
Jihan tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Handi, bagaimana mungkin Tania diizinkan untuk tinggal di rumah ini, Handi nampak menatap Jihan dan Tania bergantian, sepertinya Jihan agak keberatan dengan keputusannya membawa Tania untuk tinggal di rumah ini, namun Handi akan bicara baik-baik dengan Jihan agar anaknya ini tidak salah paham pada Tania.
“Nak, kita bicara di dalam, ya?”
Maka kemudian Handi mengajak Jihan untuk bicara di dalam rumah, Handi mengatakan bahwa selama ini Tania tinggal dan bekerja di rumah keluarga Olaf, tentu saja hal tersebut membuat kebencian Jihan makin menjadi-jadi pada Tania, selama ia di sana pasti Tania selalu saja mengadu pada keluarga pria yang ia cintai itu tentang kebusukannya dan Ester selama ini.
“Papa tidak tega kalau Tania terus menerus menjadi asisten rumah tangga, maka Papa memutuskan untuk membawa dia tinggal di sini.”
“Aku mau bicara dengan Tania dulu.”
****
Tania terkejut ketika Jihan memasuki kamarnya, Jihan tanpa basa-basi langsung mendorong tubuh Tania hingga jatuh ke tempat tidur, Jihan menuduh Tania menceritakan semua kejahatannya dan Ester pada Olaf serta keluarganya namun Tania menampik yang dikatakan oleh Tania itu.
“Kamu masih saja mau berbohong padaku?!”
Handi terkejut ketika Jihan melakukan hal yang kasar pada Tania, ia melerai perkelahian keduanya, ia meminta agar Jihan menjaga sikapnya dan tidak melakukan tindakan yang justru akan merugikan dirinya sendiri.
“Gadis ini yang kurang ajar, Pa! Dia sengaja mengadu pada Olaf dan keluarganya bahwa aku dan mama jahat!”
“Kamu kenal dengan pria itu?” tanya Handi terkejut.
“Tentu saja, asal Papa tahu saja Olaf adalah pria yang aku cintai!”
“Kalau kamu mencintai Olaf kenapa kamu setuju bertunangan dengan Ferdian?”
Jihan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Handi barusan, Handi menarik tangan Jihan keluar dari dalam kamar Tania karena ia ingin bicara empat mata dengan putrinya ini.
“Jihan, Papa tidak mau kalau kamu bermain-main dengan suatu hubungan, tidak lama lagi kamu dan Ferdian akan bertunangan dan kemudian akan menikah, kalau kamu tidak mencintai Ferdian kenapa kamu mau melakukan
semua ini?”
“Aku tetap akan menikah dengan Ferdian, Papa tidak perlu khawatir.”
“Dan walaupun kamu menikah dengan Ferdian namun kamu masih akan tetap mendamba pria lain?”
“Pa, aku mohon jangan ikut campur urusan pribadiku!”
*****
Tania masih nampak shock dengan serangan yang baru saja dilakukan oleh Jihan padanya, Handi memasuki kamar Tania untuk memastikan bahwa Tania baik-baik saja dan ia tidak terluka sama sekali, Tania menganggukan
kepalanya, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan Handi tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.
“Om Handi tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku karena aku baik-baik saja.”
__ADS_1
“Tania, sejujurnya Om merasa tidak enak padamu.”
“Om tidak perlu merasa begitu.”
“Tapi Jihan sudah melakukan sesuatu hal yang sangat keterlaluan padamu.”
“Aku dapat memahami kenapa dia melakukan itu padaku, sepertinya dia sudah salah paham dengan semua ini.”
“Maka dari itu Om bicara dengannya, apakah kamu sudah tahu kalau dia mencintai Olaf?”
“Iya, aku sudah tahu Om.”
“Om tidak habis pikir, Om tidak mau dia mempermainkan hubungan seperti ini, Om sangat tidak setuju kalau dia kelak akan menikah dengan Ferdian namun diamd-diam dia mendekati pria lain.”
“Aku dapat mengerti apa yang Om rasakan.”
“Sekali lagi Om minta maaf padamu Tania, Om janji kejadian seperti ini tidak akan sampai terulang kembali.”
“Terima kasih, Om.”
“Baiklah, kalau begitu Om keluar dulu, kamu bersitirahat saja di dalam kamar ini, ok?”
“Iya Om, terima kasih.”
*****
“Kenapa kamu pulang dengan wajah begitu? Apakah kamu tidak dapat bertemu dengan papamu?”
“Aku sudah bertemu dengan dia.”
“Lantas kalau kamu sudah bertemu dengan dia, kenapa wajahmu ini masih saja ditekuk begitu?”
“Ini semua karena Tania.”
“Tania? Memangnya kenapa dengan gadis itu?”
“Apakah Mama tahu? Papa meminta Tania untuk tinggal di rumah itu sekarang!”
“Apa maksudmu?!”
“Sebelumnya dia tinggal di rumah keluarganya Olaf, aku yakin hal tersebut yang membuat Olaf jadi curiga kalau aku sudah melakukan hal yang buruk pada gadis itu, dan sekarang pasti Olaf akan makin membenciku karena
mulut gadis itu, aku rasanya geram sekali, Ma!”
“Tunggu-tunggu, jadi sekarang Tania tinggal bersama papamu?”
__ADS_1
“Iya! Dia tinggal di rumah itu bersama papa!”
“Mama tahu bagaimana cara menyingkirkannya.”
“Apakah kali ini Mama yakin akan dapat menyingkirkannya? Apakah Mama yakin rencana Mama ini tidak akan berakhir dengan kegagalan lagi?”
“Kamu ini, Mama sedang mencoba membantumu menyingkirkan Tania kurang ajar itu, namun kamu seperti tidak menghargai apa yang sudah Mama lakukan.”
“Habisnya rencana Mama rata-rata selalu saja gagal.”
*****
Keputusan Tania untuk tinggal bersama dengan Handi membuat Olaf dan yang lainnya sedih, Olaf sudah berusaha untuk meyakinkan Tania bahwa dia harus tetap tinggal di rumah ini bersama dengan mereka namun ia juga
tidak dapat memaksakan kehendaknya apalagi Tania sudah memberikan keputusan bahwa ia ingin tinggal bersama dengan Handi.
“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Minanti saat menghampiri putranya yang tengah duduk sendirian di taman belakang rumah.
“Bukan apa-apa.”
“Apakah kamu memikirkan gadis itu?”
“Siapa yang Mama maksud?”
“Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura tidak tahu apa maksud Mama.”
Olaf menghela napasnya panjang, Minanti menggenggam tangan Olaf seolah ia tahu apa yang saat ini tengah putranya rasakan.
“Tania adalah gadis yang baik bukan?”
“Iya, dia memang gadis yang baik, namun kasihan sekali dia karena harus menderita selama ini setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.”
“Kamu benar, Mama juga sudah menganggap Tania sebagai anak Mama sendiri, walaupun kami baru kenal selama beberapa hari, namun entah kenapa Mama merasa nyaman sekali jika mengobrol dengan dia, dia gadis yang baik
dan sopan.”
“Aku mau masuk dulu ke dalam.”
“Nak tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin Mama tanyakan padamu.”
“Memangnya apa yang hendak Mama tanyakan padaku?”
“Hum, bagaimana ya?”
“Apa yang ingin Mama tanyakan padaku?”
__ADS_1
“Apakah kamu menaruh rasa pada Tania?”
“Apa?!”