Berkah Cinta

Berkah Cinta
Jangan Lakukan Itu


__ADS_3

Gara-gara ulah Ferdian itu membuat Jihan diburu oleh wartawan, setiap kali ia bertemu dengan wartawan maka Jihan akan selalu menghindari mereka, awalnya Jihan sama sekali tidak merasa terganggu namun lama


kelamaan karena sikap diamnya itu berita liar tentang dirinya semakin banyak di luar sana dan tentu saja batas kesabaran Jihan sudah habis.


“Ferdian, awas saja kamu,” geram Jihan.


Jihan kemudian menelpon seseorang, ia memerintahkan orang itu untuk melakukan sesuatu dan ia ingin kali ini rencana mereka dapat berhasil dan tidak ada kesalahan apa pun.


“Baiklah, aku percayakan hal ini padamu.”


TUT


Jihan menyeringai puas, ia sudah tidak sabar untuk mendapatkan kabar bahwa nantinya Ferdian juga yang akan hancur, ia akan pastikan bahwa pria itu akan mendapatkan balasan karena sudah menyeretnya dalam kehancuran itu.


“Ferdian, kamu salah kalau kamu ingin menyeretku untuk ikut hancur bersamamu karena aku tidak akan mau hancur bersamamu.”


Kini Jihan berada di dalam mobilnya dan mengamati sekeliling, ia akhirnya melihat targetnya tengah berjalan seorang diri di trotoar jalan dan sepertinya saat ini dia hendak menyebrang jalan dan inilah kesempatannya untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada orang itu.


“Kamu akan segera menemui kedua orang tuamu.”


****


Tania hendak menyebrang jalan, sebelumnya ia sudah menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang melintas, setelah ia merasa sudah aman untuk melintas kini Tania pun menyebrang jalan, namun ketika ia tengah melintas menyebrang jalan itu, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya, Tania berusaha menghindari mobil itu namun karena laju kendaraan itu cukup tinggi maka usaha yang ia lakukan nyari


saja tidak membuahkan hasil, ia terserempet kendaraan itu hingga terjatuh ke aspal namun untung saja ia selamat dari maut.


“Tania, kamu baik-baik saja?”


Tania terkejut ketika melihat Olaf ada di sana dan membantunya berdiri, Olaf nampak begitu khawatir dengan keselamatannya, ketika melihat Tania terluka, pria itu nampak panik dan mengatakan bahwa saat ini mereka butuh pergi ke klinik terdekat untuk mengobati luka Tania.


“Kita harus pergi ke klinik sekarang juga, lihatlah kamu berdarah.”


Maka Olaf pun membawa Tania pergi ke klinik terdekat, dokter jaga melakukan penanganan pada bagian tubuh Tania yang terluka akibat terserempet mobil dan jatuh ke aspal jalan, Olaf berterima kasih pada dokter karena sudah menangani luka Tania sebelum dokter itu pergi meninggalkan mereka berdua.


“Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa.”


“Olaf, kenapa kamu ada di sana?”


“Aku tadi sedang jalan-jalan, dan secara tidak sengaja aku melihatmu sedang menyebrang jalan dan tadi nyaris ada mobil yang hendak menabrakmu namun untung saja kamu bisa menghindarinya.”

__ADS_1


****


Tania berterima kasih pada perhatian yang Olaf berikan, namun sejujurnya dia merasa tidak nyaman dengan ini semua, apalagi ia sudah tahu bahwa Olaf menyukainya dan Tania tidak bisa membalas perasaan pria ini.


“Olaf, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”


“Kamu ingin mengatakan apa memangnya?”


“Tolong kamu jangan berharap lebih padaku.”


Raut wajah Olaf nampak berubah ketika Tania mengatakan itu, Tania tahu bahwa saat ini ia sudah melukai hati pria ini, namun ia tidak ingin Olaf ikut terseret dalam masalahnya.


“Apakah kamu mencintai suaminya Jihan?”


Namun Tania tidak menjawab pertanyaan Olaf itu, Olaf pun menatap Tania, ia bertanya kenapa Tania tidak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih bungkam.


“Ada sesuatu yang kamu coba sembunyikan dariku, bukan? Aku tahu bahwa ada sebuah rencana yang sedang kamu kerjakan dengan mamaku.”


Mendengar ucapan Olaf tu membuat Tania menatap ke arah pria tersebut, Olaf nampak memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke luar jendela, pria itu menghela napasnya panjang, tangan Tania sudah terulur hendak


mengusap lengan pria itu namun Tania urungkan niatnya itu.


****


“Boleh kita bicara sebentar?”


Langkah kaki Ferdian terhenti ketika Olaf bertanya padanya barusan, pria itu menatap Olaf tak percaya, namun karena penasaran akhirnya Ferdian pun menganggukan kepalanya saat ini.


“Kalau begitu kita bicara saja di luar.”


Maka kini Olaf dan Ferdian sudah berada di luar klinik untuk berbicara, Ferdian mengatakan bahwa sebaiknya Olaf tidak membuang waktunya karena saat ini dirinya masih banyak pekerjaan.


“Sejujurnya aku cemburu padamu, karena Tania begitu dekat denganmu.”


“Tentu saja kami dekat dan asal kamu tahu saat ini dia adalah kekasihku.”


Olaf tertawa kecil mendengar ucapan Ferdian itu, melihat tawa kecil Olaf itu membuat Ferdian kesal, ia merasa bahwa pria ini baru saja menghinanya.


“Apakah barusan kamu menghinaku?”

__ADS_1


“Sepertinya kamu adalah orang yang terlalu sensitif.”


“Aku bukan orang yang sensitif, namun aku tahu dengan


pasti kamu baru saja menghinaku, bukan begitu?”


“Aku sama sekali tidak berniat menghina atau meremehkanmu, aku hanya kasihan padamu karena nyatanya Tania tidak mencintaimu.”


“Apa katamu?”


“Dia tidak mencintaimu, jadi persiapkan dirimu untuk rasa sakit yang teramat sangat.”


****


Jihan terkejut ketika kembali ke rumah rupanya sudah ada Olaf di sana, Jihan turun dari kendaraannya dan menemui Olaf, wajahnya seketika berubah berbunga-bunga saat melihat pria yang ia cintai ada di depan


matanya saat ini.


“Hai Olaf, apa yang kamu lakukan di sini?”


“Apakah kamu baru saja hendak melakukan kejahatan?”


“Apa?”


“Apakah barusan kamu mencoba untuk menghilangkan nyawa Tania?”


“Kamu ini bicara apa Olaf? Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.”


“Sudahlah Jihan, mau sampai kapan kamu akan berkelit? Kamu pikir aku tidak memiliki bukti bahwa kamu yang tadi hendak membunuh Tania?”


Jihan geram sekali karena pria ini datang ke sini karena Tania, Jihan pun akhirnya mengaku bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Tania, ia memang melakukan itu semua karena ia begitu benci pada Tania.


“Aku ingin dia menyusul kedua orang tuanya, apakah kamu sudah puas?!”


“Terima kasih karena kamu sudah mengakui perbuatanmu.”


“Mengakui perbuatan?”


Olaf pun memperlihatkan alat perekam suara dan memperdengarkan percakapan mereka tadi, raut wajah Jihan mendadak pucat, ia berusaha mengambil perekam suara itu namun Olaf tidak akan membiarkan Jihan mengambil ini darinya.

__ADS_1


“Kamu tahu apa yang akan terjadi padamu setelah aku menyerahkan bukti pengakuan dirimu ini pada polisi?”


“Olaf, jangan coba-coba kamu lakukan itu!”


__ADS_2