Berkah Cinta

Berkah Cinta
Tak Lagi Sama


__ADS_3

Hari terus berganti, semenjak kejadian Minanti mengatakan yang sejujurnya pada Tania, semenjak hari itu juga Tania agak menjaga jarak dengan wanita itu. Minanti berusaha menghubunginya namun Tania sengaja tidak menjawab panggilan dari wanita itu, bukan karena ia marah dengan pengakuan Minanti, namun ia butuh waktu untuk menerima semua ini yang terasa begitu tiba-tiba. Tania sedang bekerja di kantornya, dan tidak terasa karena ia terlalu sibuk bekerja saat ini sudah menunjukan pukul 9 malam.


“Ya Tuhan, sudah malam saja.”


Tania mematikan laptopnya dan kemudian merapihkan barang-barangnya yang ada di atas meja kerja, nampak ketika ia keluar dari ruangan kerjanya, nampak kantor ini sudah sepi dan sepertinya hanya dirinya saja yang masih ada di kantor ini. Ketika menunggu lift terbuka, ponsel Tania berdering dan menunjukan nama seseorang di sana, Tania pun segera menjawab panggilan tersebut.


“Kamu di mana sekarang?”


“Aku baru saja selesai bekerja, memangnya ada apa?”


“Jam segini?”


“Banyak sekali hal yang harus aku kerjakan.”


*****


Ketika Tania tiba di apartemennya, lebih tepatnya di lobi, seseorang sudah menunggunya yang tidak lain adalah Olaf, ketika melihat Tania datang, seketika Olaf langsung berdiri dan menghampiri wanita itu.


“Ini sudah jam 11 dan kamu baru sampai?”


“Kamu sendiri kenapa datang ke sini?”


“Sebenarnya ada sesuatu yang tadi ingin aku bicarakan denganmu, namun mengingat karena hari sudah larut malam, sepertinya besok saja aku bicarakan ini denganmu.”


“Tidak apa, katakan saja sekarang.”


“Apakah kamu yakin?”


“Tentu saja, tidak ada seorang pun di sini selain kita berdua.”


Olaf mengedarkan pandangan dan memang tidak ada seorang pun di sana kecuali mereka berdua, maka kemudian Olaf pun mengatakan sesuatu pada Tania.


“Tania… apakah kamu marah pada mama?”


“Bicara apa kamu ini?”


“Kata mama, semenjak beliau mengatakan yang sejujurnya padamu, kamu jadi menjaga jarak dengannya.”


“Itu tidak seperti yang mamamu pikirkan, aku butuh waktu untuk menerima semua ini.”


“Begitu rupanya.”


“Semua kenyataan ini begitu datang tiba-tiba, aku… aku butuh waktu Olaf, kamu dapat mengerti, kan?”


“Iya Tania, tentu saja aku dapat mengerti.”


“Terima kasih.”


“Kalau begitu, aku akan katakan itu pada mama, selamat malam.”

__ADS_1


“Hati-hati di jalan.”


Olaf pun melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Tania, dan selepas Olaf pergi, barulah Tania masuk ke dalam lift dan menuju lantai di mana apartemennya berada.


*****


Hari ini adalah hari libur, Tania baru bangun ketika jam menunjukan pukul 9 pagi, padahal biasanya walaupun hari libur ia sudah bangun sejak pukul 6, namun sepertinya karena efek lembur semalam membuat dirinya jadi telat bangun. Ketika Tania sudah selesai membasuh wajah dan juga menggosok gigi, ia pun keluar dari dalam kamar dan hendak membuat sarapan, namun langkah kakinya terhenti ketika seseorang menekan bel pintu apartemennya, Tania pun merasa heran siapa orang yang menekan bel pintu apartemennya saat ini, ia berjalan menuju pintu untuk melihat siapa orang yang datang pada pagi ini, dan ketika ia melihat layar monitor yang ada di depannya, nampak sosok Minanti berdiri di depan pintu apartemennya.


“Tania, aku tahu kamu ada di dalam.”


Tania menghela napasnya dan kemudian ia pun membukakan pintu untuk Minanti, mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Minanti membuka obrolan di antara mereka.


“Apakah aku boleh masuk?”


“Tentu saja, silakan.”


Minanti pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam apartemen Tania, ia membawakan sarapan untuknya karena kata Olaf semalam Tania lembur dan pasti ia baru bangun tidur dan belum membuat sarapan.


“Ini aku bawakan kamu sarapan, kamu belum sarapan, kan?”


“Terima kasih.”


*****


Stefani baru saja selesai melakukan pemeriksaan di rumah sakit, belakangan ini wanita itu mengalami beberapa keluhan layaknya orang yang sedang mengandung, namun tentu saja Stefani tidak akan yakin kalau dirinya tengah hamil kalau belum memeriksakan dirinya ke dokter. Dan kini setelah ia memeriksakan dirinya ke dokter maka ia yakin kalau memang saat ini dirinya tengah berbadan dua.


“Aku hamil?”


“Halo?”


“Ada apa?”


“Apakah aku mengganggumu?”


“Tidak, ada apa?”


“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”


“Kalau begitu katakan saja.”


“Aku hamil.”


“Apa?”


“Aku hamil.”


“Kamu tidak bercanda, kan?”


“Aku memiliki buktinya kalau aku hamil, kamu bisa lihat sendiri buktinya kalau kamu mau!”

__ADS_1


TUT


Stefani merasa kesal karena orang itu meragukan kalau dirinya tengah hamil, tidak lama kemudian orang itu kembali menelpon dan awalnya Stefani nampak ragu dan tidak mau menerima telepon dari orang itu namun


akhirnya Stefani pun menjawab telepon dari orang tersebut.


“Ada apa?”


“Aku minta maaf, aku hanya terkejut saja tadi ketika kamu mengatakan kalau saat ini kamu sedang hamil.”


“Apakah kamu akan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam perutku ini?”


“Tentu saja aku akan bertanggung jawab.”


*****


Suasana di antara Minanti dan Tania masih kaku, semenjak kejujuran Minanti beberapa hari lalu, baik Minanti maupun Tania tidak pernah berkomunikasi lagi lewat telepon, bukan Minanti yang tidak mau untuk menelpon Tania, namun Tania sendiri yang nampak belum siap untuk menerima kenyataan ini.


“Apakah makanannya enak?”


“Iya, makanannya enak.”


“Syukurlah kalau enak.”


Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka, Minanti dan Tania sama-sama terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, namun akhirnya Minanti tidak tahan dan mengatakan lagi sesuatu pada Tania.


“Tania, apakah kamu membenciku?”


“Kenapa anda menanyakan hal tersebut?”


“Belakangan ini kamu tidak mau menjawab telepon dariku, pesan yang aku kirim pun tidak kamu balas.”


“Aku butuh waktu untuk menerima semua ini.”


“Begitu rupanya.”


“Bagaimanapun juga, kenyataan ini begitu mengejutkan bagiku, anda mengatakan kalau aku adalah anak anda dan itu cukup banyak mempengaruhi pikiranku belakangan ini.”


“Aku minta maaf karena sudah membuat kamu menjadi tidak nyaman akibat pengakuanku.”


“Nyonya tidak perlu meminta maaf atas itu semua, lagi pula… semua sudah terjadi, kan?”


“Namun Tania, bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?”


“Apa?”


“Aku tahu bahwa ini pasti tidak akan mudah dan awalnya pasti akan canggung, namun… aku ingin kita menjadi ibu dan anak yang sesungguhnya, itu pun kalau kamu tidak keberatan.”


Tania terdiam mendengar ucapan Minanti barusan, Minanti berpikir bahwa saat ini pasti Tania akan menolak apa yang barusan ia katakan itu.

__ADS_1


“Tania ….”


“Aku akan mencobanya.”


__ADS_2