
Minanti tentu saja tidak dapat menyalahkan Tania akibat apa yang terjadi antara wanita itu dan Ferdian, semua terjadi tanpa mereka duga sebelumnya. Namun ada sesuatu hal yang menggelitik Minanti untuk bertanya pada Tania mengenai Ferdian, kenapa pria itu sampai mabuk dan kemudian datang ke apartemen Tania.
“Dia mengalami masalah yang cukup pelik di kantor.”
“Pasti itu menyangkut tentang posisinya di perusahaan.”
“Entahlah, namun sepertinya kalau sampai dia minum-minum seperti itu maka sudah pasti masalahnya cukup pelik.”
“Sepertinya kamu masih lelah, aku akan meninggalkanmu sendiri di sini.”
“Namun Nyonya baru saja sampai.”
“Tidak apa, kamu butuh istirahat saat ini, aku akan kembali datang lain waktu.”
Minanti pun kemudian melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Tania, selepas ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Tania, Minanti nampak terdiam beberapa saat di depan lift, ia memejamkan kedua matanya dan nampak menghela napasnya panjang sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan ia masuk ke dalamnya. Sementara itu Tania terduduk di sofa ruang tengah memikirkan apa yang terjadi padanya tadi malam, rasanya ia sudah tidak lagi menjadi Tania yang dulu.
“Aku minta maaf,” lirih Tania yang kemudian ia mulai
menangis.
****
Sikap Minanti agar berbeda kalau Olaf perhatikan, sejak tadi Minanti seperti tengah menutupi sesuatu dari seluruh anggota keluarga namun tidak ada satu pun diantara mereka yang mengungkit masalah itu hingga akhirnya setelah menyelesaikan makan malamnya, Olaf pergi menemui Minanti yang tengah duduk sendirian di kursi halaman belakang rumah.
“Mama.”
“Ada apa, Nak?”
“Boleh aku duduk?”
“Tentu saja, silakan.”
Olaf pun duduk di kursi yang ada di sebelah Minanti, mereka berdua nampak terdiam satu sama lain untuk beberapa saat, namun pada akhirnya Olaf pun buka suara dan menanyakan apa yang sebenarnya saat ini tengah terjadi pada sang mama.
“Aku merasa kalau Mama tengah menyembunyikan sesuatu.”
Minanti sama sekali tidak merespon apa yang barusan Olaf katakan itu, pria tersebut nampak menghela napasnya panjang, ia pun tidak mau memaksa sang mama untuk bercerita namun Olaf khawatir mengenai masalah apa
yang sebenarnya tengah disembunyikan oleh Minanti.
“Aku tidak akan memaksa Mama untuk bercerita.”
“Olaf.”
“Iya? Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin sekali Mama katakan padamu.”
“Apa itu?”
“Namun… Mama tidak yakin kalau hal ini baik untukmu.”
“Tidak apa, Mama katakan saja apa yang ingin Mama katakan.”
“Tania dan Ferdian …”
__ADS_1
“Kenapa dengan mereka?”
Minanti pun kemudian menceritakan apa yang terjadi ketika tadi pagi ia datang berkunjung ke apartemen Tania, raut wajah Olaf nampak berubah setelah mendengar cerita dari sang mama itu.
“Mama tahu hal ini sangat berat untukmu.”
****
Ester berhasil keluar dari jerat hukum lagi karena
kekuatan dan uang yang ia miliki, namun Ester bersumpah kali ini ia tidak akan
tinggal diam lagi ketika Minanti akan mencoba menghalangi jalannya.
“Wanita itu ingin bermain-main denganku rupanya, kita
lihat saja nanti siapa yang akan keluar jadi pemenangnya.”
Ester sudah kembali ke rumah, dan semua asisten rumah tangga nampak tidak terkejut ketika Ester berhasil keluar dari jerat hukum yang semestinya dapat membuatnya masuk ke penjara.
“Selamat pagi Nyonya.”
“Buatkan aku minum.”
“Baik, Nyonya.”
Ester duduk di sofa ruang tengah sambil menunggu asisten rumah tangganya membuatkannya minum, tidak lama kemudian akhirnya asisten rumah tangganya datang dan membawakannya segelas minuman.
“Silakan Nyonya.”
“Kamu tahu kalau aku benci jus jeruk, kenapa kamu membawakanku jus jeruk?!”
Ester memecahkan gelas berisi jus jeruk itu hingga pecahan gelasnya berhamburan ke beberapa tempat.
“Saya minta maaf, Nyonya.”
“Kamu saya pecat! Sekarang kamu keluar dari rumah saya!” seru Ester.
“Tapi Nyonya saya ….”
“Tidak ada tapi-tapian, sekarang juga kamu keluar darirumah saya!”
****
Ferdian kembali mendatangi apartemen Tania, wanita itu nampak tidak nyaman ketika Ferdian kembali datang namun ia terlalu sungkan untuk menolak kedatangan pria ini, Ferdian membawakan makanan untuk Tania, ia
harap Tania memberikan respon yang baik dengan makanan yang ia bawa saat ini.
“Makanlah,” ujar Ferdian.
Namun Tania hanya menatap makanan yang dibawakan oleh Ferdian itu, Ferdian nampak menghela napasnya panjang, ia tahu bahwa Tania pasti masih memikirkan kejadian kemarin, namun Ferdian mengatakan bahwa Tania
tidak perlu khawatir akan hal tersebut.
“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu kemarin bahwa aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku jika kamu hamil?”
__ADS_1
“Aku mengerti hanya saja….”
“Tania, apakah kamu ragu kalau aku tidak mau bertanggung jawab?”
“Bukan itu… hanya saja ….”
“Ada apa?”
“Lupakan saja.”
“Aku tahu kamu merasa kecewa padaku atas apa yang sudah aku lakukan padamu saat itu, aku pun merasa menyesal karena sudah melakukan itu padamu, namun… aku dalam keadaan tidak sadar, aku mabuk saat itu.”
“Aku mengerti.”
Ferdian memeluk tubuh Tania, ia mengusap punggung Tania dan perlahan Tania pun membalas pelukan Ferdian.
“Aku janji akan bertanggung jawab atas perbuatanku padamu, Tania, aku janji.”
Ucapan Ferdian itu sama sekali tidak membuat perasaan Tania menjadi lebih tenang, melainkan justru sebaliknya, ia menjadi lebih gelisah, entah kenapa ia merasa bahwa ia tidak akan mudah keluar dari jeratan Ferdian.
****
Ester baru saja tiba di kantor polisi, ia hendak menjenguk Jihan di sana namun polisi mengatakan bahwa sudah ada seseorang yang menjenguk Jihan hingga Ester tidak diizinkan menjenguk Jihan.
“Maaf Nyonya, namun anda dapat kembali lain waktu.”
“Siapa dia?”
“Kami tidak boleh memberitahu anda siapa yang menjenguk anak anda.”
Ester kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan sesuatu pada petugas, petugas itu nampak ragu ketika melihat amplop yang disodorkan oleh Ester itu.
“Saya tahu kalau kamu butuh uang, ambillah ini.”
“Namun Nyonya ….”
“Kamu tahu siapa saya, bukan? Uang dalam nominal seperti ini bukanlah apa-apa bagi saya, namun kamu pasti membutuhkan uang ini.”
Petugas itu nampak bimbang saat Ester masih menyodorkan amplop berisi uang itu, namun Ester melihat seseorang baru saja keluar dari kantor polisi dan sepertinya ia mengenali sosok itu. Ester segera berlari dan menghadang sosok itu.
“Tunggu dulu.”
Sosok itu nampak berhenti ketika Ester menghadang jalannya, ia nampak terkejut ketika melihat Ester pun dengan wanita itu yang nampak terkejut ketika melihat sosok ini.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Saya ….”
“Ikut denganku.”
Ester kemudian menarik tangan orang itu untuk ikut dengannya, ketika mereka sudah agak jauh dari pintu masuk kantor polisi, kini Ester melepaskan tangannya dari tangan orang ini.
“Sekarang katakan padaku kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Saya… baru saja menjenguk Jihan.”
__ADS_1
“APA?!”