Berkah Cinta

Berkah Cinta
Curiga Hal Lain


__ADS_3

Sementara itu keesokan harinya Felli mengajak Ricky bertemu karena saat ini Ricky belum bekerja kembali di café hingga akhirnya pemuda itu dapat menyanggupi permintaan Felli untuk bertemu saat ini.


“Maaf sudah membuat kamu menunggu,” ujar Felli yang baru tiba di sebuah taman.


“Tidak, aku juga baru saja sampai,” ujar Ricky.


“Bagaimana keadaanmu saat ini?” tanya Felli yang kemudian duduk di samping Ricky.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab pemuda itu.


“Syukurlah, sepertinya kamu sudah lebih baik.”


Ricky nampak diam seolah tengah memikirkan sesuatu, Felli yang penasaran pun akhirnya bertanya pada Ricky mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu.


“Ricky, aku tahu bahwa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”


“Apa?”


“Katakan saja, kamu tak perlu sungkan padaku.”


Meskipun pada awalnya ia nampak ragu untuk bercerita pada Felli, akhirnya Ricky pun bercerita apa yang terjadi padanya semalam.


“Semalam suamimu mendatangiku.”


“Apa? Lalu apa yang dia katakan padamu?”


“Dia mengatakan tidak terima kalau ia dilaporkan ke polisi dan dia akan membalas perbuatanku.”


“Kamu tak perlu khawatir soal itu, aku akan pastikan dia tidak akan berbuat jahat padamu.”


*****


Minanti dan yang lainnya merasa lega karena Juan tidak ditahan oleh polisi setelah melalui proses pemeriksaan yang panjang, Juan tidak banyak berbicara dan ia hanya menghabiskan sedikit sarapannya sebelum pergi ke


kantor.


“Tumben sekali dia makan sedikit dan langsung pergi ke kantor.”


“Dia pasti sudah kehilangan selera makannya apalagi Felli pergi sejak tadi.”


“Ke mana perginya wanita itu, ya?”


Olaf yang telah selesai sarapan berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat bekerja.


“Hati-hati di jalan.”


“Tentu saja, aku pergi dulu.”


Selepas kedua anak mereka pergi, kini hanya ada Minanti dan Bram saja di meja makan ini, Minanti merasa tidak nyaman dengan kehadiran Bram ini, apalagi pria itu sudah mengetahui masa lalunya dengan Bima.

__ADS_1


“Apakah sampai saat ini kamu masih mencintai Bima?”


“Bicara apa kamu ini?”


“Sudahlah Minanti, kamu tak perlu pura-pura tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan.”


“Bram, sepertinya obrolan ini cukup sampai di sini.”


“Aku hanya bertanya apakah kamu masih mencintai Bima atau tidak, namun kenapa kamu malah menghindar? Jangan-jangan kamu memang masih mencintai Bima, ya?” tuduh Bram.


“Bram, tolong hentikan, aku sudah melupakan Bima sejak dia menikah dengan Hanum, jadi tolong jangan terus menerus mengungkit masa lalu itu.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Minanti segera pergi dari meja makan meninggalkan suaminya yang menatap kepergiannya.


*****


Sementara itu Tania sudah duduk di belakang meja kerjanya, ia berusaha fokus dengan pekerjaan yang sudah menunggunya saat ini, namun bayang-bayang ucapan Bram kala itu mengenai masa lalu Minanti dan mendiang papanya membuat Tania jadi tidak fokus dalam bekerja.


“Ya Tuhan, aku jadi tidak bisa fokus dalam bekerja.”


Tania pun kemudian meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja tidak jauh dari jangkauannya, ia mencari kontak seseorang di ponselnya, namun sejujurnya ia ragu apakah ia harus menelpon kontak tersebut atau tidak.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?”


Tania nampak maju mundur untuk menelpon orang tersebut, namun pada akhirnya Tania memutuskan untuk menelpon orang tersebut dan tidak lama kemudian orang tersebut pun menjawab panggilan darinya.


“Apakah saya mengganggu anda?”


“Sama sekali tidak, ada apa Tania?”


“Kalau boleh, nanti siang bagaimana kalau kita bertemu?”


“Tentu saja, berikan saja alamatnya, aku akan datang ke sana.”


“Baiklah, aku akan segera mengirimkan alamatnya.”


TUT


Tania pun kemudian mengirimkan sebuah alamat pada orang tersebut melalui pesan singkat, Tania kemudian menghela napasnya berat dan berusaha memfokuskan kembali dirinya untuk bekerja saat ini.


“Ayo fokus Tania.”


****


Saat ini Minanti sudah menunggu seseorang di sebuah restoran, mereka sebelumnya sudah janjian untuk bertemu saat ini dan akhirnya orang yang sejak tadi ia tunggu datang juga.


“Maaf aku terlambat.”


“Tidak masalah, aku juga baru saja sampai.”

__ADS_1


“Apakah anda sudah memesan sesuatu?”


“Belum, aku sengaja belum memesan agar kita bisa memesan bersama.”


Orang yang tidak lain adalah Tania itu memanggil pelayan datang ke meja mereka, pelayan itu memberikan keduanya buku menu, Tania dan Minanti kemudian menyebutkan pesanan mereka dan si pelayan mencatat pesanan mereka dengan baik. Akhirnya setelah pelayan itu pergi, Minanti pun bertanya pada Tania mengenai apa maksud dan tujuan Tania memintanya untuk bertemu di restoran ini.


“Jadi Tania, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”


“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah membuat anda datang ke sini dan menemui saya.”


“Kamu ini bicara apa? Sudah aku katakan bahwa jangan terlalu formal padaku, Tania.”


“Sebenarnya alasan kenapa aku meminta anda datang ke sini karena… ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”


“Apakah ini menyangkut tentang hubunganku dan papamu di masa lalu?”


“Iya.”


“Jadi apa yang ingin kamu tanyakan Tania?”


“Sebenarnya … aku ingin bertanya apa alasan anda kenapa anda tidak mengatakan yang sejujurnya pada saya sejak awal bahwa anda mengenal mendiang papa saya?”


“Aku ….”


*****


Saat ini Bram sedang berada di rumah sakit dan ia sudah menggenggam sebuah amplop, Bram duduk di sebuah kursi yang ada di koridor rumah sakit seraya menatap amplop yang ada di tangannya, ia sengaja mengambil


sampel rambut milik Minanti dan Tania secara diam-diam untuk ia lakukan tes DNA. Karena laporan dari orang suruhannya yang mengatakan bahwa Minanti dulu sangat jatuh cinta pada Bima membuat Bram jadi harus melakukan ini, ia ingin memastikan apakah Tania itu adalah darah daging Minanti dan Bima atau bukan.


“Aku harap dugaanku ini salah.”


Bram dengan perlahan meraih amplop itu dan membukanya, ia mengeluarkan sebuah surat dari dalam amplop yang masih tersegel itu dan perlahan ia membaca apa isi hasil tes DNA tersebut hingga akhirnya ia pun


sampai pada bagian akhir surat hasil tes DNA itu. Seketika wajah Bram mendadak pucat, ia begitu tidak bersemangat ketika melihat hasil akhir tes DNA antara Minanti dan Tania.


“Apa ini? Bagaimana mungkin?”


Bram kembali membaca surat itu dan berharap bahwa ini semua hanya halusinasinya belaka, namun nyatanya isi surat tersebut, tidaklah berubah dan tetap saja sama yang mana 99,9% dinyatakan cocok.


“Minanti, bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?”


Bram pun segera kembali memasukan hasil tes DNA tersebut ke dalam amplop dan kini ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang saat ini.


“Ini aku, kamu ada di mana sekarang?”


“Maaf, namun ada apa Tuan bertanya seperti itu?”


“Katakan saja kamu ada di mana sekarang!”

__ADS_1


__ADS_2