Berkah Cinta

Berkah Cinta
Ketika Rasa Curiga Datang


__ADS_3

Olaf tidak mengatakan apa pun sampai beberapa detik dan hal tersebut membuat Tania kebingungan, sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh pria ini sampai-sampai ia harus memanggilnya.


“Tuan? Apakah anda baik-baik saja?”


“Apa? Oh, iya maaf...sebenarnya aku ingin bertanya kenapa dokumen ini ada padamu?”


“Bukankah sudah saya jelaskan tadi?”


“Oh iya, benar juga, sepertinya aku kurang fokus ketika mendengar penjelasanmu, ya?”


“Kalau memang sudah tidak ada lagi yang ingin Tuan bicarakan, maka saya pamit dulu.”


“Tunggu dulu Tania.”


“Iya Tuan, ada apa lagi?”


“Bisakah kamu tidak bicara formal padaku?”


“Maaf?”


“Aku memintamu untuk tidak bicara formal padaku, bicaralah padaku layaknya kita adalah teman, apakah kamu bisa melakukan itu?”


“Namun bukankah hal tersebut tidak sopan?”


“Kamu tidak perlu memikirkan apakah hal itu sopan atau tidak, pokoknya turuti saja apa yang aku inginkan, apakah kamu dapat mengerti apa yang aku katakan?”


“Baiklah.”


“Bagus, kalau begitu kamu boleh pergi sekarang juga.”


“Saya permisi dulu.”


Tania buru-buru pergi dari ruangan kerja Olaf, sementara sepeninggal Tania, Olaf menghembuskan napasnya berat, ia heran dengan dirinya sendiri, kenapa bisa-bisanya ia mengatakan hal itu pada Tania?


“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”


*****


Tania berpapasan dengan Juan dan seorang wanita yang sedang mengobrol bersamanya, Juan nampak terkejut ketika mereka berpapasan, ia menahan Tania dan menanyakan apa yang dilakukan oleh Tania di kantor ini.


“Saya ke sini karena mengantarkan dokumen penting yang tertinggal di rumah pada Tuan Olaf.”


“Begitu rupanya.”


“Siapa dia?” tanya wanita itu pada Juan.

__ADS_1


“Oh, ini Tania, dia adalah asisten rumah tangga baru kami.”


“Begitu rupanya,” ujar wanita itu dengan menatap Tania sinis dari atas hingga bawah.


“Kalau begitu saya permisi dulu.”


Setelah Tania pergi, kini Juan dan wanita ini pergi menemui Olaf yang ada di dalam ruangan kerjanya, Olaf nampak terkejut ketika menemukan Juan datang bersama dengan wanita ini di ruangan kerjanya.


“Juan, apa yang kamu lakukan di sini?”


“Maaf kalau aku tidak memberitahumu terlebih dahulu, namun lihatlah siapa yang aku bawa ke sini.”


“Aku merindukanmu,” ujar wanita itu langsung memeluk Olaf.


“Tunggu dulu, bagaimana ini semua dapat terjadi?” tanya Olaf yang mendorong tubuh wanita ini agak menjauh darinya.


“Stefani baru saja tiba dari New York dan dia sangat ingin sekali bertemu denganmu, mana mungkin aku menolaknya bukan?”


“Apa yang dikatakan oleh adikmu benar, aku merindukanmu dan setelah aku tiba di Indonesia maka aku langsung menghampirimu ke sini.”


*****


Stefani adalah seorang model internasional yang sudah memulai karier di bidang modeling sejak ia masih belia, semenjak ia menginjak remaja keluarganya membawanya pergi ke Inggris untuk keperluan pendidikan modelnya dan setelah ia tumbuh dewasa kini ia memulai kariernya sebagai model internasional di Amerika. Kedekatan keluarga Olaf dan Stefani sudah berlangsung lama, bahkan kakek dan nenek mereka pun adalah sahabat dekat, Olaf sempat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Stefani namun Olaf menolak dan kala itu Stefani juga tidak keberatan karena ia saat itu juga sedang mengejar ambisinya menjadi seorang model internasional.


“Kenapa kamu kembali ke sini?” tanya Olaf saat mereka sedang makan siang bersama.


“Benarkah? Namun aku tidak merindukanmu,” ujar Olaf cuek.


“Kamu ini kenapa sih terlalu serius begitu?”


“Kamu tahu sendiri bahwa aku ini orang yang tidak bisa diajak bercanda.”


“Ayolah jangan terlalu kaku begitu, memangnya tidak ada gadis yang memikat hatimu selama ini, hm?”


“Sejauh ini belum ada, memangnya kenapa?”


“Oh benarkah? Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan barusan.”


“Terserah kamu saja, aku hanya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, ngomong-ngomong kamu akan ada di Indonesia berapa lama?”


“Pertanyaan bagus, aku sendiri juga tidak tahu kapan akan kembali ke New York, aku masih rindu dengan Indonesia dan aku tidak mau buru-buru kembali ke Amerika.”


*****


Ester merasa bahagia karena Jihan dan Ferdian sudah kembali akur, Ferdian mengatakan bahwa keluarganya mengundang Ester dan Handi untuk ikut makan malam bersama kedua orang tuanya pada akhir pekan ini. Ester

__ADS_1


tentu saja mengiayakan tawaran makan malam dari keluarga calon besannya itu, lagi pula ini adalah kesempatan yang bagus untuk Ester berbicara pada keluarga calon besannya mengenai acara pertunangan antara Jihan dan Ferdian.


“Tentu saja sayang, Tante dan Om akan datang ke sana.”


Jihan nampak melotot tak percaya dengan apa yang barusan Ester katakan, bagaimana mungkin Ester dapat mengatakan hal itu padahal saat ini hubungannya sendiri dengan Handi sedang tidak baik.


“Baiklah, mungkin hanya itu saja, aku pamit dulu, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”


“Terima kasih banyak atas kunjunganmu ya, salam untuk kedua orang tuamu.”


“Tentu saja Tante, aku permisi dulu.”


“Hati-hati di jalan, Nak.”


Ester dan Jihan mengantarkan Ferdian sampai ke mobil, mereka berdua nampak melambaikan tangan pada Ferdian yang sudah pergi dengan mobilnya dan kini mobilnya sudah menghilang di balik pagar rumah, setelah


kepergian Ferdian kini Jihan berbicara dengan Ester bagaimana bisa sang mama begitu percaya diri bahwa Handi akan mau makan malam bersama mereka.


“Bagaimana mungkin Mama berani mengatakan itu? Bagaimana kalau papa menolak untuk datang ke acara makan malam itu?”


“Sudahlah sayang, kamu tiak perlu khawatir akan hal itu, Mama tahu apa yang harus Mama lakukan.”


*****


Rupanya Stefani ikut bersama dengan Olaf ke rumah keluarganya, nampak semua anggota keluarganya menyambut kedatangan Stefani dengan antusias, Minanti bahkan terlihat begitu sangat akrab dengan Stefani dan


wanita itu juga nampak tidak sungkan dengan Minanti, rupanya diam-diam Tania mengintip dari dapur dengan keakraban anggota keluarga ini pada Stefani.


“Kamu melihat apa, sih?”


“Oh bukan apa-apa.”


“Sudahlah kamu tidak perlu berbohong, kamu pasti penasaran ya siapa orang itu?”


“Sejujurnya sih iya.”


“Dia adalah Nona Stefani, dia memang dekat sekali dengan keluarga ini, sudah Tuan dan Nyonya anggap seperti anak perempuan mereka karena kedua anak mereka kan laki-laki.”


“Oh begitu, pantas saja dia sangat tidak canggung dengan semua anggota keluarga.”


Namun ada sebuah pemandangan yang langka di mata Tania yaitu jika selama ini Olaf nampak tidak dapat tertawa lepas saat ini pria itu tertawa lepas bersama dengan Stefani dan keluarganya, sebuah moment yang sangat langka.


“Pasti Tuan Olaf dekat sekali dengan gadis itu, ya?”


“Kamu bilang apa barusan?”

__ADS_1


“Apa? Oh bukan apa-apa.”


Tania buru-buru pergi dari dapur dan merutuki apa yang barusan ia katakan, kini pasti asisten rumah tangga itu jadi salah paham dengan apa yang barusan ia katakan.


__ADS_2