Berkah Cinta

Berkah Cinta
Tak Mau Diganggu


__ADS_3

Ferdian nampak terkejut dan tak percaya dengan yang dikatakan oleh Minanti barusan, Minanti menambahkan bahwa Tania tidak pernah mencintai Ferdian maka lebih baik pria itu pergi meninggalkan Tania dari pada harus menyakiti dirinya sendiri karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.


“Itu saja yang ingin aku katakan padamu.”


“Kenapa Nyonya baru mengatakan itu sekarang?”


“Karena semua sudah diluar kendali, semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang aku dan Tania sudah rencanakan.”


“Namun apakah Nyonya tahu bahwa saat ini Tania sedang mengandung anakku?”


“Aku tahu, namun pernikahan kalian tidak dapat diselenggarakan dengan alasan apa pun, kamu hanya menyakiti dirimu sendiri kalau memaksa menikah dengan Tania.”


“Namun kalau aku mengatakan aku tidak peduli bagaimana?”


“Ferdian, jangan keras kepala!”


“Saya tidak peduli kalau Tania tidak mencintai saya atau apa pun itu, pernikahan itu akan tetap berlangsung.”


“Ferdian jangan keras kepala! Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri!”


“Saya tidak peduli, apa pun risikonya akan saya terima ketika saya memutuskan untuk menikah dengan Tania, dan saya yakin bahwa dia juga akan dapat bahagia jika menikah dengan saya.”


“Bisakah kamu mendengarkan kata-kataku dan tidak keras kepala?!”


****


Tania merasa gelisah saat ini, ia takut kalau Minanti akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada Ferdian, walau bagaimanapun juga Tania tidak sampai hati dan setuju untuk menggunakan cara kekerasan untuk membuat Ferdian menjauh darinya apalagi menggunakan cara kotor seperti yang Ester lakukan untuk mencapai ambisinya. Pagi ini ketika Tania sedang duduk termenung, ia dikejutkan dengan suara bel pintu apartemennya, Tania berjalan


menuju pintu untuk melihat siapa orang yang datang saat ini. Sebelumnya ia sudah melihat siapa yang datang dari monitor yang terpasang di dekat pintu apartemen tersebut dan rupanya orang yang datang saat ini adalah Ferdian, ia pun membukakan pintu untuk pria itu.


“Kenapa kamu datang ke sini dan tidak pergi ke kantor?”


“Karena ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Sesuatu apa? Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan untuk saat ini.”


“Tentu saja ada, kamu tidak mengizinkanku untuk masuk? Atau aku harus bicara di depan pintu seperti ini agar semua orang mencuri dengar apa yang akan aku katakan padamu?”


Tania menghela napasnya panjang, ia kemudian mempersilakan pria ini untuk masuk ke dalam apartemennya, Tania tidak ingin berbasa-basi pada Ferdian, ia mendesak Ferdian untuk segera mengatakan apa yang

__ADS_1


sebenarnya hendak ia bicarakan dengannya.


“Bisakah kita langsung masuk pada intinya saja?”


****


Ferdian tidak langsung mengatakan apa maksud dan tujuan ia datang menemui Tania saat ini dan hal tersebut membuat Tania kesal, Tania kembali mendesak agar Ferdian mengatakan apa sebenarnya yang ingin ia


katakan karena Tania tidak memiliki banyak waktu.


“Aku kemarin bertemu dengan Nyonya Minanti.”


“Lalu?”


“Dia mengatakan sesuatu padaku.”


Perasaan Tania mendadak tidak enak saat mendengar jawaban yang dikatakan oleh Ferdian, apalagi raut wajah pria itu juga mendukungnya seolah ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi tidak lama lagi.


“Dia mengatakan bahwa kamu hanya memperalatku, apakah itu benar?”


Tania tidak langsung menjawab, ia menundukan kepalanya dan kini giliran Ferdian yang memburu Tania dan mendesak agar Tania mengatakan hal yang sejujurnya padanya saat ini.


“Tania, tolong jujur padaku, katakan semuanya, apakah


“Baiklah, kalau memang kamu ingin mengetahui kejujurannya, maka aku akan mengatakan semuanya padamu, apa yang Nyonya Minanti katakan itu memang benar.”


Tania menatap wajah Ferdian untuk melihat bagaiman reaksi pria ini ketika ia mengatakan hal tersebut, namun wajah Ferdian nampak begitu datar, tidak ada emosi apa pun yang tersirat di wajahnya.


“Aku minta maaf karena sudah mempermainkanmu, aku akui bahwa… aku tidak mencintaimu.”


****


Juan tiba di sebuah café untuk menemui seseorang, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan akhirnya ia menemukan orang yang ia cari, ia pun melangkahkan kaki menuju meja di mana orang itu tengah menunggunya.


“Maaf sudah membuat kamu menunggu.”


“Tidak masalah, aku juga baru sampai kok.”


Juan duduk di kursi yang berhadapan dengan orang ini yang tidak lain adalah Stefani, wanita ini tadi menelponnya dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu saat ini. Sudah cukup lama Juan tidak bertemu dengan Stefani, dari kabar terakhir yang ia dengar Stefani tengah ada pemotretan di luar negeri dan sepertinya dia baru saja kembali.

__ADS_1


“Sudah lama kita tidak bertemu.”


“Iya, aku baru saja melakukan pemotretan untuk salah satu brand di New York.”


“Begitu rupanya, lantas kenapa kamu memintaku bertemu di sini?”


“Apakah kita tidak ingin memesan sesuatu dulu sebelum membicarakan inti masalahnya?”


“Baiklah kalau itu maumu.”


Stefani memanggil pelayan datang ke meja mereka, pelayan itu mencatat pesanan mereka berdua dan setelah pelayan tersebut pergi, barulah Juan kembali bertanya mengenai apa maksud dan tujuan Stefani mengajaknya bertemu di café ini.


“Baiklah, sekarang kamu bisa jelaskan apa maksud dan tujuanmu mengajakku datang ke café ini.”


“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”


“Dan biar aku tebak, sepertinya hal ini berkaitan dengan Olaf, bukan?”


****


Olaf berniat untuk pergi ke apartemen Tania terlebih dahulu sebelum ia pulang ke rumah, ia ingin memastikan kalau Tania baik-baik saja, perasaan Olaf mendadak bahagia belakangan ini apalagi setelah moment di mana mereka berdua saling mengutarakan kejujuran perihal perasaan mereka masing-masing. Namun kebahagiaan dan senyum yang terukir di bibir Olaf harus terhenti ketika ia melihat sosok Stefani menunggunya di parkiran, Olaf berusaha


mengacuhkan wanita itu dan bergegas masuk ke dalam mobilnya namun langkah kaki wanita itu semakin cepat hingga sebelum Olaf masuk ke dalam mobilnya, lengannya sudah dipegang oleh Stefani.


“Lepaskan tanganmu.”


“Olaf, apakah kamu tidak merindukanku? Kita tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama.”


“Lepaskan tanganmu, atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari area kantor ini.”


“Kenapa kamu jadi begitu sensi padaku, Olaf?”


“Lepaskan!”


Olaf menghempaskan tangan Stefani dengan kasar dan kemudian ia hendak masuk ke dalam mobilnya, namun lagi-lagi Stefani kembali mencekal lengan Olaf agar pria itu tidak masuk ke dalam mobilnya.


“Tunggu dulu, aku masih ingin berbincang denganmu.”


“Stefani, jangan sampai aku habis kesabaran, lebih baik selagi aku masih berbaik hati, pergi dari tempat ini atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar!”

__ADS_1


“Kamu mau pergi ke mana? Kamu bisa mengantarku pulang terlebih dahulu?”


“Tidak, aku tidak akan mau mengantarkanmu pulang, aku sedang sibuk, permisi.”


__ADS_2