Berkah Cinta

Berkah Cinta
Siasat Lain


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari café itu Felli maupun Ricky sama-sama tidak berbicara sepatah kata pun, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Felli yang merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan oleh suaminya meminta maaf pada Ricky.


“Aku ingin meminta maaf atas apa yang sudah suamiku lakukan padamu tadi.”


“Oh, soal itu, tidak masalah, kok.”


“Namun aku merasa tidak enak padamu.”


“Sudah aku katakan bahwa itu tidak masalah.”


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka berdua hingga akhirnya mereka tiba di depan gang tempat Ricky tinggal, pria itu mengucapkan terima kasih pada Felli karena sudah mau mengantarkannya ke sini.


“Terima kasih karena kamu sudah mau mengantarkanku.”


“Tidak masalah.”


“Hati-hati di jalan.”


“Terima kasih.”


Ricky pun turun dari mobil Felli dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang sempit itu, Felli sendiri masih berada di tempatnya untuk beberapa saat hingga akhirnya ia pun melajukan kendaraannya meninggalkan


tempat itu dan pulang ke rumah, ia sudah bersiap menghadapi Juan yang pastinya akan membombardir dirinya dengan berbagai pertanyaan seputar Ricky.


*****


Juan menantikan Felli pulang di rumah, dan tidak lama kemudian Felli pun terlihat masuk ke dalam rumah, tanpa membuang banyak waktu Juan langsung menarik Felli untuk ikut dengannya saat ini.


“Katakan padaku siapa pemuda tadi,” ujar Juan ketika mereka sudah sampai di kamar mereka.


“Sudah aku katakan bahwa tadi bukan urusanmu!”


“Itu tentu saja jadi urusanku, katakan padaku siapa pemuda tadi, Felli!”


“Sejak kapan kamu jadi perhatian begini? Bukankah kamu sudah terlalu sibuk dengan wanita bernama Stefani itu?!”


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Felli! Katakan padaku siapa pemuda tadi!”


“Itu bukan urusanmu!”


“Apakah dia selingkuhanmu? Apakah sekarang kamu mengencani pemuda yang usianya di bawahmu?”


Felli sama sekali tidak menanggapi ucapan Juan barusan, ia berniat pergi dari kamar ini namun Juan langsung menarik tangannya agar Felli tidak dapat pergi dari kamar ini.


“Aku belum selesai bicara, Felli!”


“Lepaskan tanganmu ini!”


“Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu menjawab pertanyaanku, Felli!”


“Sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah kamu mencintaiku?”


“Iya, aku mencintaimu.”

__ADS_1


“Kalau begitu, katakan padaku kamu akan memilih Stefani atau aku?”


“Kenapa kamu menanyakan itu?”


“Karena aku tidak mau kamu menduakanku! Aku tidak mau berbagi suami dengan wanita iblis itu!”


“Tapi bukan berarti kamu bisa berselingkuh di


belakangku!”


“Lepaskan aku!” jerit Felli.


*****


Keesokan harinya Felli tidak ikut sarapan bersama keluarga suaminya, Minanti bertanya pada Juan kenapa Felli tidak turun dan ikut sarapan bersama mereka saat ini.


“Dia sedang tidak enak badan.”


“Benarkah?”


“Iya, maka dari itu dia tidak ikut makan bersama


kita.”


“Apakah keadaannya parah?”


“Tidak terlalu parah, Mama tak perlu khawatir.”


Sementara itu Olaf dan Bram sama sekali tidak buka suara dan mereka lebih memilih untuk fokus pada sarapan mereka, setelah selesai sarapan kini Olaf dan Juan berpamitan pada Minanti dan Bram untuk pergi ke kantor.


Maka Olaf dan Juan pun bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing dan segera pergi ke kantor, selepas kedua anaknya pergi ke kantor, Minanti pergi ke kamar Felli untuk memastikan keadaan menantunya itu.


“Felli, boleh Mama masuk?”


Namun tidak ada balasan dari dalam, Minanti pun membuka pintu kamar Felli yang tidak terkunci itu dan menemukan Felli tengah duduk di tepian tempat tidur.


“Juan bilang kamu sedang tidak enak badan, apakah ada sesuatu yang kamu rasakan saat ini?”


“Aku baik-baik saja, Ma.”


“Kamu sudah minum obat?”


Felli hanya menganggukan kepalanya, Minanti pun menyuruh agar Felli beristirahat saat ini, setelah Felli tidur di tempat tidur dan memejamkan matanya, Minanti pun keluar dari dalam kamar menantunya untuk membiarkan Felli beristirahat.


*****


Saat ini Olaf dan Tania sedang makan siang di sebuah café, nampak Tania sejak tadi ingin mengatakan sesuatu pada Olaf namun ia nampak ragu untuk menanyakan hal tersebut pada pria ini. Olaf yang tahu bahwa Tania ingin bertanya padanya segera mengatakan pada Tania untuk mengatakan saja apa yang ingin ia katakan.


“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, kamu tidak perlu sungkan begitu.”


“Apa?”


“Aku tahu kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku.”

__ADS_1


“Sejujurnya iya, ini menyangkut soal waktu itu.”


“Ada apa?”


“Waktu itu mama dan papamu datang ke apartemenku.”


“Lalu?”


“Saat mamamu pergi ke supermarket, papamu datang ke apartemenku dan mengatakan kalau ada sesuatu yang hendak ia bicarakan denganku, namun anehnya beliau tidak kembali setelah berbicara dengan mamamu.”


“Kok aneh, ya?”


“Aku sendiri merasa aneh, namun aku terlalu sungkan untuk bertanya lebih lanjut soal itu.”


“Sudahlah, kamu tak perlu terlalu memikirkan hal tersebut, ya?”


“Iya, aku sebenarnya tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, namun tetap saja aku tidak dapat menampik bahwa aku penasaran.”


“Aku tahu Tania, aku akan membantu kamu, tenang saja.”


“Benarkah? Apakah aku tidak merepotkanmu?”


“Tentu saja tidak, kamu ini bicara apa? Siapa yang merepotkanku, lagi pula… aku melakukan ini untuk seseorang yang aku cintai.”


“Kamu ini bisa saja.”


*****


Kedekatan Olaf dan Tania tidak dapat dipungkiri membuat Stefani terbakar cemburu, ia benar-benar kesal dan tak terima kalau mereka berdua begitu dekat seperti ini. Ia tidak akan membiarkan mereka bisa dekat seperti ini terus menerus, ia harus melakukan sesuatu agar Olaf dan Tania bisa segera berpisah dan tidak sampai melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh lagi.


“Kalian pikir aku akan diam saja melihat kedekatan kalian? Jangan bermimpi!”


Stefani melirik ke arah ponselnya yang berdering saat ini, sebuah nama tertera di layar ponselnya dan wanita itu segera menjawab panggilan dari nomor tersebut.


“Halo?”


“Kamu ada di mana sekarang?”


“Memangnya ada apa?”


“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan siang, itu pun kalau kamu mau.”


“Tentu saja, aku mau kok.”


“Benarkah? Maksudku… kamu serius, bukan?”


“Tentu saja aku serius, kirimkan saja alamatnya, aku akan datang ke sana.”


“Baiklah.”


Tidak lama kemudian Stefani pun mendapatkan alamat di mana ia harus menemui orang ini, wanita itu nampak menyeringai dan kemudian melajukan kendaraannya menuju sebuah restoran. Ketika ia tiba di restoran itu,


rupanya orang tersebut sudah menunggunya di salah satu meja, Stefani melangkahkan kakinya menuju meja tersebut dan ia duduk di kursi yang berhadapan dengan pria yang tidak lain adalah Juan ini.

__ADS_1


“Maaf kalau aku sudah membuatmu menunggu.”


“Tidak kok, aku pun juga baru datang, bagaimana kalau kita pesan makan terlebih dahulu?”


__ADS_2