
Ferdian terkejut ketika Tania mengatakan tunggu dulu tadi, dengan segera ia mengerem kendarannya dan bertanya pada Tania apa yang terjadi, Tania tidak menjawab dan malah turun dari kendaraannya, Ferdian tentu saja panik dan ikut menyusul Tania yang keluar dari mobil.
“Tania, kamu mau pergi ke mana?!”
Tania menghampiri seorang pengemudi ojek online yang merintih kesakitan di trotoar jalan, Tania terkejut karena rupanya pengemudi ojek online ini adalah Galang.
“Galang?”
“Tania?”
“Siapa dia? Kamu mengenal dia?” tanya Ferdian pada Tania.
“Kenapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi padamu?” tanya Tania pada Galang dan mengabaikan pertanyaan yang diajukan oleh Ferdian barusan.
“Seseorang tadi menyerangku.”
“Apa?!”
“Ketika aku baru saja selesai mengantarkan pelanggan tiba-tiba saja seseorang menghentikan sepeda motorku dan memukulku dengan balok kayu setelah itu sepertinya dia merampas sepeda motorku.”
“Kasihan sekali kamu, aku akan mengantarkanmu pulang.”
“APA?!” seru Ferdian tak percaya.
“Sudahlah Ferdian, memangnya kamu tidak kasihan padanya? Dia baru saja tertimpa musibah, kita harus menolongnya sekarang.”
Walaupun keberatan dengan usul Tania barusan, namun nyatanya Ferdian mengikuti apa yang Tania katakan barusan yaitu menolong Galang dan mengantarkannya pulang ke rumah.
****
Ferdian tentu saja penasaran dan merasa cemburu pada Galang, bagaimanapun juga Tania nampak begitu khawatir dan terus saja mengajak Galang mengobrol sepanjang perjalanan sementara ia mengabaikan Ferdian terus.
“Siapa pria itu sebenarnya?” tanya Ferdian setelah mereka selesai mengantarkan Galang ke rumahnya.
“Dia mantan kekasih Jihan,” jawab Tania.
“Mantan kekasih?”
“Iya, dia mantan kekasihnya Jihan, kenapa? Kamu cemburu padanya?”
“Sejujurnya iya, aku cemburu dengannya, kenapa kamu begitu dekat dengannya dan mengabaikanku?”
“Sudahlah Ferdian jangan mulai drama lagi.”
“Tapi Tania ….”
“Tunggu dulu, jangan-jangan ini ulah Tante Ester.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak tahu kalau wanita itu melarikan diri dari rumah sakit jiwa?”
“Iya, aku tahu kalau dia melarikan diri dari rumah sakit jiwa, namun kenapa kamu mengatakan bahwa mantan mertuaku itu yang melukai pria tadi?”
__ADS_1
“Entahlah, itu hanya perasaanku saja, namun…semoga saja bukan dia.”
“Jadi apakah kita jadi melanjutkan perjalanan mencari warung sate?”
“Tidak, aku sudah tidak ingin sate, aku mau pulang saja.”
“Baiklah, kita pulang sekarang.”
Sesampainya di rumah Tania langsung membuka kulkas dan melihat ada apa saja di dalam kulkas, Ferdian nampak masih saja mengekori ke mana pun Tania pergi dan rupanya hal tersebut tidak Tania sukai.
“Kenapa kamu mengekoriku sampai ke sini?”
“Aku hanya memastikan kalau kamu baik-baik saja.”
“Sudahlah, jangan bersikap berlebihan begitu, kamu mengantuk dan kamu harus istirahat.”
****
Felli nampak menatap suaminya yang tengah mematut dirinya di depan cermin, Juan yang merasa kalau sejak tadi Felli menatapnya pun berbalik badan untuk menanyakan kenapa istrinya itu menatapnya seperti itu.
“Ada apa?”
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Kalau begitu, kamu bisa tanyakan hal tersebut padaku.”
“Sebenarnya… kamu dan Stefani memiliki hubungan apa?”
“Tidak, hanya saja… aku merasa kalau wanita itu dekat sekali denganmu.”
“Felli, kamu tahu sendiri kalau Stefani tidak menyukaiku dan dia menyukai Kak Olaf.”
“Aku tahu dia menyukai kakakmu, namun… sepertinya kamu tertarik dengannya.”
“Sudahlah Felli jangan membicarakan omong kosong seperti ini.”
“Bicara omong kosong? Kenapa kamu mengatakan kalau aku bicara omong kosong padahal aku merasa kalau kamu sebenarnya tertarik dengan wanita itu.”
“Felli, tolong kendalikan rasa cemburumu itu, aku sama sekali tidak memiliki rasa pada Stefani, jadi tolong jangan bicara yang bukan-bukan, apakah kamu mengerti?”
Setelah mengatakan itu, Juan langsung keluar dari dalam kamar meninggalkan Felli nampak wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin, tidak lama kemudian ponselnya berdering, Felli segera meraih ponsel tersebut dan tertera nama seseorang di sana, raut wajahnya nampak bahagia ketika mendapatkan telepon dari orang ini.
****
Sementara itu di meja makan, nampak Juan lebih banyak diam dengan raut wajah yang menandakan kalau dia sedang tidak dalam mood yang baik, Minanti pun bertanya apa yang terjadi pada putranya itu, namun Juan
mengatakan kalau ia baik-baik saja. Olaf tahu bahwa Juan sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka namun ia bersikap berpura-pura tidak tahu dan melanjutkan sarapannya. Namun sarapan indah mereka harus terhenti karena kedatangan Stefani, wanita itu langsung bergabung dengan mereka di meja makan. Dengan kehadiran Stefani itu membuat mood makan Olaf seketika menghilang, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan meja makan, namun tentu saja Stefani langsung berlari mengejar Olaf yang sudah berpamitan pada mereka untuk segera pergi ke
kantor.
“Olaf tunggu dulu.”
Namun Olaf tak bergeming, ia tetap saja melangkahkan kakinya menuju mobilnya, namun Stefani tidak menyerah dan terus saja mengejar Olaf dan berhasil menarik tangan pria itu sebelum Olaf bisa masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
“Apa yang kamu inginkan?!”
“Kenapa kamu pergi begitu saja? Kamu bahkan belum menghabiskan sarapanmu.”
“Seketika aku sudah kenyang karena melihat wajahmu.”
“Olaf ….”
“Stefani, sampai kapan pun aku tidak akan dapat membalas perasaanmu, berapa kali aku harus mengatakannya dan kenapa kamu tidak dapat mengerti juga, hah?!”
“Apakah kamu masih mengharapkan Tania?”
“Itu bukan urusanmu!”
****
Rupanya Juan memperhatikan mereka dari jauh sejak tadi, Felli pun ikut memprhatikan tingkah suaminya itu yang sepertinya dugaannya kalau Juan tertarik dengan Stefani itu benar.
“Kenapa kamu berdiri di sini?” tanya Minanti pada Felli.
“Oh bukan apa-apa, Ma.”
“Di mana Juan?”
“Dia ada di sana.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak pergi ke sana dan temani dia?”
“Tidak, terima kasih.”
“Apakah kalian sedang bertengkar?”
“Tidak kok.”
“Kamu tidak dapat menipuku, aku tahu pasti kalian habis bertengkar, bukan?”
Felli menghela napasnya dan ia pun mengakui bahwa ia dan Juan terlibat sedikit cekcok namun Felli mengatakan pada Minanti bahwa ia dapat menyelesaikan masalah itu dan Minanti tak perlu khawatir tentang hal tersebut.
“Baiklah kalau begitu, semoga saja masalah kalian bisa segera terselesaikan, ya?”
“Terima kasih, Ma.”
Maka kemudian Minanti pun pergi meninggalkan Felli, saat ini Felli melihat bahwa Juan mendekati Stefani dan mereka nampak sedang berbicara empat mata, dari sorot mata dan bahasa tubuhnya saja Felli sudah dapat menduga bahwa sebenarnya Juan tertarik pada Stefani namun wanita itu nampak acuh dan tidak peka dengan sinyal yang Juan berikan. Setelah Juan pergi dan Stefani hendak pergi, Felli menelpon wanita itu dan menyuruhnya untuk berhenti sebentar.
“Kenapa kamu menyuruhku tetap di sini?” tanya Stefani kesal.
“Karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” jawab Felli.
“Kalau begitu cepat katakan dan jangan buang waktuku.”
“Juan menyukaimu.”
“Apa?!”
__ADS_1