Berkah Cinta

Berkah Cinta
Tuduhan Menyakitkan


__ADS_3

Olaf nampak tidak mempercayai begitu saja apa yang Felli katakan, apakah benar ketika saat itu Juan menyebut nama wanita lain? Apakah ia menikah dengan Felli bukan karena cinta? Di saat itulah, mereka melihat Juan baru saja kembali ke rumah, Olaf langsung menghadang adiknya itu dan ia mengatakan ingin bicara sebentar dengannya.


“Memangnya apa yang hendak kamu bicarakan denganku?”


“Ikut saja denganku.”


Maka Olaf dan Juan masuk ke ruang perpustakaan untuk berbicara sementara itu Felli nampak menyeringai dari tempatnya.


“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”


“Juan, bisakah kamu jujur padaku?”


“Apa maksudmu?”


“Apakah kamu yang sudah membebaskan Stefani?”


“Kenapa kamu menanyakan hal tersebut?”


“Aku hanya penasaran saja, aku dengar kalau wanita itu sudah bebas pagi ini dan aku juga mendapatkan informasi kalau kamu pergi ke kantor polisi semalam.”


“Kamu mendapatkan informasi itu dari siapa?”


“Itu tidak penting, sekarang jawab pertanyaanku, apakah yang barusan aku katakan semua itu benar?”


“Kak aku ….”


“Jawab pertanyaanku Juan, apakah semua itu benar?”


“Baiklah, aku akui, semua yang kamu katakan itu benar.”


“Apa? Tapi kenapa kamu melakukan semua itu?”


****


Juan masuk ke dalam kamar dan mendapati Felli tengah duduk di tepi tempat tidur, Juan seketika menatap tajam ke arah wanita itu, namun Felli nampak begitu acuh dengan tatapan tajam suaminya itu.


“Apa yang sudah kamu katakan pada Kak Olaf?”


“Aku? Aku tidak mengatakan apa pun padanya.”


“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja ucapanmu itu?”


“Juan, kenapa sih kamu selalu menaruh curiga padaku?”


“Karena kamu tidak dapat dipercaya Felli, aku yakin kalau kamu adalah dalang kenapa kakakku menanyakan hal soal Stefani padaku.”


Felli tentu saja tertawa mendengar ucapan Juan barusan, ia kemudian berjalan menghampiri pria itu sambil melipat kedua tangannya.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya padanya.”


“Jadi benar kamu yang melakukan semua itu?!”


“Iya, aku yang melakukan semua itu, apakah kamu puas?”

__ADS_1


“Apakah kamu ingin menghancurkan keluargaku, hah?!”


“Ini semua kesalahanmu sendiri Juan, kenapa kamu bermain-main denganku?”


“Apa maksudmu?”


“Kamu menyukai wanita lain di belakangku, apakah menurutmu aku dapat menerima semua itu?!”


“Jadi begini rupanya sifat aslimu?”


“Kenapa? Aku selama ini sudah mencoba untuk bersabar menghadapimu dan membuatmu tidak berpaling pada wanita lain, namun ternyata? Usahaku semua sia-sia saja karena kamu masih mencintai wanita lain yang bahkan


tidak mencintaimu!”


“Sudah puas kamu bicara?”


Setelah mengatakan itu Juan langsung pergi meninggalkan Felli sendiri di kamar, selepas kepergian pria itu nampak Felli langsung terduduk di lantai sambil menangisi nasibnya.


****


Ferdian begitu khawatir karena Tania tidak memberikan kabar padanya kalau dia ingin pergi ke rumah sakit jiwa, untung saja Tania pulang dalam keadaan baik-baik saja.


“Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya kalau kamu mau pergi ke rumah sakit jiwa?”


“Itu tidak penting.”


“Apa maksudmu tidak penting? Bagaimana kalau sesuatu hal yang buruk menimpamu di sana?”


“Ferdian, berhentilah bersikap berlebihan, nyatanya kamu dapat lihat sendiri kalau aku baik-baik saja.”


“Maafkan aku kalau aku sudah bersikap berlebihan dan membuatmu tidak nyaman, aku hanya takut kalau kamu mengalami hal yang buruk ketika aku tidak ada,” ujar pria itu seraya memegang tangan Tania.


“Sudahlah, pokoknya kamu sudah lihat sendiri kalau aku baik-baik saja.”


Tania pun pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan kemudian ia kembali ke luar untuk menuju meja makan.


“Kamu pasti lapar, ayo kita makan.”


Tania menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, ia menatap Ferdian dengan curiga.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?”


“Apakah semua ini kamu yang menyiapkannya?”


“Tentu saja, apakah kamu tidak percaya?”


****


Minanti dapat mendengar sayup-sayup pertengkaran antara Juan dan Felli, ia tidak menyangka kalau rumah tangga putra keduanya dengan Felli akan menjadi seperti ini. Minanti secara tidak sengaja berpapasan dengan Juan yang sedang menuruni anak tangga dan wanita itu menghentikan langkah kaki Juan.


“Juan.”


“Ada apa, Ma?”

__ADS_1


“Boleh Mama bicara sebentar denganmu?”


“Memangnya ada apa, Ma?”


Minanti mengajak Juan untuk bicara di taman belakang, ia ingin bicara dari hati ke hati dengan Juan agar tahu apa sebenarnya permasalahan yang sedang Juan dan Felli hadapi.


“Nak, jujur pada Mama, sebenarnya rumah tanggamu dengan Felli saat ini sedang tidak baik-baik saja, kan?”


“Iya, aku akui bahwa rumah tanggaku dan Felli memang sedang tidak baik-baik saja saat ini.”


“Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah saat dulu kalian masih berpacaran kalian sepertinya nyaris tidak pernah bertengkar hebat? Kenapa setelah kalian menikah justru Mama perhatikan kalian malah sering bertengkar?”


“Entahlah Ma.”


“Juan, Mama tidak ingin pernikahan kalian gagal, Mama ingin pernikahanmu dan Felli menjadi yang pertama dan terakhir hingga maut memisahkan.”


Juan tidak menanggapi ucapan Minanti barusan hingga wanita itu kemudian meraih tangan Juan dan menggenggamnya dengan erat.


“Mama harap kamu dan Felli bisa dewasa dalam menyikapi masalah rumah tangga kalian.”


****


Sementara itu ketika Tania dan Ferdian sedang menyantap makan siang mereka, Ferdian mendapatkan sebuah telepon dan ia meminta izin pada Tania untuk menjawab panggilan tersebut. Ferdian nampak pergi dari


meja makan dan berjalan agak menjauh untuk menerima telepon tersebut.


“Kenapa sikapnya begitu mencurigakan?”


Tidak lama kemudian Ferdian kembali ke meja makan dan ia mengatakan bahwa saat ini ada sesuatu yang perlu ia urus.


“Apa? Ini hari libur.”


“Aku tahu, ini tidak akan lama, kok.”


Ferdian kemudian pergi meninggalkan rumah dan Tania begitu penasaran sebenarnya apa yang membuat Ferdian sampai buru-buru keluar rumah seperti itu, namun ia tidak mau terlalu penasaran dan memikirkan hal tersebut. Selesai makan dan hendak mencuci piring kotor, ponsel Tania berdering dan membuat Tania mengurungkan niatnya untuk mencuci piring kotor, ia bergegas pergi menuju ponselnya diletakan dan meraih benda tu, ia melihat ada sebuah nama yang tertera di layar ponsel tersebut dan ia segera menjawabnya.


“Halo?”


“Apakah kamu ada di rumah?”


“Kenapa memangnya?”


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Iya, aku ada di rumah.”


“Lantas apakah suamimu ada juga di rumah?”


“Dia baru saja pergi tadi entah ke mana.”


“Baguslah kalau begitu, namun bagaimana kalau kita bertemu di luar saja?”


“Tidak masalah, kirim saja lokasinya.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Tidak lama kemudian Tania mendapatkan kiriman lokasi di mana ia dan orang itu hendak bertemu.


__ADS_2