
Sementara itu Felli dan sang mama datang menjenguk Juan yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri, di dalam ruangan inap itu hanya ada Minanti dan Bram saja yang menjaga Juan karena tadi Olaf dan Tania sudah pergi ke bawah.
“Maaf aku baru sempat datang.”
“Tidak apa, terima kasih karena kalian sudah mau datang ke sini.”
“Aku turut sedih dengan yang terjadi pada Juan, semoga saja dia bisa segera siuman.”
“Terima kasih atas perhatian dan doamu.”
Minanti dan mamanya Felli berbincang mengenai banyak hal sementara itu Felli menatap nanar ke arah Juan yang saat ini masih tak sadarkan diri, jauh di dalam lubuk hatinya, Felli merindukan pria ini.
“Dia pasti akan siuman,” ujar Bram yang seolah tahu
kegelisahan Felli saat ini.
“Iya.”
Akhirnya Felli dan sang mama pun pamit, nampak Felli sekali lagi menatap lama ke arah Juan yang masih belum sadarkan diri.
“Kita semua hanya dapat berdoa semoga saja Juan bisa segera siuman,” ujar Minanti.
*****
Sementara itu saat ini Olaf dan Tania sudah sampai di parkirkan, pria itu memaksa mengantarkan Tania sampai ke mobilnya walaupun tadi Tania sempat protes karena apa yang Olaf lakukan itu ia rasa sangat berlebihan.
“Berlebihan? Apakah kamu tidak suka kalau kekasihmu ini mengantarkanmu sampai ke mobil?”
“Tidak, jangan bersikap berlebihan Olaf.”
“Aku kan hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu apa pun yang tidak diinginkan.”
Ketika Olaf dan Tania sedang mengobrol saat ini, kedua mata Olaf dapat melihat adanya sebuah pergerakan mencurigakan dari seseorang yang berdiri di belakang Tania saat ini dan benar saja tidak lama kemudian
orang itu mengeluarkan sebuah senjata api, Olaf pun segera menarik Tania untuk menunduk agar mereka tidak terkena tembakan senjata api itu.
DOR DOR
Tania tentu saja terkejut dengan apa yang saat ini terjadi, ia tak menyangka bahwa ia akan mengalami teror ketika berada di pelataran parkir rumah sakit, untung saja aksi penembakan itu tidak berlangsung lama karena pelakunya langsung melarikan diri. Dua orang satpam langsung bergegas menghampiri mereka berdua dan bertanya mengenai kondisi mereka saat ini.
__ADS_1
“Apakah kalian berdua baik-baik saja?”
“Kami berdua baik-baik saja.”
“Kalian tenang saja, petugas yang lain sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku.”
*****
Minanti dan Bram yang sedang berada di ruangan inap Juan terkejut ketika mendengar suara letupan senjata api dari bawah, sontak saja mereka berdua menatap ke bawah dari jendela ruangan inap Juan.
“Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi?” tanya Minanti penasaran karena di bawah sana banyak sekali orang berkumpul.
“Aku sendiri tidak tahu, namun kalau didengar dari suaranya sepertinya itu suara tembakan,” jawab Bram.
“Ya Tuhan, semoga Tania dan Olaf tidak kenapa-kenapa,” ujar Minanti khawatir.
Ketika mereka berdua berbalik badan menghadap ke arah tempat tidur Juan, mereka mendapati tangan anak mereka itu bergerak, tentu saja Minanti dan Bram begitu terkejut dan senang, Minanti segera memanggil dokter
agar dokter dapat segera memeriksa bagaimana keadaan Juan saat ini.
“Ya Tuhan, terima kasih karena akhirnya anak kami siuman juga,” ujar Minanti yang bahagia karena doanya dikabulkan oleh Tuhan saat ini.
Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Juan saat ini dan dokter mengatakan bahwa Juan dalam kondisi yang baik, setelah dokter keluar dari ruangan inap kini Minanti dan Bram berjalan menghampiri tempat tidur Juan.
“Kami semua mengkhawatirkanmu, akhirnya kamu bisa siuman juga,” ujar Bram.
*****
Olaf dan Tania masih dimintai keterangan oleh polisi yang datang ke lokasi TKP tempat penembakan terjadi, setelahnya Olaf mendapatkan telepon dari sang mama yang mengatakan bahwa saat ini Juan sudah siuman, tentu saja Olaf bahagia dan memberitahu Tania bahwa saat ini Juan sudah siuman.
“Ya Tuhan, syukurlah kalau begitu.”
“Ayo kita ke sana sekarang.”
Mereka berdua kemudian pergi ke ruangan inap Juan dan memang saat mereka tiba di sana, Juan sudah siuman, Olaf langsung berlari menghampiri tempat tidur Juan dan memeluk tubuh adiknya dengan erat.
“Syukurlah kalau kamu sudah siuman,” ujar Olaf.
“Kamu mengkhawatirkanku?” tanya Juan.
__ADS_1
“Tentu saja aku mengkhawatirkanmu!” seru Olaf kesal.
Juan hanya tertawa senang ketika mendengar respon yang Olaf berikan barusan, sementara itu kini pandangannya beralih pada Tania yang juga ikut datang bersama kakaknya tersebut.
“Akhirnya kamu sudah siuman juga,” ujar Tania.
“Terima kasih karena kamu sudah mau datang,” ujar Juan.
“Sebenarnya tadi Felli dan mamanya juga datang ketika kamu belum siuman,” ujar Minanti.
Mendengar nama Felli seketika raut wajah Juan menjadi berubah, sementara itu Minanti bertanya pada Tania apa yang barusan terjadi di bawah.
“Tadi Mama mendengar suara letupan senjata api, apa yang terjadi di bawah sana?” tanya Minanti.
“Tania nyaris saja ditembak oleh seseorang tak dikenal kalau saja aku tidak menariknya, Ma,” jawab Olaf.
“Apa?!” seru Minanti dan Bram terkejut.
*****
Minanti jadi khawatir dengan keselamatan Tania kalau dia pulang ke apartemennya, Tania hanya tinggal sendirian di sana dan hal tersebut tentu saja membuatnya jadi cemas kalau sesuatu hal yang buruk akan terjadi pada putrinya ini.
“Mama tidak bisa membiarkan kamu pulang sendirian ke apartemen itu, Nak, terlalu berbahaya.”
“Mama tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu apa pun.”
“Bagaimana bisa kamu begitu yakin? Tadi saja kamu hampir ditembak oleh orang tak dikenal andai saja Olaf tidak menyelamatkanmu.”
“Ma, aku tahu kalau Mama khawatir, namun percayalah padaku bahwa semua akan baik-baik saja.”
“Mama tidak bisa mengambil risiko Tania, Mama tidak mau kalau kamu kenapa-kenapa.”
“Aku akan mengantarkan Tania sampai ke apartemennya,” ujar Olaf.
“Tidak perlu, kamu tidak perlu melakukannya Olaf,” ujar Tania menolak niat baik Olaf itu.
“Mama tidak bisa ikut denganmu ke sana, dan Olaf juga tidak boleh menginap di apartemenmu karena kalian belum menikah, pokoknya Mama tidak mau kamu pulang ke apartemen itu,” ujar Minanti.
“Aku punya ide, bagaimana kalau aku akan mengantarkan Tania ke hotel saja, untuk malam ini dia akan tidur di hotel dekat rumah sakit agar kita bisa memantaunya terus,” ujar Olaf memberikan ide.
__ADS_1
“ Ide yang bagus, Nak, tolong kamu ikuti saran dari Olaf ini, ya, Nak, Mama benar-benar khawatir kalau kamu kembali ke apartemenmu maka mungkin saja sesuatu hal yang buruk akan terjadi padamu.”
“Iya Tania, apa yang Mama katakan benar, lebih baik kamu tidur di hotel dekat sini untuk malam ini,” ujar Olaf.