
Jihan tahu apa yang ada di dalam pikiran Ester, wanita itu selamanya tidak akan pernah berhenti untuk mencapai ambisinya menguasai seluruh harta keluarga Pratama, namun Jihan tidak akan membiarkan Ester mencelakai Handi, walaupun ia kecewa dan marah pada Handi yang selalu membela Tania, namun ia tidak akan sampai hati membantu mamanya dalam melakukan misi mengerikan itu.
“Jihan, Mama ingin bicara denganmu.”
“Mama ingin bicara apa lagi denganku? Rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan saat ini.”
“Apakah kamu sudah tahu kalau Tania siuman?”
Jihan menghentikan aktivitasnya saat Ester menanyakan hal itu, apakah saat ini Tania sudah siuman? Ester menyeringai saat melihat raut wajah terkejut Jihan itu, wanita itu kemudian melangkahkan kakinya mendekati Jihan dan mengelus pundak putrinya itu pelan.
“Mama tahu kamu pasti belum tahu soal kabar itu.”
“Memangnya kenapa kalau Tania siuman?”
“Bukankah kamu membenci gadis itu?”
“Iya, aku memang membenci gadis itu.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kita singkirkan saja gadis itu untuk selama-lamanya?”
“Mama lupa bahwa kita pernah mencoba membuat gadis itu pergi selama-lamanya namun kini semuanya berantakan dan tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita buat.”
“Sayang, itu adalah hal yang berbeda.”
****
Handi dan Olaf nampak begitu bersyukur karena saat ini Tania sudah siuman dan gadis itu mengenali mereka semua, tidak hanya Olaf saja namun Minanti dan Bram juga ikut menjenguk Tania setelah Olaf menelpon dan
mengatakan bahwa saat ini Tania sudah siuman dari tidur panjangnya.
“Ya Tuhan terima kasih banyak, akhirnya kamu sudah siuman juga, Nak.”
“Apakah kamu mengenali dia?” tanya Olaf pada Tania.
“Iya tentu saja aku mengenalinya,” jawab Tania lemah.
__ADS_1
Minanti tidak dapat membendung air mata bahagianya, ia memeluk Tania dan mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya karena Tania sudah siuman, Handi merasa senang sekaligus terharu karena Minanti memang menyayangi Tania dengan tulus.
“Kalau begitu aku permisi dulu, ada sesuatu yang harus aku selesaikan,” ujar Olaf.
“Hati-hati di jalan, Nak.”
Olaf pun pergi dari rumah sakit untuk kembali ke kantornya, ketika ia keluar dari rumah sakit itu, ia sempat berpapasan dengan Jihan, namun Olaf memutuskan untuk tidak menyapa gadis itu dan terus saja melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah sakit, Jihan yang melihat tingkah Olaf yang mengacuhkannya tentu saja kesal.
“Awas saja kamu Olaf, aku akan buat kamu tergila-gila padaku,” ujar Jihan sebelum akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruangan inap di mana saat ini Tania tengah mendapatkan perawatan.
****
Handi merasa senang karena Jihan mau menjenguk Tania di tempat ini, Jihan sempat berkenalan dengan kedua orang tua Olaf, respon orang tua Olaf kurang lebih sama seperti putra mereka, kedua orang tua Olaf itu hanya bicara apa adanya pada Jihan dan lebih fokus pada Tania hingga membuat Jihan cemburu, kenapa kedua orang tua Olaf bisa begitu dekat dengan Tania, Jihan pun memutuskan untuk keluar dari ruangan inap itu dan duduk di kursi yang ada di depan ruang inap.
“Jihan?”
Handi menyusul Jihan keluar ruangan inap untuk bicara pada putrinya ini mengenai apa yang saat ini terjadi, Handi berusaha membuat Jihan tidak lagi membenci Tania namun sepertinya Jihan masih saja membenci Tania, apalagi saat ini kedua orang tua Olaf begitu perhatian pada gadis itu.
“Jihan, Papa bicara denganmu.”
“Kenapa Papa tidak di dalam saja dan merayakan hari di mana Tania siuman?”
“Sepertinya aku harus pergi saat ini juga.”
“Kenapa buru-buru begini, Nak?”
“Aku masih ada urusan, namun sebelum pergi, aku ingin memberitahu Papa bahwa sampai kapan pun aku akan mencintai Papa, aku tidak akan Mama melakukan hal yang buruk pada Papa.”
****
Jihan baru saja keluar dari rumah sakit, namun ia merasa bahwa baru saja berpapasan dengan seseorang yang ia duga adalah Ester, wanita itu mengenakan rambut palsu dan kacamata hitam agar tidak dikenali namun Jihan sudah hafal betul bagaimana gaya berjalan Ester tentu dapat langsung mengenali wanita itu, Jihan mengikuti wanita itu sampai ke dalam lift dan kebetulan di dalam lift ini hanya ada mereka berdua saja.
“Apa yang ingin Mama lakukan di sini?”
“Maaf apakah kita pernah mengenal sebelumnya?”
__ADS_1
“Apakah Mama pikir dapat menipuku dengan penampilan seperti ini? Berhentilah bersandiwara karena aku sudah tahu.”
Ester menghela napasnya berat, ia melepaskan kacamata hitamnya dan menatap Jihan yang sama sekali tidak mau menatapnya, Ester mengatakan bahwa ia datang untuk menjenguk Tania saja.
“Mama bilang ingin menjenguk Tania dan kemudian akan melakukan sesuatu yang akan membuat masalah semakin membesar, kemudian siklus seperti itu terus saja berulang hingga membuatku bosan.”
“Nak, Mama melakukan ini demi kamu.”
“Aku memang membenci Tania, dan aku ingin agar dia tidak merebut Olaf dariku, namun aku tahu rencana Mama sebenarnya, Mama ingin membunuh Tania dan Papa bukan?”
“Kamu ini bicara apa, Jihan?”
“Sudahlah Ma, Mama tidak perlu pura-pura tidak tahu apa yang aku bicarakan, aku inggatkan pada Mama bahwa sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan Mama membunuh Papa, ingat itu baik-baik.”
*****
Ester mendatangi ruangan inap Tania ketika Minanti dan Bram sudah pulang dan hanya ada Handi saja di sana, pria itu langsung bersiaga ketika melihat Ester datang ke ruangan inap ini, Tania pun juga nampak terkejut dan bersiaga saat tahu tamunya yang datang saat ini adalah Ester.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Aku hanya ingin menjenguk Tania, apakah itu salah?”
“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan pada Tania, hah?!”
“Sepertinya kamu terlalu berpikiran buruk padaku, Handi, aku sama sekali tidak merencanakan sesuatu hal yang buruk pada Tania.”
“Apakah kamu lupa bahwa yang menyebabkan Tania menjadi seperti ini adalah kamu?”
“Sudahlah Handi, kamu tidak perlu mengungkit soal itu lagi.”
“Kamu pikir aku lupa akan janjiku bahwa akan melaporkanmu pada polisi setelah Tania siuman?”
“Handi, apa-apaan kamu ini?!”
“Kamu salah Ester kalau menganggap aku sudah lupa dan tidak ingat apa yang sudah aku katakan padamu, aku serius akan melaporkanmu pada polisi atas tindakanmu yang sudah mencoba menghilangkan nyawa Tania.”
__ADS_1
“Lakukan saja, apakah kamu pikir polisi akan menangkapku dan memenjarakanku atas laporan darimu? Ingat Handi bahwa kamu sudah tidak memiliki kuasa apa pun lagi, tidak ada seorang pun yang akan mempercayai ucapanmu itu.”
“Bagaimana kalau Tania akan bersaksi? Dia adalah saksi hidup atas tindakan keji yang coba kamu lakukan padanya?”