanti menjaga Tania sampai dirinya kembali.
“Tuan Handi tidak perlu khawatir, kami akan menunggu di sini sampai anda kembali.”
“Terima kasih banyak, saya permisi dulu.”
****
Ferdian datang ke rumah seperti permintaan Jihan, ia terkejut saat tahu bahwa kemarin Jihan mengalami kecelakaan dan sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, namun Jihan mengatakan bahwa Ferdian tidak perlu
bersikap berlebihan begitu karena sekarang dirinya sudah baik-baik saja dan tidak ada lagi yang perlu pria itu khawatirkan.
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku karena sekarang aku sudah baik-baik saja.”
“Baiklah kalau memang kamu sudah baik-baik saja katakan padaku apa yang membuatmu memanggilku datang ke sini?”
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku butuh teman untuk curhat?”
“Baiklah, aku siap untuk mendengarkanmu.”
Jihan jadi bingung apa yang ingin ia katakan pada Ferdian, padahal sebelum Ferdian tiba, ia sudah tahu apa yang ingin ia katakan pada pria ini, Ferdian sendiri nampak menunggu dengan sabar hingga Jihan mengeluarkan kata-kata namun sampai detik ini, Jihan tidak juga mengatakan apa pun.
“Jihan, apakah kamu sedang mempermainkanku?”
“Mempermainkan apanya?”
“Kamu bilang bahwa kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, namun sampai detik ini kamu tidak juga mengatakan apa pun padaku.”
“Sejujurnya tadi sebelum kamu datang ke sini, aku sudah tahu apa yang hendak aku katakan padamu, namun entah kenapa tiba-tiba saja semuanya hilang setelah kamu datang ke sini.”
“Mungkin saja kamu terpesona padaku, kan?”
__ADS_1
“Jangan membual, mana mungkin aku terpesona pada pria semacam kamu?”