
Stefani sudah pulang dengan bahagia setelah dirinya merasa puas ketika Juan mengatakan di depan seluruh anggota keluarganya bahwa pria itu akan menikah dengannya, sementara selepas Stefani pergi kini Minanti
mendatangi Juan untuk mengajak anaknya tersebut bicara empat mata.
“Nak.”
“Ada apa, Ma?”
“Apakah Mama mengganggu waktu istirahatmu?”
“Sama sekali tidak.”
Setelah mendapatkan izin dari Juan, kini Minanti berjalan masuk ke dalam kamar Juan dan duduk di tepian tempat tidur, wanita itu meraih tangan Juan dan menatap dalam ke arah anaknya ini.
“Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini, Nak?”
“Kalau yang Mama maksud adalah menikah dengan Stefani, aku yakin, Ma.”
Minanti nampak menghela napasnya panjang, sekuat apa pun usaha yang sudah ia lakukan untuk menggagalkan rencana pernikahan Juan dan Stefani tidak berhasil karena wanita itu mengandung anaknya Juan.
“Mama tidak bisa menghalangi kamu jika memang ini adalah kemauanmu,” ujar Minanti.
“Terima kasih karena Mama sudah mau mengerti.”
*****
Keesokan paginya Olaf bicara dengan Minanti perihal keinginannya untuk menggabungkan perusahaannya dengan Tania selain agar perusahaan yang digabung itu akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi, dengan digabungnya perusahaan mereka Olaf dapat ikut campur untuk memberhentikan orang-orang yang dianggap sebagai penghalang kemajuan perusahaan karena Tania sampai saat ini tidak berani bertindak.
“Mama tidak masalah soal itu, namun apakah kamu sudah membicarakan masalah ini dengan Tania?”
“Belum, aku ingin membuat ini menjadi sebuah kejutan.”
“Tentu tidak akan jadi kejutan kalau tiba-tiba saja kamu menyodorkan dokumen penggabungan perusahaan yang ada mungkin dia akan tersinggung dengan apa yang kamu lakukan.”
“Apakah menurut Mama Tania tidak akan setuju dengan ide penggabungan dua perusahaan?”
“Mama tidak tahu, Nak, kalau memang kamu penasaran maka kamu tanyakan saja pada Tania supaya lebih jelas.”
__ADS_1
“Baiklah, aku harap dia tidak akan keberatan dengan ideku ini.”
Setelah berbincang dan meminta saran dari Minanti kini Olaf pergi ke apartemen Tania untuk membicarakan soal penggabungan dua perusahaan dan ia hanya berharap bahwa Tania setuju karena niatnya itu baik untuk menolong perusahaan Tania agar dapat berkembang lebih pesat lagi.
“Olaf?”
Tania nampak terkejut ketika mendapati Olaf sudah berdiri di depan pintu apartemennya, tanpa dipersilakan masuk terlebih dahulu, pria itu langsung menerobos ke dalam apartemen dan duduk di sofa ruang tengah karena memang ia sudah terbiasa datang ke sini.
“Kenapa kamu ke sini tanpa mengabariku dulu?”
“Memangnya aku harus mengabarimu dulu?”
“Tentu saja, bagaimana kalau aku sedang pergi keluar tadi?”
“Aku tahu kode membuka pintu apartemenmu, maka aku akan menunggu di dalam saja.”
*****
Kini Olaf bicara serius pada Tania mengenai rencananya untuk menggabungkan dua perusahaan, Olaf mengatakan bahwa ia tidak memiliki niatan jahat dalam penggabungan perusahaan mereka, justru Olaf malah ingin membantu perusahaan Tania agar dapat lebih maju lagi dan meningkatkan nilai jual perusahaan itu serta mendepak orang-orang lama yang bermasalah di perusahaan tersebut.
“Kamu percaya padaku, kan?”
tulus ingin membantu Tania.
“Ketahuilah Tania, aku sama sekali tidak berniat buruk padamu.”
“Aku tahu Olaf, terima kasih karena kamu sudah peduli padaku selama ini.”
“Jadi bagaimana keputusanmu? Apakah kamu menerimanya?”
“Bolehkah aku memikirkannya terlebih dahulu?”
“Tentu saja, kamu boleh pikirkan karena kalaupun aku setuju perusahaan kita akan digabungkan maka hal tersebut akan terlaksana setelah pernikahan kita, jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku akan mengambil alih perusahaanmu tanpa izin sebelum kita menikah.”
*****
Stefani mengirimkan undangan pernikahannya dengan Juan pada Felli, tentu saja wanita itu dengan sengaja mengirimkan undangan tersebut untuk membuat hati Felli semakin hancur karena mimpinya untuk kembali bersama dengan Juan tidak akan pernah terjadi. Felli yang menerima undangan itu hanya diam saja dan tidak menampakan reaksi apa pun, sementara sang mama yang merebut undangan itu dari tangan Felli nampak geram dengan Stefani karena wanita itu dengan sengaja melakukan hal ini pada anaknya.
__ADS_1
“Stefani tidak salah, Ma, aku dan Juan memang sudah berpisah atas kemauanku sendiri.”
“Nak, kenapa kamu harus berkorban sampai sejauh ini?”
“Aku baik-baik saja, Ma, Mama tidak perlu khawatir.”
Felli kemudian pergi ke kamarnya dan duduk di tepian tempat tidur, ia berusaha membuang semua hal tentang Juan saat ini dan perkataan Azka semalam membuatnya menjadi merenungkan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Ucapan adiknya itu memang ada benarnya, ia ingin sekali cepat move on dari Juan namun di sisi lain ia juga masih mengharapkan pria itu namun kali ini Felli harus menguatkan hatinya bahwa ia tidak boleh terus menerus berada di masa lalu.
“Iya, aku harus mulai melangkah, aku tidak mau terjebak di masa lalu,” ujarnya.
*****
Stefani nampak bersemangat dalam memilih gaun pengantin yang akan ia kenakan tidak lama lagi sementara Juan sendiri nampak biasa saja, ia sama sekali tidak antusias seperti Stefani namun wanita itu nampak tidak peduli, yang paling penting adalah tidak lama lagi ia dan Juan akan menikah dan rencananya akan segera berlangsung.
“Bagaimana menurutmu gaunku ini?”
“Cantik.”
Stefani berdecak kesal namun ia segera mengabaikan respon yang diberikan Juan, setelahnya ia mengajak pria itu untuk makan siang di restoran yang letaknya tidak jauh dari butik tersebut.
“Kamu nampaknya tidak bersemangat dengan pernikahan kita,” ujar Stefani.
“Bisakah kita tidak perlu membahas itu? Aku sudah mengatakan bahwa aku akan menikahimu dan itulah yang akan terjadi.”
“Tentu saja itu akan terjadi kalau memang kamu sudah resmi menikah denganku, ini kan masih dua minggu lagi.”
“Astaga Stefani apakah kamu takut kalau aku akan melarikan diri di hari pernikahan kita?”
“Iya, bisa saja hal itu terjadi, kamu melarikan diri dan menemui Felli.”
“Aku dan Felli sudah berpisah, apakah kamu sudah lupa akan hal itu?”
“Iya, namun Felli masih mencintaimu, dia pasti akan menggunakan pengaruhnya untuk mempengaruhimu agar tidak jadi menikah denganku.”
“Stefani bisakah kamu tidak berpikiran buruk padanya? Felli tidak seperti apa yang kamu katakan tadi.”
“Bagaimana bisa kamu tahu tentang apa yang ada di dalam pikirannya?”
__ADS_1
Juan terdiam mendengar ucapan Stefani barusan dan kemudian ia menyantap hidangan makan siang yang tersaji di hadapannya, namun Stefani meraih tangannya dan menatapnya serius.
“Katakan padaku kalau kamu mencintaiku.”