
Maka Olaf yang ikut penasaran pun membantu Bram untuk mencari buku tersebut, ketika mereka sedang mencari buku itu di rak, pintu ruang perpustakaan terbuka dan menampakan Minanti di sana.
“Apa yang kalian lakukan malam-malam begini di sini?”
Bram dan Olaf tentu saja terkejut ketika Minanti memergoki mereka di ruang perpustakaan ini, Bram berkilah untuk mencari suatu buku, begitu pula dengan Olaf.
“Tapi hari sudah malam.”
“Aku tidak bisa tidur, makanya aku mencari buku di sini, siapa tahu setelah aku membaca buku maka aku dapat tertidur.”
“Iya Papa benar, aku pun demikian.”
“Baiklah kalau begitu.”
Minanti kemudian keluar dari ruangan itu dan kemudian Bram serta Olaf dapat menghela napas lega karena niat mereka tidak diketahui oleh Minanti.
“Untung saja dia tidak curiga.”
“Sebenarnya buku itu seperti apa?”
“Bukunya sampulnya warna merah dan sudah usang.”
Olaf pun menyusuri rak buku-buku itu dan mencari buku dengan sampul warna merah yang sudah usang, ia memang menemukan buku dengan sampul merah namun ia tidak menemukan hal ganjil di semua buku yang ia temukan.
****
Bram dan Olaf sampai pagi berada di perpustakaan dan mengecek semua buku dan tidak ada satu pun buku yang mencurigakan di sana. Bram pun jadi heran, mungkinkah Minanti sudah memindahkan buku itu ke suatu tempat?
“Tidak ada yang mencurigakan di semua buku ini.”
“Papa tahu, namun ini aneh sekali.”
“Apakah menurut Papa sebenarnya buku itu sudah diambil oleh mama terlebih dahulu?”
“Mungkin saja begitu.”
Olaf menghela napasnya panjang, mereka tidak tidur semalaman karena mencari buku yang tidak ada di ruangan ini, dan saat ini sudah jam 6 pagi. Ketika mereka berdua keluar dari ruang perpustakaan nampak Minanti
baru saja keluar dari kamar dan menatap suami dan putranya yang baru saja keluar dari ruang perpustakaan.
“Apakah kalian tidur di ruang perpustakaan?”
“Iya.”
__ADS_1
“Benarkah? Namun dari wajah kalian sepertinya kalian tidak tidur sama sekali.”
“Sudahlah, kita tidak perlu membahas itu lagi.”
Bram masuk ke dalam kamar dan Olaf pergi ke kamarnya, Minanti menatap sekeliling dan tidak ada siapa pun, ia dapat menghela napasnya lega karena sepertinya Bram dan Olaf tidak menemukan sesuatu yang mereka cari
saat ini.
“Maafkan aku, namun aku tidak bisa kalian tahu semua itu.”
****
Menurut dokter yang merawat Ester, wanita itu mengalami gangguan jiwa berat dan membutuhkan penangan medis lebih lanjut. Tania mengatakan bahwa ia mendukung apa pun yang dilakukan oleh dokter untuk membuat Ester kembali menjadi waras.
“Dia terlalu banyak mengalami tekanan hidup hingga sepertinya hal itu yang membuatnya menjadi mengalami gangguan jiwa.”
“Begitu rupanya, kalau begitu kami akan sebaik mungkin merawat pasien agar dia bisa lekas sembuh atau paling tidak, kami bisa mengurang sifat agresifnya.”
“Terima kasih banyak dokter, saya percayakan semua ini pada anda.”
“Baik Nyonya.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Tania pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter, namun sebelum ia benar-benar pergi dari rumah sakit ini, ia ingin menemui Ester terlebih dahulu. Ia kemudian pergi ke sebuah ruangan di mana ruangan itu adalah ruangan khusus yang menangani orang dengan gagguan jiwa berat, Tania tentu tidak diizinkan masuk dan hanya dapat melihat dari luar saja dan kebetulan sekali saat Tania datang, Ester sudah bangun dan mereka saling
“Apa yang anda lakukan sia-sia saja, nikmati perawatan di rumah sakit jiwa ini.”
Setelah itu Tania pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut, sementara perawat datang untuk memberikan obat penenang untuk Ester.
****
Bram nampak sesekali melirik pada istrinya yang sedang menyiram tanaman di taman belakang rumah, Minanti tentu saja merasakan dan tahu bahwa suaminya sejak tadi melirik ke arahnya dan sebuah koran yang ada di
tangannya itu hanya sebagai penyamaran saja agar Minanti percaya kalau ia saat ini sedang membaca koran.
“Kenapa kamu menatapku begitu?”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah, aku tahu bahw sejak tadi kamu memperhatikanku.”
Bram pun menghela napasnya, ia sudah tidak akan menutupi apa pun lagi dari istrinya, Bram kemudian berjalan mendekati istrinya dan menanyakan sesuatu padanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan jujur padamu, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Soal apa?”
“Tentu saja soal buku itu.”
“Buku yang mana?”
“Kamu tidak bisa menipuku Minanti, aku tahu bahwa aku tidak salah lihat dan aku tidak pikun untuk mengingat kalau kamu waktu itu menatap sebuah buku yang di dalamnya ada sebuah foto.”
“Hentikan bicara omong kosongmu itu, sudah aku katakan kamu salah lihat.”
“Aku tidak salah lihat, aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri.”
“Kalau begitu harusnya kamu menemukan buku itu semalam, bukan?”
“Iya, seharusnya aku menemukan buku itu namun kamu sudah memindahkannya.”
“Bram, hentikan bicara omong kosong ini, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.”
Setelah mengatakan itu, Minanti kemudian pergi meninggalkan suaminya, sementara itu Bram bersumpah akan menemukan buku itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya tengah disembunyikan oleh Minanti.
*****
Olaf tidak habis pikir, bagaimana mungkin Stefani bisa dibebaskan begitu saja setelah ia mendapatkan jaminan dari seseorang, namun ketika Olaf bertanya siapa orang yang menjaminkan dirinya agar Stefani dapat bebas, polisi menolak memberikan keterangan lebih lanjut.
“Ini jelas aneh, siapa orang yang membebaskan wanita itu?”
“Sepertinya kamu sudah dengar berita itu, ya?”
Olaf menatap ke arah Felli yang menghampirinya saat ini, wanita itu kemudian duduk di sebelahnya.
“Olaf, apakah kamu tidak menyadari sesuatu?”
“Apa maksudmu?”
“Adikmu itu semalam pergi ke kantor polisi dan pagi ini kamu mendapatkan kabar bahwa wanita itu sudah bebas.”
“Juan pergi ke kantor polisi semalam?”
“Iya, dia semalam pergi ke kantor polisi padahal aku sudah berusaha melarangnya namun… dia tetap keras kepala dan pergi ke sana, bukannya aku mau menyebarkan rumor, hanya saja kamu tahu sendiri kalau adikmu itu menyukai Stefani, dia pasti akan melakukan apa pun untuk membuat wanita yang ia cintai bebas.”
“Kalau kamu memang tahu Juan mencintai Stefani kenapa kamu tidak mencoba membuat Juan tidak berpaling darimu?”
__ADS_1
“Olaf, aku sudah mencobanya, namun kamu lihat sendiri bahwa adikmu itu memang sudah cinta setengah mati pada wanita itu, apakah kamu tahu siapa nama yang ia panggil ketika malam pertama kami? Stefani.”
“Apa?”