
Felli menghalangi jalan Stefani ketika wanita itu hendak masuk ke dalam lift, Stefani menatap tajam pada Felli yang saat ini menghalangi jalannya, ia meminta agar Felli segera menyingkir dari jalannya.
“Lebih baik kamu menyingkir sekarang juga!”
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu dan aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur.”
“Apa maksudmu?”
“Apakah kamu mencintai Olaf dan ingin menikah dengan pria itu?”
“Iya, aku mencintainya dan aku ingin menikah dengannya, apakah kamu puas?”
“Kalau begitu, aku bisa saja membantumu.”
“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu ucapkan?”
“Stefani, aku tidak akan main-main dengan ucapanku, aku akan membantumu.”
“Sudahlah, aku tidak butuh mendengar ucapan dari mulutmu yang tidak dapat aku percaya, aku mau pergi saja.”
“Baiklah kalau begitu, namun aku sudah menawarkan bantuan padamu, kalau kamu menolaknya maka aku tidak masalah.”
Stefani tetap masuk ke dalam lift dan tidak lama kemudian pintu lift tersebut tertutup, Felli kemudian berjalan menuju ruang di mana Olaf dirawat saat ini, nampak semua orang masih ada di sana dan begitu bahagia saat Olaf sudah siuman.
****
Tania menuju ruang inap Ferdian di sana hanya ada Maya yang tengah menjaga putranya, ketika mendengar suara pintu terbuka, wanita itu sontak menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok Tania di sana, raut wajahnya seketika berubah menjadi tidak senang.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Saya ingin menjenguk Ferdian.”
“Saya tidak mau melihat wajahmu lagi, keluar dari ruangan ini sekarang selagi aku masih bicara baik-baik padamu.”
“Baiklah kalau Nyonya mengatakan begitu.”
Baru saja Tania hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Ferdian, langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara Ferdian yang meracau memanggil namanya, ia pun segera berbalik badan untuk melihat apakah yang ia dengar itu nyata atau hanya sekedar halusinasi semata saja?
__ADS_1
“Ya Tuhan Ferdian,” ujar Maya.
Perlahan kedua mata Ferdian mulai terbuka dan Maya begitu bahagia ketika anaknya itu akhirnya berhasil siuman, Maya langsung memeluk Ferdian namun mulut Ferdian masih saja meracau memanggil nama Tania.
“Untuk apa kamu memanggil nama wanita itu?”
Namun Ferdian tetap saja memanggil nama Tania hingga membuat Maya kesal, karena tidak tega dengan putranya yang terus menerus meracau memanggil nama Tania, akhirnya Maya mengizinkan Tania mendekati tempat
tidur Ferdian.
“Aku melakukan semua ini karena anakku, bukan karena aku menyukaimu,” ujar Maya tajam saat Tania berdiri di dekat tempat tidur Ferdian.
****
Olaf sudah diizinkan untuk keluar dari ruangan inapnya walaupun ia belum diperbolehkan pulang ke rumah karena masih membutuhkan beberapa perawatan dari dokter sebelum ia diizinkan untuk pulang. Kini Olaf sedang duduk di taman rumah sakit seorang diri menikmati udara pagi yang segar, ketika ia sedang duduk seorang diri, seseorang duduk di sebelahnya dan ketika Olaf menengok ke arah sebelahnya nampak Stefani tengah tersenyum manis padanya.
“Hai Olaf, senang karena kamu bisa duduk di taman ini, artinya kondisi kesehatanmu sudah lebih baik.”
Namun Olaf tidak menanggapi apa yang Stefani katakan, tentu saja wanita itu kesal karena Olaf sama sekali tidak menanggapi ucapannya, namun Stefani tidak kehilangan akal, ia tetap saja mengajak Olaf bicara namun hal yang mengejutkan pun terjadi, Olaf bersiap pergi meninggalkannya di tengah dia bercerita.
“Olaf, kamu mau pergi ke mana?” tanya Stefani menahan lengan Olaf.
“Kalau begitu biar aku bantu, ya?”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” ujar Olaf ketus seraya melepaskan tangan Stefani dari lengannya.
“Olaf, tidak bisakah kamu bersikap baik padaku lagi?” tanya Stefani yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Olaf.
“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah dapat membalas perasaanmu, jadi lupakan saja.”
****
Ester kini sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus penusukan Ferdian dan Olaf oleh polisi, semua uang dan kekuasaan yang ia miliki kini tdak dapat menolongnya untuk keluar dari jeratan hukum. Minanti saat ini datang untuk menjenguk Ester setelah ia mendapatkan kabar bahwa wanita itu sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi dan ia harap bahwa saat ini adalah langkah awal untuk Ester mempertanggung jawabkan perbuatan kejinya di
masa lalu.
“Mau apa kamu datang ke sini?”
__ADS_1
“Bagaimana rasanya berada di balik jeruji besi?”
“Kurang ajar sekali kamu!”
“Ini bahkan belum seberapa dengan banyaknya nyawa manusia yang kamu ambil paksa demi ambisimu.”
“Aku akan segera keluar dari tempat ini dan membalas kalian semua!”
“Aku harap penjara dapat mengubah kepribadianmu.”
Setelah mengatakan itu, Minanti pun pamit untuk pergi, namun Ester terus saja meneriaki Minanti hingga petugas langsung membawa Ester kembali ke sel tahanannya, Ester kembali berontak namun usahanya sia-sia saja
karena kini ia harus mendekam di balik jeruji besi. Minanti merasa puas karena akhirnya Ester dapat mendekam juga di balik jeruji besi, ia berharap bahwa Ester akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan kejinya di masa lalu, saat ini Minanti mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang dan mengajak orang itu untuk bertemu nanti.
****
Tania berjalan dengan gugup ketika ia menghadiri acara pelantikannya sebagai Direktur Utama perusahaan yang baru, gemuruh tepuk tangan membahana di ruangan ini, Tania yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk
berpidato di depan banyak orang seketika menjadi gugup melihat banyaknya orang padahal ia hanya tinggal membaca teks saja yang ada di depannya. Minanti nampak duduk di kursi paling depan, wanita itu memberikan semangat pada Tania dari kursinya hingga akhirnya Tania pun dapat lebih rileks dalam melakukan pidato perdananya sebagai Direktur Utama perusahaan, gemuruh tepuk tangan kembali membahana ketika Tania selesai
menyampaikan pidato dan visi misinya sebagai pucuk pimpinan perusahaan yang baru, tamu undangan memberikan selamat padanya satu persatu dan tentu saja di antaranya Minanti melakukan hal yang serupa.
“Aku tahu kalau kamu pasti bisa melakukannya.”
“Terima kasih banyak Nyonya, tanpa bantuan Nyonya rasanya mustahil untuk saya dapat berada di sini sekarang.”
“Aku hanya berusaha membantu sebisaku, aku harap kamu dapat menjalankan tugasmu ini dengan baik dan tidak mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayakanmu.”
“Terima kasih banyak, Nyonya.”
“Apakah kamu akan pergi ke rumah sakit nanti?”
“Iya, aku akan pergi ke rumah sakit sore atau malam nanti.”
“Baiklah, aku tunggu kamu di rumah sakit, sampai jumpa, ya?”
“Terima kasih banyak Nyonya.”
__ADS_1
Tania kembali menyalami satu persatu tamu undangan yang hadir di acara pelantikannya, namun rupanya di antara banyaknya tamu undangan yang hadir, ada seseorang yang menatap tajam padanya.