
Ketika pagi hari menjelang, Jihan membuka perlahan kedua matanya, ia merasa terbangun di tempat yang asing pada pagi ini, ia menolehkan kepalanya ke sekeliling dan jelas bahwa ini bukanlah kamarnya, ia terkejut ketika melihat tubuhnya tertutupi oleh selimut namun ketika ia menyibak selimut itu, pakaiannya masih lengkap dan sama sekali tidak ada yang terlepas sedikit pun. Saat itulah seseorang keluar dari kamar mandi dan orang itu adalah Ferdian, Jihan nampak terkejut ketika pria itu tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya, Ferdian sendiri tidak kalah terkejutnya ketika melihat Jihan sudah bangun pagi ini.
“Apa yang kamu lakukan padaku semalam?” tanya Jihan.
“Aku? Aku sama sekali tidak melakukan apa pun padamu semalam, namun justru yang terjadi sebaliknya.”
“Apakah kamu pikir aku mempercayai apa yang kamu katakan itu?!”
“Aku hanya bicara apa adanya, memang itulah yang terjadi kemarin.”
“Aku tidak percaya, kamu pasti mengambil kesempatan ketika aku tidak sadarkan diri semalam bukan?”
“Kalau aku memang pria hidung belang yang berniat menidurimu tentu saja aku tidak akan membiarkan kamu selamat semalam, namun lihatlah pakaianmu masih lengkap sampai pagi ini.”
****
Jihan terdiam mendengar ucapan Ferdian barusan, memang apa yang Ferdian katakan itu masuk akal, kalau pria ini memang memiliki niat mesum padanya, sudah pasti Jihan bangun dalam keadaan tidak mengenakan apa pun,
namun saat ini ia terbangun dengan pakaian yang masih lengkap melekat di tubuhnya.
“Kenapa kamu pergi ke tempat itu semalam?” tanya Ferdian akhirnya setelah pria itu sudah selesai berpakaian.
“Untuk apa lagi? Tentu saja untuk menghilangkan semua pikiran negatif yang ada di dalam benakku.”
“Memangnya apa yang terjadi padamu?”
“Sejujurnya, aku benci ketika memikirkan Olaf menyukai Tania, walaupun itu tidak benar, namun kenapa pikiranku selalu mengatakan seperti itu?”
“Itu karena kamu terlalu berburuk sangka padanya.”
“Siapa maksudmu?”
“Pria bernama Olaf itu, kalau memang dia tidak menyukai Tania, kenapa juga kamu harus menuduhnya menyukai Tania?”
“Kamu tidak mengerti Ferdian, aku sangat yakin kalau dia memang tertarik pada Tania.”
“Apakah yang kamu bicarakan ini berdasarkan bukti atau hanya asumsi belaka?”
Jihan seketika terdiam mendengar pertanyaan Ferdian barusan, pria itu nampak menghela napasnya panjang, ia sudah menduga bahwa Jihan pasti hanya berpikir sesuai dengan asumsinya saja dan bukan berdasarkan fakta.
****
Jihan jadi memikirkan apa yang Ferdian katakan, sepertinya memang benar apa yang Ferdian katakan bahwa ia terlalu berpikiran buruk pada Olaf yang mencintai Tania, padahal tentu saja faktanya belum tentu seperti itu. Jihan menghela napasnya panjang dan kini ia dan Ferdian dalam perjalanan pulang ke rumah, semalaman Jihan tidak mengaktifkan ponselnya dan sudah pasti saat ini Ester akan memarahinya karena semalaman ia tidak dapat
dihubungi.
__ADS_1
“Terima kasih sudah mau mengantarkanku ke rumah,” ujar Jihan.
“Tidak masalah, masuklah.”
Jihan masuk ke dalam rumahnya, Ferdian menunggu sampai Jihan benar-benar masuk ke dalam rumah dan pria itu melajukan kendaraannya pergi dari depan rumah, ketika Jihan masuk ke dalam rumah, seperti dugaannya
Ester akan langsung bertanya padanya kenapa semalaman ia tidak dapat dihubungi.
“Katakan pada Mama, semalaman kamu pergi ke mana? Kenapa ponselmu tidak aktif?”
“Aku menghabiskan malam dengan Ferdian, apakah Mama puas?”
Ester nampak terkejut dengan ucapan Jihan barusan, ia memegang kedua bahu Jihan dan meminta agar Jihan serius dalam bicara, Jihan mengatakan bahwa ia sangat serius dalam mengatakan hal ini.
“Aku serius Ma, aku tidur dengan Ferdian.”
“Jihan, Ya Tuhan.”
“Lagi pula sebentar lagi aku dan dia akan menikah bukan? Memangnya apa yang harus Mama khawatirkan?”
****
Sementara itu Bram kembali melakukan video call dengan Minanti, ia bertanya bagaimana perkembangan Tania di sana, Minanti mengatakan bahwa hari ini Tania baru memulai operasi rekonstruksi wajah dan ia meminta doa
“Amiin, aku mendoakan agar semuanya dapat lancar.”
“Ngomong-ngomong apakah anak-anak sudah pulang?”
“Anak-anak belum pulang, memangnya kenapa?”
“Aku merindukan mereka.”
“Kalau mereka sudah pulang, aku akan menyuruh mereka melakukan video call denganmu.”
“Baiklah kalau begitu, tolong sampaikan salamku pada mereka semua, ya.”
“Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir karena aku akan menyampaikan salammu untuk mereka.”
Setelah menutup sambungan video call dengan Minanti, kini Bram hendak pergi ke taman belakang namun terdengar suara bel pintu, tidak lama kemudian asisten rumah tangga membukakan pintu dan rupanya orang yang
datang saat ini adalah Juan.
“Pa.”
“Di mana kakakmu?”
__ADS_1
“Dia masih di kantor, kenapa memangnya?”
“Dia pasti bekerja lembur lagi, tadi mama kalian melakukan video call dengan Papa, dan katanya dia sangat merindukan kalian, kalian diminta untuk melakukan video call dengan beliau.”
“Oh benarkah? Baiklah, setelah ini aku akan menghubungi mama.”
“Baiklah, kamu pergilah mandi dan berganti pakaian, setelah itu kita akan makan malam.”
“Apakah kita tidak akan menunggu sampai kakak pulang?”
“Menunggu sampai kakakmu pulang? Apakah kamu ini tidak mengenal Olaf? Dia itu gila kerja, dia kalau sudah bekerja dia akan lupa waktu.”
****
Stefani nampak berjalan memasuki ruangan kerja Olaf yang masih menyala lampunya, ia memasuki ruangan kerja Olaf dan menghampiri pria itu yang masih berkutat dengan tumpukan berkas yang menggung di meja kerjanya.
“Astaga, kamu lagi.”
“Sepertinya masih banyak sekali pekerjaan yang harus kamu selesaikan.”
“Iya, baguslah kalau kamu mengerti, sekarang aku minta keluar dari ruangan kerjaku karena aku sedang sibuk.”
“Oh ayolah Olaf, kamu membutuhkan sedikit rileksasi.”
“Aku tidak butuh relaksasi atau apa pun itu, aku ingin agar kamu pergi sekarang juga!”
“Olaf, aku berniat baik lho.”
“Kalau kamu memang memiliki niat yang baik, maka tidak seharusnya kamu membuatku kesal, sekarang keluar dari ruangan kerjaku selagi aku masih berbicara baik padamu.”
“Olaf, kenapa kamu melakukan ini padaku?”
“Hentikan Stefani, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak dapat membalas perasaanmu, jadi lebih baik kamu tidak perlu berharap banyak padaku, ok? Karena semua akan sia-sia saja.”
“Kamu mencintai Tania, bukan?”
“Astaga, kenapa kamu juga mengungkit soal Tania lagi?”
“Sudahlah Olaf, kamu tidak perlu mengelak lagi, kamu memang menyukai Tania, bukan?”
“Stefani, apa pun yang terjadi pada masalah pribadiku maka itu bukanlah urusanmu.”
“Jadi apa yang aku katakan ini benar?”
“Aku sudah katakan, keluar sekarang juga dari dalam ruangan kerjaku!”
__ADS_1