Berkah Cinta

Berkah Cinta
Anakku yang Malang


__ADS_3

Minanti dan Ricky menatap ke arah pintu yang barusan terbuka, nampak Felli berdiri di sana, ia kemudian berjalan menghampiri tempat tidur Ricky seolah ingin memastikan bahwa Ricky tidak kenapa-kenapa.


“Kenapa Mama datang ke sini?”


“Mama hanya ingin menanyakan sesuatu pada dia, dan dia pun sudah menjawab pertanyaan Mama.”


“Apa yang Mama tanyakan padanya?”


“Kalau soal itu, kamu bisa tanyakan sendiri pada pemuda ini, dan Felli kalau memang kamu menyukai pemuda ini dan kamu yakin dia adalah orang yang dapat mengisi hatimu, maka lakukan apa pun yang menurutmu baik, ikutilah kata hatimu.”


“Kenapa Mama mengatakan itu?”


“Aku masih ada urusan, aku permisi dulu.”


Minanti melangkahkan kakinya keluar dari ruangan inap Ricky sementara itu kini Felli bertanya pada Ricky sebenarnya apa yang barusan Minanti dan Ricky bicarakan selama ia tidak ada.


“Dia bertanya apakah aku menyukaimu atau tidak, dan aku menjawab yang sejujurnya.”


*****


Minanti tiba di rumah dan disambut oleh Bram yang sudah menunggunya sejak tadi, pria itu nampak penasaran bagaimana pembicaraan Minanti dengan Ricky. Kini mereka berdua sudah duduk di sofa ruang tengah dan


membicarakan nasib hubungan Felli dan Juan ke depannya.


“Bagaimana Minanti?”


“Dia memang menyukai Felli.”


“Ya Tuhan, aku tidak menyangka kalau jadi seperti ini, lalu bagaimana dengan Felli? Apakah dia juga mengakui bahwa dia menyukai pemuda itu?”


“Dia tidak mengatakan apa pun, namun kalau memang pemuda itu dapat membuatnya bahagia maka kita bisa apa?”


“Jadi kamu ingin agar Felli dan Juan berpisah?”


“Kalau memang sudah tidak ada kecocokan di antara mereka, maka untuk apa mereka masih berada dalam satu hubungan suami-istri, bukankah itu hanya akan menyiksa diri?”

__ADS_1


Bram menghela napasnya, apa yang dikatakan oleh Minanti memang benar, mungkin saja Felli bisa bahagia dengan orang lain selain dengan Juan, namun kalau Juan jadi dengan Stefani maka Bram agak keberatan


tentang hal tersebut.


“Sejujurnya kalau Juan dan Felli kelak akan berpisah, maka aku tidak akan mempermasalahkannya, namun kalau Juan sampai menikah dengan Stefani maka aku agak keberatan dengan keputusannya itu.”


“Aku pun demikian, aku sangat keberatan dengan keputusan Juan yang ingin menikah dengan Stefani, namun anak yang dikandung Stefani adalah anaknya Juan.”


“Bagaimana kalau wanita itu berdusta?”


“Kita akan tahu nanti apakah Stefani berdusta atau tidak.”


*****


Juan diminta datang ke rumah pada malam ini, awalnya ia menolak dan mengatakan bahwa ia sibuk namun kemudian Minanti mengatakan bahwa mereka tidak akan memaksa Juan untuk pulang asalkan dia mau menemui


mereka nanti malam. Maka dengan dikawal oleh Olaf dari kantor kini Juan sudah sampai di rumah yang sudah dua minggu ini ia tinggalkan.


“Masuklah, ini rumahmu juga,” ujar Olaf.


“Sejujurnya aku tidak nyaman kamu perlakukan begini, aku merasa seperti tahanan yang akan digiring ke ruang sidang,” ujar Juan.


Maka kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam rumah, di ruang tengah nampak Bram dan Minanti sudah menunggu kedatangan Juan, ketika anak mereka itu sudah tiba, Minanti mempersilakan Juan untuk duduk di sofa yang tidak jauh darinya.


“Jadi kenapa kalian memintaku datang ke sini?” tanya Juan yang nampaknya tidak mau berbasa-basi dengan kedua orang tuanya.


“Kami mengundangmu ke sini untuk meminta jawaban darimu,” jawab Minanti.


“Apakah kalian ingin aku menjawab apakah aku akan meninggalkan Stefani atau tidak, maka jawabanku tidak, aku tidak akan meninggalkan wanita itu karena saat ini Stefani mengandung anakku.”


“Bukan masalah itu, ini masalah tentang Felli,” ujar Bram.


“Ada apa lagi? Apakah kalian ingin aku membujuknya kembali ke sini? Keputusanku sudah bulat, aku ingin kami berpisah,” ujar Juan.


“Apakah kamu yakin tidak akan menyesali keputusanmu berpisah dengan Felli?” tanya Minanti.

__ADS_1


“Aku tidak akan menyesalinya, Ma.”


*****


Sidang perdana Ferdian sebagai terdakwa kasus suap proyek infrastruktur di daerah digelar pada hari ini, untuk pertama kalinya Ferdian duduk di kursi pesakitan dengan kemeja putih dan celana bahan hitam dengan rompi tahanan, ia menjawab semua pertanyaan dari majelis hakim yang menanyakan dirinya seputar kasus yang membelitnya saat ini. Rupanya Tania ikut hadir dalam sidang tersebut, Maya sebenarnya tidak meminta untuk hadir namun Tania memutuskan untuk hadir karena ia penasaran apa sangkalan dari Ferdian atas pertanyaan dari majelis hakim. Sidang pun akhirnya selesai dan Ferdian bersiap dibawa kembali ke penjara, Maya berusaha menghampiri anaknya namun petugas dari penjara menghalanginya.


“Tolong, saya hanya ingin berbicara dengan putra saya sebentar saja.”


“Maaf tidak bisa.”


Ferdian nampak begitu pasrah ketika ia dibawa masuk ke dalam mobil tahanan yang akan membawanya kembali ke penjara, sebelum ia masuk ke dalam mobil penjara, ia sempat menatap sosok Tania yang berdiri di depan


pintu pengadilan dan Ferdian mengulas senyum pada wanita yang sudah resmi bercerai dengannya itu sebelum ia masuk ke dalam mobil tahanan.


“Tidak Ferdian, anakku!” seru Maya yang jatuh di aspal setelah ia mencoba mengejar mobil tahanan Ferdian yang melaju meninggalkan pengadilan.


*****


Stefani nampak terkejut ketika Juan mengatakan bahwa kedua orang tuanya menyetujui agar Juan dan Felli berpisah, ia benar-benar tak menyangka bahwa hal yang ia anggap akan sulit dilalui itu justru dapat dilalui


dengan mudah. Juan sendiri pun juga nampak heran namun juga bahagia karena dengan begitu ia bisa langsung melakukan gugatan cerai pada Felli tanpa harus melalui drama berkepanjangan dengan keluarganya.


“Ini aneh sekali.”


“Sudahlah, anggap saja ini adalah jalan dari Tuhan agar anak kita ketika ia lahir dapat memiliki keluarga yang legal di mata hukum.”


Stefani hanya tersenyum menanggapi ucapan Juan barusan, namun sejujurnya ia bahagia sekali saat ini karena langkahnya untuk masuk ke dalam keluarga itu akan semakin dekat dan rencananya akan berjalan dengan mulus.


“Sayangnya aku harus pergi bekerja saat ini, nanti malam aku akan datang lagi ke sini.”


“Baiklah, hati-hati di jalan.”


Juan sempat mengecup kening Stefani sebelum ia pergi bekerja dan meninggalkan wanita itu sendirian di dalam kamar apartemennya, Stefani kini nampak mengulas seringai jahat, ia sudah tidak sabar sampai semua rencananya terlaksana namun ia mendengar suara bel dari pintu kamar apartemennya.


“Siapa yang datang, ya?”

__ADS_1


Stefani dengan penasaran melangkahkan kakinya menuju pintu apartemennya untuk melihat siapa orang yang datang saat ini, ia melihat ke arah monitor yang ada di dekat pintu yang mana benda itu terhubung dengan


kamera CCTV yang ada di depan pintu, ia begitu terkejut ketika melihat siapa orang yang datang saat ini.


__ADS_2