
Ester tentu saja kesal dengan Handi, namun Ester tidak akan terpancing dengan ini semua, ia sadar bahwa Handi sudah tidak memiliki apa pun dan percuma saja ia meladeni semua ucapan omong kosong suaminya ini karena
saat ini dirinya yang memegang kendali atas semuanya.
“Baiklah, aku akan pergi.”
Ester pun pergi dari ruangan inap ini, di dalam ruangan ini hanya ada Handi dan Tania, gadis itu nampak penasaran dengan apa yang Ester katakan barusan, namun dirinya terlalu takut untuk menanyakan pada Handi apa yang dimaksud oleh Ester barusan, Handi yang seolah tahu bahwa Tania ingin tahu apa yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri pun memberitahu pada Tania mengenai apa saja yang terjadi, Tania yang mendengarkan cerita Handi pun tidak kuasa untuk bersedih karena rupanya selama ia tak sadarkan diri Handi sudah mengalami banyak sekali masalah.
“Aku minta maaf Om.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf pada Om Tania.”
“Namun aku yang membuat Om menjadi seperti ini.”
“Justru harusnya Om yang meminta maaf padamu Tania, karena Ester kamu menjadi seperti ini, kamu mengalami luka bakar yang cukup serius.”
“Aku baik-baik saja Om.”
“Tania...maafkan Om.”
****
Sementara itu di rumah Minanti dan Bram sedang berdiskusi mengenai keadaan Tania, Minanti mengatakan bahwa ia merasa kasihan dan prihatin sekali dengan yang terjadi pada Tania, apalagi mengenai luka bakar yang diderita oleh gadis itu, Minanti mengatakan bahwa ia ingin sekali agar mereka membiayai pengobatan biaya pemulihan akibat luka bakar yang diterima oleh Tania, namun Bram mengatakan bahwa sebaiknya mereka tidak terlalu ikut
campur sampai sedalam itu.
“Lebih baik kita tidak ikut campur terlalu dalam soal urusan keluarga mereka.”
“Namun sayang, apakah kamu tidak kasihan pada Tania? Gadis itu kulitnya rusak akibat luka kabar yang dideritanya.”
“Aku tentu saja kasihan, namun Tuan Handi pasti juga akan melakukan yang terbaik untuk Tania.”
“Bukannya aku tak percaya padanya, namun kamu tahu sendiri keadaannya saat ini, posisinya sudah digantikan oleh orang lain di perusahaan dan kini yang aku dengar dia sudah tidak mendapatkan jabatan apa pun lagi di perusahaan, bukankah itu sangat menyedihkan?”
“Aku dapat mengerti akan hal itu, namun seperti yang sudah aku katakan bahwa kita harus menahan diri agar tidak terlalu dalam mencampuri urusan keluarga mereka.”
“Ah, sudahlah aku kesal sekali bicara denganmu,” ujar Minanti yang menyudahi obrolan itu dan pergi meninggalkan suaminya.
*****
Hari ini Jihan bertemu dengan calon mama mertuanya, seperti yang telah ia dan Ferdian sepakati bersama sebelumnya bahwa di depan keluarga masing-masing mereka harus berlaku akur dan mesra, walaupun terpaksa
__ADS_1
harus berdekatan dengan Ferdian di depan calon mertuanya namun sesungguhnya Jihan tidak terlalu mempermasalahkan itu, lagi pula ia dan Ferdian sudah lumayan dekat tentu saja sebagai teman, hari ini Ferdian mengatakan bahwa sang mama ingin bertemu dengan Jihan untuk mengajaknya mengobrol sebelum hari pertunangan dirinya dan Ferdian akan digelar minggu depan.
“Aku senang sekali karena sepertinya kalian sudah mulai akrab satu sama lain.”
“Terima kasih Tante.”
“Oh iya bagaimana kabar keluargamu?”
“Baik.”
“Begitu ya, aku dengar di perusahaanmu sedang terjadi gonjang-ganjing, ya?”
“Ma, kenapa membahas soal itu?” tanya Ferdian.
“Mama hanya bertanya pada Jihan, toh walau bagaimanapun kalian tetap akan bertunangan seperti yang sudah kita sepakati bersama diawal.”
“Begitulah Tante, Papa sudah tidak lagi menjadi Komisaris dan Direktur Utama.”
“Ya Tuhan, lalu sekarang apa posisinya di perusahaan?”
“Saya tidak tahu soal itu.”
“Ma, sudahlah jangan membahas soal keluarga Jihan lagi.”
“Tidak apa Tante, saya baik-baik saja, kok.”
“Tuh, kamu bisa dengar sendiri kata-kata Jihan barusan.”
*****
Selepas makan siang itu, Ferdian dan Jihan berjalan menuju mobil masing-masing, Ferdian meminta maaf pada Jihan akibat obrolan mamanya yang mungkin saja membuat Jihan merasa tidak nyaman, namun Jihan mengatakan bahwa Ferdian tidak perlu meminta maaf seperti itu karena nyatanya ia baik-baik saja.
“Kamu tak perlu terlalu memikirkanku, aku baik-baik saja.”
“Baiklah kalau memang kamu mengatakan itu, aku akan mempercayaimu.”
“Hum, sepertinya aku harus segera pulang.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
Jihan pun memasuki mobilnya dan melajukan kendaraannya itu meninggalkan restoran, sementara Ferdian masuk ke dalam mobilnya dan juga melajukan kendaraannya menuju kembali ke kantornya. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Jihan tidak fokus dalam mengemudi hingga ia tak menyadari bahwa di depan lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah dan ia terlambat dalam menginjak pedal rem, lagi-lagi ia menabrak sesuatu, namun kali ini bukan mobil melainkan sebuah motor yang berhenti tepat di depannya, Jihan pun nampak panik setelah
__ADS_1
kejadian itu, ia turun dari mobilnya untuk memeriksa pengendara sepeda motor itu apakah baik-baik saja atau tidak.
“Maafkan aku, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Jihan khawatir dan saat ia melihat wajah si pengendara motor itu, seketika raut wajah berubah masam.
“Jihan, kamu ....”
“Rupanya kamu lagi, kenapa dunia ini sempit sekali.”
*****
Jihan tentu saja bertanggung jawab pada pria yang ia tabrak ini, ia membawa pria ini ke puskemas dan membayar semua biaya pengobatannya, namun saat Jihan hendak pergi pria itu memegang tangannya.
“Jihan, sepertinya kita harus bicara.”
“Lepaskan tanganmu, aku tidak ingin bicara apa pun padamu.”
“Namun kamu harus bertanggung jawab karena baru saja menabrakku.”
“Kamu ini memang benar-benar ya!”
“Aku ingin bicara denganmu, sudah lama kita tidak bicara dari hati ke hati.”
Jihan menghela napasnya berat, walaupun jengkel dengan pria ini namun Jihan akhirnya setuju agar mereka bicara sebentar, maka mereka berdua pergi menuju sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari puskemas.
“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu.”
“Kenapa kamu begitu sinis padaku, Jihan?”
“Sudahlah, aku sudah memperingatkanmu bahwa aku tidak memiliki banyak waktu, jadi jangan buang waktuku untuk mendengarkan pertanyaan konyol seperti ini.”
“Aku masih mencintaimu.”
“Apa?”
“Aku masih mencintaimu, Jihan.”
“Apakah kamu pikir aku akan mempercayai apa yang kamu katakan itu?”
“Tatap mataku, apakah aku berbohong ketika aku mengatakan aku mencintaimu?”
Jihan menatap ke dalam mata pria itu dan ia dapat merasakan bahwa pria ini sama sekali tidak berbohong ketika mengatakan dia mencintainya, namun Jihan segera mendorong tubuh pria ini menjauh darinya.
__ADS_1
“Maaf, namun seperti yang sudah kamu ketahui sebentar lagi aku akan menikah dengan seseorang.”