
Jihan benar-benar kesal dengan Ferdian yang masih saja tidak mau memberitahunya siapa wanita yang ia sukai, Ferdian sendiri menganggap bahwa Jihan tidak perlu tahu lebih jauh perihal wanita itu karena tidak semua orang suka membagi informasi secara personal pada orang lain, walaupun Jihan berstatus sebagai istrinya namun hubungan mereka hanya berada di atas kertas saja dan tidak lebih, maka Ferdian menganggap bahwa ia tidak memiliki kewajiban untuk memberitahu Jihan perihal siapa wanita yang ia sukai saat ini.
“Kenapa kamu menyebalkan sekali, sih?”
“Apa masalahmu memangnya? Kita sudah sama-sama tahu memiliki orang yang kita suka, bisakah kita tidak perlu saling mengusik satu sama lain?”
“Itu kan menurutmu, menurutku kamu kurang ajar Ferdian, aku sudah memberitahumu siapa pria yang aku cintai namun kamu tidak mau memberitahuku siapa wanita yang kamu cintai, itu namanya tidak adil.”
“Apakah aku menyuruhmu untuk menceritakan siapa pria yang kamu cintai? Kamu sendiri yang secara suka rela bercerita padaku bahwa kamu mencintai pria itu.”
“Kamu ini memang benar-benar, ya!”
“Sudahlah Jihan, bisakah kita tidak perlu saling mengusik kehidupan pribadi satu sama lain?”
****
Jihan tentu saja tidak kehabisan akal, ia mengadukan hal ini pada mamanya Ferdian agar wanita itu ikut tahu masalah dalam rumah tangga mereka, Maya terkejut ketika Jihan mengatakan bahwa Ferdian dicurigai memiliki selingkuhan.
“Apakah kamu yakin kalau Ferdian memang selingkuh?”
“Aku tidak hanya asal menuduh Ma, aku memiliki informan terpercaya dan dia mengatakan begitu padaku.”
“Lalu bisakah Mama lihat buktinya?”
“Apa?”
“Iya, buktinya Mama harus lihat bahwa Ferdian memang diduga berselingkuh, Mama tidak mungkin asal menuduh Ferdian berselingkuh begitu saja, bukan?”
Jihan nampak tidak berdaya, saat ini ia bicara tanpa adanya bukti, tentu saja ia akan kalah jika beradu argumen dengan Maya, ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah mama mertuanya dengan kesal, Jihan harus mencari cara agar ia tahu siapa orang yang disukai oleh Ferdian.
“Kamu pikir bisa selama-lamanya menyembunyikan hal ini dariku Ferdian? Kamu salah, aku pasti akan tahu siapa wanita yang kamu sukai.”
Jihan kemudian memutuskan untuk menelpon sekretaris Ferdian, ia menanyakan apakah suaminya itu ada di kantor atau tidak, namun sekretarisnya mengatakan bahwa saat ini Ferdian sedang tidak ada di kantor.
“Sedang tidak ada di kantor katamu?”
“Iya Nyonya, beliau memang tidak ada di kantor saat ini.”
“Kamu disuruh oleh dia mengatakan kalau dia tidak ada di kantor bukan?”
“Sungguh Nyonya Tuan Ferdian sedang tidak ada di kantor saat ini, beliau sedang keluar sekarang.”
__ADS_1
****
Saat ini Ferdian tengah makan siang bersama dengan Tania, saat mereka berdua tengah makan siang bersama dengan penuh kehangatan dan canda tawa, ponsel pria itu berdering, Ferdian melirik ponsel yang ia taruh
di atas meja makan itu, tertera nama sang mama di sana, Ferdian nampak ragu untuk menjawab telepon dari Maya itu.
“Kenapa tidak kamu jawab teleponnya?”
“Boleh aku jawab telepon ini dulu?”
“Tentu saja, silakan.”
Ferdian kemudian pergi dari meja untuk menjawab telepon dari Maya, ketika ia sudah berada di toilet barulah Ferdian berani menjawab telepon dari sang mama ini.
“Halo, Ma?”
“Ferdian, apakah kamu tahu bahwa tadi istrimu datang ke sini dan mengatakan sesuatu yang aneh?”
“Maksud Mama Jihan? Memangnya Jihan mengatakan apa pada Mama?”
“Dia bilang kalau dia curiga kalau kamu selingkuh, namun ketika Mama tanya mana buktinya, dia bilang dia tidak punya namun dia berkeras bahwa dia memiliki informan yang dapat dipercaya.”
“Benarkah dia bilang begitu pada Mama?”
“Sudahlah Ma, Mama tidak perlu memikirkan soal itu, aku akan segera membereskannya, ok?”
****
Ferdian pulang ke rumah dengan kesal, ia mencari di mana keberadaan Jihan saat ini, ia harus bicara dengan istrinya itu untuk jangan sampai mulutnya itu berbicara pada semua orang karena masalah justru akan makin membesar. Akhirnya ia menemukan Jihan saat ini sedang ada di kamarnya, wanita itu sama sekali tidak berpaling dari ponselnya ketika melihat Ferdian datang.
“Jihan, aku mau bicara padamu.”
“Kamu memangnya mau bicara apa denganku?”
“Aku bicara denganmu Jihan, letakan ponsel itu.”
Jihan mendengus kesal, ia pun meletakan ponselnya dan menatap tajam Ferdian, Ferdian tidak ingin basa-basi dengan semua ini, ia meminta Jihan untuk mengatakan apa saja yang sudah ia katakan pada sang mama.
“Aku? Memangnya apa yang aku katakan pada mamamu?”
“Jangan berkelit Jihan, kamu pikir aku tidak tahu kalau tadi kamu menemui mama dan mengatakan bahwa aku berselingkuh begitu?”
__ADS_1
“Dari mana kamu tahu akan hal itu?”
“Nah, akhirnya kamu mengakui itu juga, jangan buat masalah semakin rumit Jihan, ingat perjanjian kita?”
“Aku melakukan semua ini karena kamu, kenapa kamu tidak mau mengatakan siapa wanita yang kamu sukai?”
“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Urus saja masalahmu sendiri Jihan, jangan campuri urusan pribadiku!”
“Namun ini tidak adil bagiku Ferdian!”
****
Saat ini Olaf nampak bimbang apakah ia harus menelpon Tania atau tidak, sebenarnya saat ini ia ingin mengajak Tania makan malam, namun ia tidak memiliki alasan yang kuat kenapa ia ingin mengajaknya makan malam. Olaf sejak tadi ragu apakah ia harus menelpon Tania atau tidak, namun setelah ia berpikir cukup lama dan menarik napasnya dalam-dalam maka Olaf memberanikan diri untuk menelpon Tania saat ini.
“Halo?”
“Halo?”
“Tania, apakah kamu ada di rumah sekarang?”
“Iya, memangnya ada apa?”
“Aku… akan menjemputmu di rumah, aku ingin mengajakmu pergi makan malam, bagaimana menurutmu?”
“Makan malam?”
“Iya, makan malam, aku harap kamu tidak menolaknya.”
“Baiklah.”
“Jadi kamu setuju? Baiklah, kamu tunggu aku di rumah, aku akan segera datang.”
TUT
Olaf segera menutup sambungan teleponnya dan bergegas pergi dari kantor, hatinya berbunga-bunga saat ini karena Tania sama sekali tidak menolak ajaknnya untuk makan malam bersama, sepanjang perjalanan menuju
rumah Handi, ia nampak mengulas senyum di bibirnya namun ketika sudah mendekati rumah Handi, wajahnya mendadak tegang.
“Kenapa aku mendadak tegang begini, ya?”
Olaf akhirnya tiba di depan rumah Handi, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Tania saat ini, ia mengatakan bahwa saat ini dirinya sudah ada di depan pagar. Tidak lama kemudian Tania muncul dari dalam
__ADS_1
rumah dan berjalan ke arah pagar, Olaf yang masih ada di dalam mobil nampak terpesona dengan pakaian yang Tania kenakan malam ini. Olaf terkejut ketika Tania mengetuk kaca jendela mobilnya, Olaf pun menurunkan kaca mobilnya dan mempersilakan Tania untuk masuk.
“Masuklah.”