Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Diusir


__ADS_3

Kondisi kesehatan Jihan sudah mulai membaik secara perlahan menurut dokter yang menaganganinya, kini Jihan sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang inap biasa, Ester tentu saja merasa lega karena akhirnya putrinya ini sudah melalui masa-masa kritisnya, ia terus saja menjaga Jihan karena takut sesuatu hal yang buruk akan terjadi pada putrinya ini kalau ia pergi meninggalkan Jihan seorang diri di sini. Ester terkejut ketika mendengar suara pintu ruangan inap ini terbuka dan ketika ia melihat siapa orang yang datang saat ini, ia tidak dapat menahan kekesalannya.


“Mau apa kalian berdua datang ke sini?”


Orang yang datang ke ruangan inap ini adalah Tania dan Handi, tentu saja kedatangan kedua orang itu membuat Ester kesal bukan main, wanita itu menyuruh Handi dan Tania untuk segera keluar dari ruangan inap ini.


“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mau melihat wajah kalian berdua lagi, keluar dari ruangan inap ini sekarang!” seru Ester.


“Ester, apakah kamu harus selalu membuat masalah bahkan di rumah sakit sekalipun?”


“Aku membuat masalah? Kalian justru yang membuat masalah, jadi sebaliknya kalian pergi sekarang juga sebelum aku panggilkan satpam untuk mengusir kalian berdua dari ruangan ini.”


“Om, lebih baik kita pergi saja,” ujar Tania.


****


Handi tentu saja merasa kecewa karena Ester tidak memberikan kesempatan baginya untuk bertemu dengan Jihan yang sudah melalui masa kritisnya, Tania berusaha untuk membesarkan hati Handi saat ini, Handi juga meminta maaf pada Tania akibat sikap Ester yang kurang ajar pada mereka tadi.


“Aku sama sekali tidak masalah Om, namun justru sepertinya Om yang sangat kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Jihan.”


“Kamu benar Tania, ketika mendapatkan kabar bahwa Jihan sudah melalui masa kritisnya, aku begitu senang dan ingin secepatnya menemuinya namun sepertinya… Ester masih begitu membenciku hingga akhirnya dia tidak mau melihat wajahku.”


Tania dapat mengerti apa yang Handi rasakan saat ini, tentu saja ia merasa bersimpati dengan yang dirasakan oleh Handi, ia pun bertekad agar membuat Handi dapat bertemu dengan Jihan walau hanya sebentar saja.


“Om tunggu dulu sebentar di sini, ya?”


“Tania, memangnya kamu mau pergi ke mana?”


“Aku tidak akan lama kok, aku pasti akan kembali.”


Tania pun segera kembali masuk ke rumah sakit, lebih tepatnya ia menuju ruangan inap Jihan, Ester yang masih ada di sana nampak geram bukan main saat melihat saat ini Tania kembali datang ke ruangan inap Jihan.


“Mau apa lagi kamu datang ke sini? Apakah yang aku katakan barusan tidak cukup jelas?!”


****

__ADS_1


Olaf masih tidak bisa tenang saat ini, ia mondar-mandir di dalam kamarnya, ia ingin tahu secara langsung bagaimana kabar terkini Jihan, ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saat ini, ketika menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Minanti yang menanyakan ke mana ia hendak pergi.


“Olaf, kamu mau pergi ke mana, Nak?”


“Aku ingin pergi ke rumah sakit, Ma.”


“Rumah sakit? Untuk apa kamu pergi ke sana?”


“Aku tidak bisa duduk diam dan tidak mengetahui secara langsung bagaimana kondisi Jihan.”


Minanti menghela napasnya berat saat mendengar jawaban Olaf itu, ia kemudian mengusap lengan Olaf, ia mengatakan bahwa Olaf tidak dapat pergi sendirian ke rumah sakit itu.


“Mama akan ikut denganmu ke sana.”


“Apa? Mama tidak perlu ikut ke sana, aku dapat pergi sendiri.”


“Olaf, Mama tahu sekali apa yang kamu rasakan saat ini, akan terlalu berbahaya kalau kamu Mama biarkan sendiri datang ke rumah sakit dengan kondisi kamu yang seperti ini, sebentar dulu Mama ingin ganti pakaian.”


Minanti kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, Olaf pun menunggu Minanti yang sedang berganti pakaian di kamar, Bram yang melihat Olaf hendak pergi saat ini pun bertanya pada Olaf hendak pergi ke mana Olaf saat ini.


“Aku mau pergi ke rumah sakit, Pa.”


****


Handi tidak tahu apa yang sudah Tania katakan pada Ester hingga akhirnya wanita itu mengizinkannya untuk menemui Jihan walau hanya sebentar, Handi meraih tangan Jihan dan menggenggamnya dengan erat, air mata


Handi tidak kuasa untuk tumpah saat ini, ia berharap bahwa putrinya dapat segera siuman saat ini. Setelah waktu 15 menit berlalu, kini Ester kembali masuk ke dalam ruangan inap dan meminta Handi untuk keluar saat ini juga.


“Waktunya sudah habis, kamu bisa keluar.”


Handi sama sekali tidak protes ketika Ester menyuruhnya untuk keluar karena memang sudah menjadi kesepakatan mereka di awal tadi bahwa Handi hanya diberikan waktu selama 15 menit di dalam ruangan ini.


“Terima kasih karena kamu sudah mengizinkan aku bertemu dengan Jihan.”


“Sudahlah, jangan berbasa-basi padaku, lebih baik kamu segera keluar dari sini.”

__ADS_1


Handi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan inap Jihan, ketika ia sudah ada di luar ruangan nampak Tania yang menunggunya di sana.


“Jadi bagaimana, Om?”


“Terima kasih banyak Tania, karena kamu akhirnya Om dapat bertemu juga dengan Jihan.”


“Jangan berterima kasih padaku Om, lagi pula aku tidak melakukan apa-apa kok.”


“Kamu ini bisa saja, lebih baik kita pulang saat ini.”


“Baiklah.”


****


Ketika mereka berdua sudah berada di luar rumah sakit, lebih tepatnya ada di parkiran, saat ini mereka berpapasan dengan Minanti dan Olaf, Tania menyapa mereka berdua dan bertanya kenapa Minanti dan Olaf ada di tempat ini.


“Kami datang ke sini untuk menjenguk Jihan.”


“Jihan? Dia sudah dipindahkan ke ruang inap biasa saat ini.”


“Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya, berarti dia sudah melalui masa kritisnya?”


“Begitulah.”


Setelah mengobrol singkat, kini Minanti dan Olaf kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju ruang inap Jihan, ketika ada di dalam lift, Minanti kembali menanyakan pada Olaf apakah ia sudah siap menemui Jihan atau belum dan Olaf mengatakan bahwa ia sudah siap bertemu dengan Jihan, ia ingin melihat secara langsung bagaimana kondisi Jihan saat ini, namun tentu saja ia lega ketika mendengar bahwa saat ini Jihan sudah melalui masa kritisnya. Pada akhirnya mereka pun tiba di depan ruang inap Jihan, Minanti nampak menanyakan sekali lagi pada Olaf apakah putranya ini siap bertemu dengan Jihan atau belum.


“Aku siap, Ma.”


Maka kemudian Minanti perlahan membuka pintu ruangan inap Jihan, di sana ada Ester yang tengah menjaga Jihan, ketika melihat Minanti dan Olaf datang, Ester langsung menghampiri mereka dan langsung mengusir


mereka.


“Keluar sekarang.”


“Kami bahkan baru saja tiba dan kamu sudah mengusir kami?”

__ADS_1


“Aku katakan keluar sekarang atau aku akan memanggil satpam!”


__ADS_2