
Tania mengerjapkan matanya, ia berusaha mengenali di mana ia berada saat ini dan hal pertama yang ia lihat saat ini adalah sosok Ester yang tengah tersenyum padanya, Tania diikat tangan dan kakinya disebuah kursi dan wanita itu berjalan ke arahnya.
“Rupanya kamu sudah siuman.”
“Apa yang anda lakukan?”
“Tania, kamu pikir kamu dapat melakukan ini padaku?”
“Saya tidak mengerti apa yang anda katakan.”
PLAK
Ester menampar wajah Tania dengan keras, Ester tentu saja kesal karena ia tahu bahwa Tania mengerti apa yang sedang saat ini ia bicarakan.
“Apakah kamu sedang berpura-pura amnesia? Aku sangat yakin kalau kamu mengerti apa yang sedang aku bicarakan.”
“Apa alasan anda menculikku karena anda takut kalau saya akan merebut apa yang seharusnya menjadi milik saya?”
“Hahaha, kamu jangan terlalu percaya diri dulu, kamu pikir kamu dapat melakukan itu?!”
“Tentu saja saya bisa melakukan itu, bukankah saya sudah pernah mengatakannya pada anda?”
“Aku suka sekali rasa percaya dirimu, namun Tania kamu harus realistis saat ini, tidak ada satu pun orang yang akan menyelamatkanmu dari tempat ini, dulu mungkin kamu dapat menghindari maut namun keberuntungan kamu
sudah habis saat ini, saatnya kamu membayar atas apa yang sudah kamu lakukan padaku dan anakku.”
“Jadi anda ingin membunuhku? Kalau begitu lakukan saja, lakukan apa yang anda inginkan!”
****
Orang suruhan Minanti berhasil melacak di mana keberadaan Tania saat ini dan mereka pun sudah menghubungi polisi untuk melakukan penyergapan bersama, tepat saat Ester hendak membunuh Tania, polisi datang dan langsung menangkap wanita itu, Ester berusaha melawan namun tentu saja apa yang ia lakukan adalah sebuah hal yang sia-sia.
“Kalian tidak dapat melakukan ini padaku, lepaskan aku!”
“Anda berhak untuk diam, sekarang juga ikut dengan kami ke kantor!”
Ester pun digiring ke dalam mobil polisi beserta dengan orang-orang suruhannya, Tania pun dapat dibebaskan namun ia akan diperiksa sebagai saksi atas perbuatan Ester padanya tadi.
“Tania,” ujar Minanti yang ada di luar gedung kemudian saat melihat Tania sudah dibebaskan, wanita itu langsung memeluk Tania dengan erat.
“Nyonya.”
“Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa.”
“Apakah Nyonya yang melakukan semua ini?”
“Tentu saja, Nak.”
“Terima kasih banyak.”
__ADS_1
“Tidak masalah, sudahlah kamu tidak perlu berterima kasih padaku.”
Rupanya Minanti tidak datang sendirian, melainkan ada Olaf di sana, karena terlalu bahagia akhirnya Tania baru menyadari kalau Minanti tidak datang sendirian, pria itu dari raut wajahnya juga nampak cemas namun ketika tahu bahwa Tania baik-baik saja, kelegaan terpancar dari wajahnya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu.”
****
Ferdian pulang dengan wajah babak belur, ia mencari di mana Jihan karena ia yakin orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Tania, pasti Jihan adalah dalang di balik semua ini, akhirnya ia menemukan Jihan tengah duduk di pinggir tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
“Kamu memang benar-benar, ya!”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah, kamu tidak perlu berpura-pura, kamu pasti dalang di balik semua ini, bukan?”
“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini.”
“Kamu pikir aku percaya dengan semua yang kamu katakan, hah?!”
“Ferdian, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu tengah bicarakan ini.”
Ferdian kemudian memegangi kedua bahu Jihan dan mengguncangnya dengan erat, ia meminta agar Jihan mengatakan padanya di mana keberadaan Tania sekarang.
“Aku tidak tahu dia ada di mana.”
“Bahkan saat ini pun kamu masih saja berdusta?!”
“Sumpah, aku tidak berdusta, aku tidak tahu di mana Tania saat ini.”
“Kalau begitu kamu pasti tahu apa yang terjadi pada Tania, bukan?”
“Iya, aku memang tahu, namun aku tidak melakukan itu, Mamaku yang melakukan semua itu!”
“Mamamu?”
“Iya, Mamaku yang melakukan semua itu pada Tania, sejak dulu dia yang selalu ingin membunuh Tania!”
****
Ferdian merasa lega ketika mendengar bahwa Tania baik-baik saja saat ini, ia ingin sekali menjenguk Tania secara langsung namun Tania mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan Ferdian tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.
“Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.”
“Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu? Kamu tahu ketika melihat kamu diculik tadi dan aku tidak bisa melepaskanmu, aku merasa bersalah sekali.”
__ADS_1
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku baik-baik saja kok.”
“Baiklah kalau memang begitu, aku percaya padamu.”
“Terima kasih.”
Keesokan harinya Ferdian langsung datang ke rumah Handi untuk menjenguk Tania, untung saja saat ini Handi sedang tidak ada di rumah hingga Handi tidak akan bertanya hal yang macam-macam pada Ferdian kenapa
datang ke sini dan perihal hubungannya dengan Tania.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
“Seperti yang sudah kamu lihat, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu, semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu.”
“Wajahmu nampak ada luka.”
“Itu bukan masalah besar, yang penting kamu selamat saat ini, hal tersebut sudah menjadi sebuah kelegaan tersendiri bagiku.”
Tania tersenyum mendengar ucapan Ferdian barusan, ia melirik ke arah lain rumah dan ia menemukan sosok Olaf di pintu namun pria itu yang melihat Tania dan Ferdian tengah mengobrol memutuskan untuk berbalik badan.
“Ferdian, tunggu sebentar, ya.”
“Ada apa memangnya?”
****
Olaf merasa tidak tenang saat ini, ia harus menemui Tania dan memastikan bahwa Tania dalam keadaan baik-baik saja, ia sudah membawakan bingkisan untuk wanita itu dan kini ia sudah berada di depan rumah Handi. Ia melihat ada sebuah mobil yang asing terparkir di depan rumah Handi namun ia tidak berpikiran yang aneh, ia pun dengan mantap melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah, nampak pintu depan rumah terbuka dan Olaf
dapat mendengar bahwa saat ini Tania sedang berbicara dengan seseorang, ketika ia hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, ia mengurungkan niatnya ketika melihat keakraban antara Tania dan Ferdian, sesuatu di dalam hatinya bergolak saat melihat keakraban antara Tania dan Ferdian, ia berniat berbalik badan saat ini dan mengurungkan niatnya untuk menemui Tania. Ketika ia hendak kembali ke mobilnya, Tania memanggil namanya hingga Olaf memberhentikan langkah kakinya.
“Olaf tunggu.”
Tania kemudian menghampiri Olaf dan bertanya kenapa pria ini datang, Olaf pun menyodorkan bingkisan yang tadi ia bawa pada Tania.
“Aku membawakan ini untukmu.”
“Terima kasih, namun kenapa kamu tidak masuk saja tadi?”
“Tidak terima kasih, aku tidak mau mengganggu kalian.”
“Mengganggu apanya?”
“Sudahlah Tania, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, aku mau pamit dulu, ya?”
Olaf pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu meninggalkan rumah Handi, Ferdian menyusul Tania sampai ke halaman dan bertanya siapa pria tadi.
“Siapa pria tadi?”
__ADS_1
“Apa?”