
Suasana sedih makin tercipta ketika peti jenazah mulai diturunkan ke liang lahat, Tania dipegangi oleh Minanti dan Ferdian berusaha tegar ketika melihat peti itu perlahan mulai ditimbun oleh tanah, sementara Jihan yang juga ada di sana nampak menatap iri pada Tania yang memiliki orang-orang yang begitu peduli padanya sementara dirinya hanya sendirian di sini, Ester menolak datang ke acara pemakaman mantan suaminya dan hal itu membuat Jihan begitu kecewa. Setelah acara pemakaman selesai dan satu persatu pelayat pergi meninggalkan area pemakaman hingga menyisakan beberapa orang saja yang masih berada di sana termasuk Tania dan Jihan.
“Lebih baik kamu jangan melakukan sesuatu yang dapat kamu sesali di kemudian hari Jihan,” ujar Ferdian memperingatkan Jihan untuk tidak melakukan sesuatu hal yang buruk pada Tania.
“Apakah aku seburuk itu di matamu, Ferdian?”
“Kamu dan mamamu berbahaya, aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Tania!”
Jihan menghembuskan napasnya berat, ia menatap tajam Tania, ia mengatakan bahwa saat ini ia ingin bicara empat mata dengan wanita itu, namun Ferdian tidak mengizinkan Jihan untuk bicara dengan Tania.
“Aku tidak memberikanmu izin, lebih baik kamu pergi saja dari tempat ini.”
“Ini adalah pemakaman papaku, bagaimana bisa kamu malah menyuruhku pergi dari pemakaman papaku?!”
****
Karena tidak ingin masalah makin membesar, Tania pun setuju untuk bicara dengan Jihan, Ferdian dan Minanti awalnya nampak tidak setuju namun Tania meyakinkan mereka berdua bahwa ia akan baik-baik saja. Kini Tania dan Jihan bicara agak jauh dari tempat pemakaman Handi berlangsung.
“Sampai kapan kamu akan bersandiwara seperti ini?” tanya Jihan.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan ini,” jawab Tania dingin.
“Aku tahu kamu jelas mengerti apa yang aku katakan ini, Tania.”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, kalau kamu masih membicarakan hal ini lagi, maka aku akan pergi saja.”
“Ferdian benar-benar tulus mencintaimu, namun kamu mempermainkannya.”
“Lalu?”
“Lalu? Apakah kamu tidak merasa iba pada Ferdian?! Bagaimana kalau dia tahu yang sebenarnya kalau kamu tidak pernah mencintainya dan apa yang kamu lakukan semua ini hanya sandiwara belaka?!”
“Itu semua bukan urusanmu, Jihan.”
Setelah mengatakan itu Tania berbalik badan dan pergi meninggalkan Jihan, namun sebelum Tania menjauh, Jihan kembali mengatakan sesuatu yang membuat langkah kaki Tania terhenti untuk beberapa saat.
“Aku harap kamu tidak akan menyesali permainan yang sedang kamu mainkan ini, karena aku yakin kamu kelak akan mendapatkan penyesalan akibat permainan kamu ini dikemudian hari.”
****
__ADS_1
Tania mendapatkan izin tinggal di rumah Minanti untuk sementara waktu, namun Tania menolak itu, dia ingin agar ia tinggal saja di apartemen namun Minanti mengatakan bahwa kalau Tania tinggal sendirian di apartemen, ia khawatir dengan keselamatan Tania.
“Nyonya tidak perlu khawatir pada keselamatanku.”
“Aku tidak akan khawatir pada keselamatanmu kalau saja wanita itu sudah dipenjara, namun pada kenyataannya dia masih bebas berkeliaran.”
“Saya menghargai kekhawatiran Nyonya, namun untuk tinggal di rumah itu, maaf sepertinya saya tidak bisa.”
“Apakah karena Olaf kamu tidak nyaman?”
“Apa?”
“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu berpura-pura tidak tahu begitu, saya sudah tahu kalau Olaf memiliki perasaan khusus pada kamu dan begitu pun kamu memiliki perasaan pada Olaf bukan?”
“Nyonya saya …..”
“Kamu tidiak perlu mencoba mengelak Tania, saya tahu itu.”
Tania hanya diam saja dan sama sekali tidak mengatakan apa pun, Minanti kemudian meraih tangan Tania dan mengusapnya perlahan.
“Namun kamu juga harus menyelesaikan apa yang sudah kita rencanakan sejak awal, bukan?”
“Iya Nyonya, saya tahu.”
Namun rupanya dari tempat yang agak jauh dari mereka berdua berbicara, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka, orang itu nampak mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan tajamnya.
“Aku tidak akan membiarkan kalian lolos, tunggu saja nanti.”
****
Jihan terduduk di kursi taman seorang diri, ia merasa begitu sedih dan terpukul saat kehilangan sosok Handi untuk selama-lamanya. Walaupun sang papa kerap kali berbeda pendapat dengannya ataupun papanya itu selalu saja membela Tania, namun Jihan sama sekali tidak membenci Handi, ia begitu mencintai Handi sebagai papanya dan ketika pria itu sudah pergi untuk selama-lamanya, maka Jihan merasa begitu hancur saat ini.
“Jihan.”
Jihan terkejut ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dan ketika ia menoleh ke arah sumber suara, nampak Olaf berdiri tidak jauh darinya, Jihan kemudian berdiri dari duduknya ketika pria itu berjalan menghampirinya.
“Aku turut bersedih atas apa yang terjadi pada papamu.”
“Terima kasih.”
__ADS_1
Olaf kemudian menyodorkan barang bukti yang dapat ia gunakan membuat Jihan dipenjara atas perbuatannya pada Tania, Jihan nampak menatap Olaf tak percaya kenapa pria ini malah menyodorkan barang bukti itu padanya?
“Kamu boleh menghancurkan barang bukti ini.”
“Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bisa membuatku masuk penjara karena ini.”
“Sebab…. aku tidak tega melakukannya.”
“Kamu tahu Olaf, kepergian papaku membuatku jadi berpikir banyak hal, selama ini rupanya aku terlalu terobsesi padamu dan tidak mau menerima kenyataan bahwa Tania selalu lebih unggul dariku, dia mendapatkan kasih sayang papa, mendapatkan perhatian dan cinta darimu dan hal tersebut yang membuatku begitu sedih dan marah pada keadaan. Kenapa harus Tania yang mendapatkan semua itu dan bukannya aku? Bukankah itu tidak adil?”
*****
Galang terkejut ketika Jihan pergi menemuinya di rumah kontrakannya, ia mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah kontrakannya yang sederhana itu, Jihan menatap sekeliling rumah kontrakan ini dan Galang menanyakan apakah Jihan ingin minum dulu namun Jihan mengatakan bahwa saat ini ia tidak haus.
“Sebenarnya… ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
“Apa itu?”
“Aku ingin menyerahkan diriku pada polisi.”
Galang yang mendengar ucapan Jihan barusan begitu terkejut, kenapa Jihan mau menyerahkan dirinya ke polisi? Memangnya Jihan salah
apa?
“Aku harus melakukan semua itu untuk menebus semua dosa yang telah aku lakukan.”
“Jihan ….”
“Aku sudah terlalu banyak melakukan kejahatan pada orang lain, kepergian papaku untuk selama-lamanya membuatku jadi merenungkan semua perkataan beliau semasa dia masih ada di dunia ini.”
Mata Jihan nampak berkaca-kaca saat ini, Galang secara reflek memeluk Jihan dan saat pria itu memeluknya, isak tangis Jihan pun pecah saat itu juga, ia tidak dapat lagi menahan tangisnya dan menumpahkan semuanya
pada Galang.
“Aku ini orang jahat Galang, hiks.”
“Sudahlah Jihan.”
Setelah menumpahkan semua kesedihan dan juga penyesalan yang begitu menyesakan dada, maka kini Jihan pun perlahan melerai pelukannya dengan Galang, ia menghapus bekas air mata yang ada di mata dan pipinya.
__ADS_1
“Terima kasih karena kamu mau mendengarkan keluh kesahku.”
“Bukan masalah.”