
Untuk sesaat Ricky dan Felli nampak saling memalingkan wajah setelah kejadian ketika bibir mereka saling bertemu, setelah berhasil mengendalikan diri masing-masing kini Ricky dan Felli kompak menoleh bersama-sama dan hal tersebut malah membuat suasana menjadi canggung lagi.
“Aku.”
“Aku.”
“Kamu saja duluan.”
“Tidak kamu saja duluan.”
“Baiklah, aku minta maaf soal yang tadi, sepertinya aku terbawa suasana,” ujar Ricky akhirnya.
“Tidak apa.”
“Kamu serius?”
“Iya, aku harap itu adalah bukti keseriusanmu dalam menjalin hubungan denganku.”
“Tentu saja Felli, aku serius ingin menjalin hubungan denganmu.”
“Apakah kamu siap menghadapi badai di depan sana? Hubungan kita pasti tidak akan mudah.”
“Tentu saja, walaupun ada badai besar di depan sana, namun aku tidak akan menyerah untukmu, untuk memperjuangan cinta kita.”
“Semoga apa yang kamu katakan itu adalah benar adanya.”
“Kamu bisa buktikan semua ucapanku nanti setelah kita menikah, aku janji tidak akan menyakiti hatimu.”
“Terima kasih Ricky.”
*****
Liburan kali ini terasa begitu berbeda bagi Felli karena saat ini dirinya berniat untuk membuang semua masa lalunya dengan Juan dan memulai kembali lembaran baru dengan Ricky walaupun usia yang terbentang di
antara mereka cukup jauh namun melihat keseriusan Ricky padanya membuat Felli luluh dan perlahan ia berusaha yakin bahwa Ricky memang adalah sosok yang dikirim Tuhan untuk mengobati luka hatinya akibat ditinggalkan oleh Juan.
“Terima kasih atas hari ini,” ujar Ricky yang diantarkan oleh Felli sampai ke rumahnya.
“Harusnya aku yang mengatakan seperti itu, aku berterima kasih padamu atas hari yang menyenangkan ini,” ujar Felli.
“Hati-hati mengemudi, kalau kamu sudah sampai rumah, segera kabari aku.”
“Baiklah.”
Ricky kemudian melambaikan tangannya pada Felli dan wanita itu pun ikut melambaikan tangannya pada Ricky, setelahnya Felli pun melajukan kendaraannya untuk pulang ke rumah. Perasaan Felli menghangat saat
ini, ia sudah tidak merasa sedih akibat perceraiannya dengan Juan, ia harap hubungannya dengan Ricky dapat berlangsung lama dan pemuda itu dapat ia percaya perkataannya.
__ADS_1
“Baru pulang?” tanya Hilda saat melihat anaknya baru saja pulang.
“Iya Ma.”
“Dari mana saja kamu?”
“Aku dari luar, bertemu dengan teman.”
“Teman? Yakin hanya teman? Bukan pemuda itu.”
“Kalau memang aku bertemu dengan pemuda itu memangnya kenapa?”
“Felli, apakah kamu yakin ingin menjalin hubungan dengan pemuda itu?”
“Tentu saja aku yakin Ma.”
****
Keesokan harinya Nanda melihat sepertinya ada yang berbeda dengan Ricky, pemuda itu nampak lebih banyak tersenyum dari hari sebelumnya dan tentu saja hal tersebut membuat Nanda penasaran dengan segera ia
menghampiri Ricky yang baru saja selesai melayani seorang pelanggan yang datang ke café ini.
“Hei.”
“Iya, ada apa?”
“Apa? Masa sih?”
“Sudahlah Ricky, kamu tidak bisa berbohong padaku, katakan apa yang membuatmu bahagia.”
“Tidak kok bos, aku biasa saja.”
“Sudah aku bilang bahwa kamu tidak bisa menipuku, apakah kemarin kamu menghabiskan waktu dengan Felli?”
“Apa? Soal itu ….”
“Kenapa? Sudahlah Ricky, aku tahu kok, toh juga kemarin Felli sempat bercerita bahwa dia menghabiskan waktu liburnya denganmu.”
“Kalau bos tahu aku dan Felli pergi bersama kenapa masih bertanya padaku?”
“Aku hanya ingin mengetes kejujuranmu saja, ternyata kamu tidak mau jujur pada bosmu ini.”
“Aku minta maaf bos, aku tidak bermaksud untuk merahasiakan ini dari bos, hanya saja saat ini aku kan sedang bekerja.”
“Banyak alasan, pokoknya awas saja kalau kamu menyakiti Felli seperti yang dilakukan oleh pria itu, aku tidak akan mengampunimu, apakah kamu mengerti?”
“Tentu saja bos, aku janji tidak akan menyakitinya.”
__ADS_1
*****
Semenjak insiden Stefani hampir kehilangan anak mereka, Juan jadi tidak lagi bersikap terlalu keras pada wanita itu, Stefani tentu saja bahagia dengan perubahan sikap Juan yang tidak lagi keras padanya walaupun sampai saat ini sikap pria itu masih agak dingin padanya, namun setidaknya Juan tidak memaki atau merendahkan Stefani seperti yang sebelumnya sering ia lakukan.
“Sepertinya belakangan ini kamu sedang bahagia, ya?” tanya Minanti.
“Mama ini bicara apa, sih?”
“Sudahlah Stefani, aku yakin bahwa kamu sendiri pun tahu apa yang sedang aku bicarakan ini, jangan pikir karena saat ini kamu sedang hamil maka aku tidak akan mengawasimu.”
“Ma, aku tidak melakukan apa pun lho.”
“Memang, namun aku tidak akan segan bertindak tegas kalau kamu melakukan sesuatu hal yang macam-macam lagi.”
Setelah mengatakan itu Minanti langsung pergi meninggalkan Stefani, rupanya setelah Minanti pergi itu, Stefani nampak berdecak kesal dan mengumpat perihal apa yang dikatakan oleh Minanti itu.
“Lihat saja, kamu pikir dapat seenaknya merendahkanku terus seperti itu? Tunggu dan lihat saja apa yang dapat aku lakukan nanti.”
Stefani kemudian kembali ke kamarnya dan meraih ponselnya, ia mencari kontak seseorang dan tidak lama kemudian akhirnya telepon pun tersambung dengan orang itu.
“Halo, ini aku.”
*****
Hari pernikahan antara Olaf dan Tania sudah semakin dekat, Minanti nampak begitu sibuk mempersiapkan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan pernikahan walaupun Olaf sudah mengatakan bahwa ia sudah mengurus semuanya namun sebagai seorang ibu, tentu saja Minanti tidak ingin ada yang terlewat sedikit pun dalam pernikahan kedua anaknya itu.
“Sudah aku katakan kalau semuanya sudah siap,” ujar Olaf.
“Mama kan hanya mengecek, mana tahu ada sesuatu yang kamu lupakan,” ujar Minanti.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan Stefani? Apakah dia berulah lagi?”
“Sampai sejauh ini dia tidak berulah, Mama sudah mengatakan padanya jangan berbuat ulah karena sekali saja dia berulah lagi maka Mama akan bersikap tegas padanya.”
“Baguslah kalau Mama sudah menggertaknya sejak awal, oh iya, Mama tidak keberatan kalau aku dan Tania tinggal terpisah dengan kalian, kan? Ini semua aku lakukan demi kenyamanan Tania juga, dia pasti tidak
nyaman dengan kehadiran Stefani di rumah itu.”
“Kamu pun juga tidak nyaman dengan kehadiran Stefani, kenapa tidak bicara terus terang? Tentu saja Mama mengizinkan kalian tinggal di rumah itu, namun sepertinya rumah itu masih perlu diisi beberapa perabotan.”
“Memang rumah itu masih agak kosong, aku sudah memesan beberapa perabotan yang akan datang lusa.”
“Syukurlah kalau begitu, Mama titip Tania padamu, ya? Tolong jaga dia baik-baik, jangan pernah kamu sakiti hatinya,” ujar Minanti.
“Tentu saja Ma, aku janji pada Mama akan menjaga Tania dengan baik, dan aku tidak akan menyakiti hatinya,” ujar Olaf.
Minanti pun memeluk putranya itu, walaupun Olaf bukanlah anak kandungnya namun Minanti sudah menganggap Olaf seperti anak kandungnya sendiri, ia yang membesarkan anak ini dari masih kecil hingga sudah dewasa dan hendak menikah tidak lama lagi dengan wanita pilihannya.
__ADS_1