
Suara tembakan terjadi ketika Tania dan Ferdian sedang berjalan menuju altar sementara itu tamu undangan yang hadir di acara itu langsung berteriak panik dan histeris ketika suara tembakan pertama terjadi yang disusul oleh tembakan kedua. Ferdian menarik Tania untuk menunduk dan mencari tempat perlindungan, untungnya saja mereka kini dapat bersembunyi di bawah meja untuk menghindari peluru yang mungkin saja akan melukai mereka kalau mereka tidak segera bersembunyi di tempat ini.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja.”
Tidak lama kemudian akhirnya suara tembakan itu berhenti, ketika mendengar suara tembakan berhenti kini Ferdian melihat ke luar untuk memastikan kalau tidak ada lagi teror di hari pernikahannya dan Tania.
“Sudah aman, kita bisa keluar sekarang.”
Tania pun keluar dari tempat persembunyiannya dengan bantuan Ferdian, nampak kursi yang diduduki oleh tamu undangan sudah berhamburan tak karuan karena tamu undangan panik melarikan diri pasca tembakan maut di hari pernikahan mereka.
“Tidak apa, kita tetap akan melangsungkan pernikahan kita saat ini.”
Tania sama sekali tidak menanggapi ucapan Ferdian barusan, kini upacara pernikahan yang harusnya dihadiri oleh banyak tamu undangan itu tidak dihadiri oleh siapa pun, hanya ada Tania, Ferdian dan pemuka agama yang ada di sana untuk melakukan upacara pernikahan.
“Apakah kalian berdua siap?”
“Iya, kami siap,” jawab Ferdian.
“Baiklah kalau kalian sudah siap, maka mari kita mulai upacara pernikahan ini.”
Ferdian dan Tania kini bertatapan satu sama lain dan mereka berdua siap bertukar janji untuk sebuah pernikahan yang sama sekali tidak Tania inginkan, namun ia tidak dapat melakukan apa pun hingga harus merelakan ini semua terjadi padanya. Upacara pernikahan berjalan dengan lancar, kini Ferdian dan Tania resmi menjadi sepasang suami-istri, untuk pertama kalinya Ferdian bisa mencium bibir Tania sebagai seorang suami yang sah. Rupanya aksi Ferdian itu terlihat oleh seseorang yang nampak begitu sedih saat Tania sudah menjadi milik orang lain.
****
Ferdian dan Tania sudah ada di hotel, acara pesta pernikahan yang seharusnya digelar setelah upacara pernikahan akhirnya diundur karena adanya teror di hari pernikahan mereka. Namun walaupun adanya teror di hari pernikahan mereka, Ferdian dan Tania tetap saja menikah, Ferdian sedang ada di dalam kamar mandi sementara Tania duduk di tepian ranjang, ia nampak tidak percaya bahwa saat ini ia dan Ferdian sudah resmi menjadi sepasang suami-istri, setiap kali ia melihat cincin yang melingkar di jarinya membuat hatinya begitu sakit.
“Aku sudah selesai mandi, kamu bisa masuk ke dalam.”
Maka Tania pun segera masuk ke dalam kamar mandi setelah Ferdian sudah selesai mandi, ketika Tania sedang ada di dalam kamar mandi, ponsel wanita itu berdering, Ferdian nampak penasaran siapa orang yang menelpon Tania di malam pertama mereka, rupanya saat ia melihat nama yang tertera di sana ada nama Minanti, Ferdian pun menjawab telepon dari Minanti.
“Halo?”
“Kenapa kamu yang menjawab teleponku?”
“Karena saat ini Tania sedang mandi.”
TUT
Ferdian mengerutkan keningnya heran, kenapa Minanti langsung menutup sambungan teleponnya? Namun pria itu nampak tidak mau terlalu ambil pusing akan hal tersebut. Tidak lama kemudian Tania keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap sementara Ferdian sudah berbaring di kasur menutupi dirinya dengan selimut.
“Siapa yang menelpon?” tanya Tania penasaran.
****
__ADS_1
Tania mengendap-endap keluar dari dalam kamar setelah ia menunggu sampai Ferdian lelap tertidur, kini setelah ia sudah keluar dari dalam kamar, Tania menelpon Minanti balik untuk bertanya kenapa Minanti menelponnya tadi ketika ia berada di kamar mandi.
“Halo Nyonya?”
“Tania, syukurlah kalau kamu yang menelpon saat ini.”
“Ada apa tadi Nyonya menelponku?”
“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Apa itu Nyonya?”
“Ester, dia kabur dari rumah sakit jiwa.”
“APA?!”
“Iya, namun sekarang dia dalam pengejaran, aku takut kalau dia adalah dalang teror di hari pernikahanmu tadi.”
“Entahlah, aku tidak mau terlalu berspekulasi tentang itu.”
“Aku pun juga tidak mau, namun tidak ada salahnya kalau kita waspada mulai dari saat ini, bukan?”
“Iya, Nyonya benar, kita harus waspada mulai dari sekarang apalagi dia tidak diketahui keberadaannya sekarang.”
“Tidak, sama sekali tidak, sejujurnya… aku ingin melarikan diri dari tempat ini.”
“Aku dapat mengerti apa yang kamu rasakan saat ini Tania, namun tolong kamu pikirkan lagi tentang hal yang hendak kamu lakukan, kamu sedang mengandung saat ini.”
Ucapan Minanti itu membuat Tania terdiam, akhirnya mereka pun menyudahi percakapan malam ini. Tania menghela napasnya panjang dan sejujurnya ia ingin kembali ke apartemennya namun hari sudah malam dan terlalu
berisiko kalau ia nekat pulang ke apartemennya malam-malam begini.
****
Ferdian mencari-cari di mana keberadaan Tania saat ini, ketika ia tidak sengaja terbangun dari tidurnya, ia tidak menemukan keberadaan Tania di dalam kamar ini, ia pun mencari ke luar kamar hingga ia menemukan Tania tengah duduk seorang diri di lobi hotel.
“Tania, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Tidak apa-apa.”
“Hari sudah malam, ayo kembali.”
Tania tidak mengatakan apa pun dan menuruti apa yang Ferdian katakan, saat mereka berdua di dalam lift, tidak terjadi percakapan apa pun di antara mereka hingga akhirnya mereka pun tiba di dalam kamar.
“Apakah kamu sedang mencoba melarikan diri?” tanya Ferdian akhirnya.
__ADS_1
“Sejujurnya aku tidak betah ada di sini, aku mau pulang,” jawab Tania.
“Benarkah? Atau justru kamu ingin bertemu dengan Olaf?”
“Ferdian, hentikan bicaramu itu!”
“Kenapa? Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Apakah yang aku katakan tadi benar?”
“Sudahlah hari sudah malam, aku tidak mau berdebat denganmu hanya karena masalah seperti ini.”
Maka kemudian Tania berbaring di kasur dan menutup kedua matanya, Ferdian menghela napasnya panjang dan kemudian ia ikut berbaring di kasur dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
“Selamat malam.”
Namun tidak ada balasan apa pun dari Tania, Ferdian pun memejamkan matanya, ia memeluk tubuh Tania dengan erat dan perlahan ia mulai masuk ke alam mimpi namun tidak dengan Tania yang tidak dapat memejamkan
matanya.
****
Olaf sedang joging di sekitar komplek perumahannya, secara tiba-tiba Stefani menghampirinya dan bergelayut manja di lengannya, tingkah Stefani itu membuat Olaf kesal, ia berusaha melepaskan diri dari wanita itu.
“Lepaskan aku!”
“Kenapa kamu bersikap seperti ini, sih?”
“Bisakah kamu tidak bersikap murahan?”
“Apa katamu?”
“Stefani, sudah aku katakan berulang kali padamu bahwa aku tidak mencintaimu, apakah itu kurang jelas juga?”
“Dan apakah kamu masih mengharapkan Tania? Apakah kamu tidak sadar kalau wanita itu saat ini sudah menikah?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Aku mencintaimu Olaf, aku ingin agar kamu tidak terus menerus mencintai wanita yang sudah menikah, aku tidak mau kamu menjadi perusak rumah tangga orang!”
“Stefani, urusan pribadiku jangan pernah kamu coba untuk mencampurinya karena aku tidak menyukainya, sekarang juga aku akan pergi!”
“Olaf tunggu!”
Namun pria itu bergeming dan tetap saja melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Stefani, wanita itu nampak mengepalkan kedua tangannya geram.
“Cepat atau lambat, aku akan pastikan kamu akan menjadi milikku Olaf.”
__ADS_1