Berkah Cinta

Berkah Cinta
Langkah Kemudian


__ADS_3

Jihan nampak begitu penasaran dengan apa yang ingin ditunjukan oleh Handi, ia pun mengekori langkah kaki sang papa masuk ke dalam rumah, ketika mereka sudah ada di dalam rumah nampak sosok wanita yang sepertinya ia kenali itu.


“Siapa dia, Pa?”


“Kamu pasti mengenalnya, sayang.”


Wanita yang dimaksudkan oleh Jihan itu berbalik badan dan menghadapnya, Jihan begitu terkejut ketika melihat wajah wanita itu, sepertinya wanita itu adalah wanita yang bersama dengan Olaf tadi.


“Siapa dia?” tanya Jihan.


“Apa maksudmu? Tentu saja dia ini sepupumu, Tania.”


Jihan tentu saja terkejut dan tidak menyangka bahwa orang yang berdiri di depannya ini adalah Tania, tidak hanya soal wajahnya yang membuatnya agak asing bagi Jihan, namun gaya berbusana wanita ini pun jadi berubah total.


“Tania? Apakah benar dia ini Tania?” tanya Jihan yang agak sangsi mendengar ucapan Handi barusan.


“Tentu saja aku ini Tania, kenapa? Kamu tidak percaya?”


“Apa? Jadi kamu benar-benar Tania?”


“Iya, aku benar-benar Tania.”


Jihan terkejut dengan jawaban Tania, kenapa Tania bisa berubah begini? Dia semakin cantik dan menarik, wajar saja kalau Olaf akan makin jatuh hati padanya.


****


Sementara di tempat yang lainnya, Stefani masih berbicara dengan Olaf perihal Tania dan Jihan, wanita itu sepertinya sangat penasaran perihal hubungan Olaf dengan kedua wanita itu.


“Bagaimana bisa kamu mengenal kedua wanita itu?”


“Apakah aku belum mengatakan bahwa salah satu di antara mereka adalah Tania?”


“Tania?”


“Iya, salah satu di antara mereka adalah Tania.”


“Tania yang mana?”


“Yang tadi naik taksi online.”


“Apa?! Kenapa dia bisa berubah begitu?”


“Mana aku tahu.”


“Lalu siapa wanita yang satunya lagi?”


“Dia adalah wanita yang juga mengatakan cinta padaku.”


Stefani nampak kesal saat Olaf mengatakan hal tersebut, jadi rupanya wanita tadi adalah saingannya untuk mendapatkan Olaf, pria itu memperhatikan Stefani dan ini adalah kesempatan baginya untuk menanyakan perihal apa yang dia katakan pada sang mama tempo hari.

__ADS_1


“Stefani, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Apa itu?”


“Apakah kamu mengatakan kebohongan pada mamaku?”


“Kebohongan? Kebohongan apa?”


Olaf menceritakan apa yang Minanti katakan padanya tempo hari perihal perbincangannya dengan Stefani, wanita itu nampak bingung dan menundukan kepalanya di hadapan pria ini.


“Jadi bisakah kamu menjelaskan semuanya?”


“Iya, aku memang mengatakan itu.”


“Tapi kenapa kamu mengatakan itu? Apakah kamu ingin membuatku nampak berbohong di depan mamaku?!”


“Aku minta maaf Olaf.”


“Sudahlah Stefani, aku tidak ingin lagi bicara denganmu.”


****


Jihan mengajak Tania untuk bicara empat mata dan Tania nampak sama sekali tidak keberatan dengan semua itu, kini Jihan dan Tania sudah ada di halaman belakang rumah, mereka berdua diajak untuk bicara. Jihan nampak


memperhatikan Tania dari ujung rambut hingga kaki, sepertinya Jihan memang belum percaya jika sosok yang berdiri di depannya adalah Tania.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?”


“Kenapa? Apakah kamu tidak percaya bahwa aku ini Tania?”


“Sejujurnya tidak, maksudku… lihat tampilanmu saat ini, sangat jauh berbeda dengan Tania yang dulu.”


Tania nampak terkekeh mendengar jawaban dari Jihan itu, Jihan sendiri nampak heran sejak kapan Tania berani terkekeh di depannya seperti ini? Sebelumnya Tania akan menundukan kepala dan menghindari kontak mata dengan dirinya.


“Sejak kapan kamu memiliki tingkat kepercayaan diri seperti ini?”


“Apa maksudmu?”


“Lihat, kamu sendiri sudah tidak lagi memanggilku dengan sebutan Nona.”


“Apakah itu penting?”


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa berubah menjadi seperti ini?”


“Kamu ingin tahu kenapa aku bisa berubah menjadi seperti ini? Jawabanku adalah aku ingin merebut apa yang seharusnya keluargaku miliki.”


Jihan nampak membelalakan matanya terkejut dengan apa yang baru saja Tania katakan, apakah yang barusan dikatakan oleh wanita itu adalah sebuah ancaman?


****

__ADS_1


Ferdian menunggu Jihan pulang ke rumah dengan cemas, ia sendiri sudah berusaha untuk menghubungi ponsel Jihan, namun ponsel Jihan tidak aktif hingga akhirnya ia terpaksa untuk menunggu sampai Jihan kembali


pulang, akhirnya setelah penantian yang cukup panjang, Jihan pun pulang, namun raut wajahnya nampak kesal, Ferdian pun bertanya pada Jihan apa yang membuat Jihan kesal seperti ini.


“Apa yang terjadi padamu? Kamu nampak kesal saat ini.”


“Kamu benar, aku memang sedang kesal.”


“Kesal kenapa?”


“Apakah kamu tahu bahwa wanita itu sudah kembali?”


“Siapa yang sedang kamu bicarakan ini?”


“Tentu saja Tania, wanita itu sudah kembali.”


“Tania?”


“Iya, dan kamu tahu apa yang dia katakan padaku? Dia mengatakan bahwa dia akan memngambil seluruh apa yang dimiliki oleh keluarganya.”


“Apa maksudnya dia mengatakan hal itu?”


“Dia mengatakan itu karena dia ingin mengambil alih kembali seluruh kekayaan yang selama ini diambil oleh mama.”


“Apakah kamu yakin kalau dia bisa melakukan semua itu?”


“Aku sendiri awalnya tidak yakin, namun kalau dipikirkan, dan dilihat dari bagaimana cara dia menjawab pertanyaanku dengan penuh rasa percaya diri, entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa dia memiliki


sesuatu hingga dia dapat bicara dengan penuh percaya diri seperti itu.”


****


Sementara itu di rumah Handi, Tania baru mendengar cerita dari Handi bahwa rumah tangganya dengan Ester sudah hancur dan kini mereka berdua sudah resmi bercerai, Tania tentu saja merasa iba pada Handi, pria ini adalah pria yang baik namun sayangnya dia mendapatkan seorang wanita yang tamak akan harta, hingga ia dapat melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Aku turut sedih dengan apa yang menimpa Om.”


“Sudahlah Tania, tidak perlu dipikirkan juga, mungkin memang jalan takdir Om yang harus seperti ini.”


Tania menganggukan kepalanya, ia mengatakan pada Handi bahwa ia ingin pergi ke suatu tempat saat ini, Handi sempat bertanya pada Tania hendak pergi ke mana Tania saat ini, namun Tania tidak mau mengatakan dia hendak pergi ke mana saat ini.


“Aku tidak akan lama kok.”


“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan.”


Setelah berpamitan dengan Handi, kini Tania pergi menuju sebuah restoran tempat di mana ia sudah janjian bertemu dengan seseorang di sini, dan ketika ia sudah tiba di restoran ini, rupanya orang itu tiba terlebih dahulu.


“Maafkan aku karena sudah membuat Tante menunggu,” ujar Tania mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Minanti.


“Sama sekali tidak sayang, Tante pun juga baru datang,” ujar Minanti dengan senyumannya.

__ADS_1


“Jadi… apa yang ingin Tante bahas saat ini denganku?”


“Tentu saja Tante ingin membahas perihal apa yang akan menjadi langkah kita kemudian.”


__ADS_2