Berkah Cinta

Berkah Cinta
Ambisi Itu Masih Ada


__ADS_3

Handi belum menjawab permintaan dari Tania barusan, ia masih nampak berpikir sebelum menjawab permintaan yang Tania ajukan barusan, Tania nampak begitu memohon pada Handi agar Om-nya itu mau membantunya dan


setelah melalui pemikiran yang masak, akhirnya Handi pun telah memiliki jawaban atas permintaan Tania barusan.


“Baiklah Tania, Om sudah memiliki jawabannya.”


“Benarkah? Om yakin? Kalau begitu apakah Om akan bersedia untuk membantuku?”


“Iya Tania, Om bersedia.”


Tania nampak begitu bahagia ketika Handi akhirnya mau membantunya untuk mengungkapkan semua hal buruk yang telah Ester lakukan pada kedua orang tuanya di masa lalu.


“Terima kasih banyak Om, aku sangat berterima kasih karena Om sudah mau membantuku mengungkapkan semua ini walaupun aku yakin bahwa hal ini memang bukanlah hal yang mudah untuk Om lakukan.”


Tania memeluk tubuh Handi saat ini, pria itu pun nampak membalas pelukan Tania, apa yang Tania katakan itu memang benar, memanglah tidak mudah baginya untuk melakukan semua ini, namun karena sebuah janji dan utang yang harus ia lunasi pada mendiang kakaknya maka Handi pun akhirnya bersedia membantu Tania.


“Terima kasih banyak Om,” ujar Tania ketika ia melerai pelukan mereka.


“Tidak masalah, Nak,” ujar Handi.


****


Minanti nampak tersenyum ketika mendapatkan telepon dari Tania saat ini, akhirnya Handi mau juga diajak bekerja sama untuk membongkar kejahatan Ester yang selama ini wanita itu tutupi, Juan yang kebetulan melintas di dekat ruang tamu nampak penasaran kenapa Minanti senyum-senyum sendiri, ia pun menghampiri sang mama karena khawatir pada Minanti.


“Ma, apakah Mama baik-baik saja?”


“Apa? Oh tentu saja, Nak, Mama baik-baik saja,” ujar Minanti.


“Lantas kenapa tadi Mama senyum-senyum sendiri?”


“Apa maksudmu ini, Nak?”


“Tadi aku tidak sengaja melintas dan kemudian melihat Mama sedang tertawa-tawa sendiri.”


“Benarkah? Sepertinya kamu salah lihat, Nak.”


“Apa maksud Mama? Aku yakin bahwa yang tadi itu memang bukanlah sebuah halusinasi.”

__ADS_1


“Sudahlah Juan, kamu pasti lelah karena seharian ini bekerja di kantor, lebih baik saat ini kamu istirahat, ya?”


“Baiklah, selamat malam, Ma.”


“Selamat malam, sayang.”


Maka Juan pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya, selepas Juan menghilang dari pandangannya, Minanti nampak menghela napasnya panjang, tentu saja ia tidak memberitahu siapa pun di rumah ini mengenai rencana yang ia dan Tania susun sedemikian rupa. Minanti pun melangkahkan kakinya menuju kamar, di dalam kamar nampak sang suami sudah tertidur di atas ranjang, Minanti perlahan mendekati ranjang dan menatap sang suami yang sudah terlelap tidur.


****


Ferdian datang mengunjungi Tania saat ini untuk mengajak wanita itu makan siang bersama, Tania tidak menolak sama sekali ajakan Ferdian barusan dan kini mereka sudah ada di sebuah restoran yang Ferdian pilihkan untuk mereka. Setelah memesan makanan kini mereka berdua sedang mengobrol ringan sambil menunggu makan siang mereka tiba di meja.


“Ferdian.”


“Ada apa Tania?”


“Saat ini Jihan sudah siuman, kapan kira-kira sidang perceraian kalian akan digelar?”


“Kenapa kamu menanyakan itu? Apakah kamu sudah tidak sabar menjadi istriku?”


“Sejujurnya…. aku tidak mau kalau kamu masih memiliki kaitan dengan wanita itu.”


“Aku menunggu hari baik itu tiba.”


“Tentu saja Tania, hari itu akan segera tiba, kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi saja.”


Tania tersenyum dan bertepatan dengan hidangan makan siang mereka tiba di meja, kini Tania dan Ferdian sibuk menyantap hidangan makan siang mereka, setelah makan siang selesai, Ferdian nampak tidak mau langsung mengajak Tania pulang, ia membawa Tania ke sebuah mall dan mengatakan bahwa ia ingin membelikan sesuatu untuk Tania.


“Ferdian, aku mohon jangan berlebihan begini.”


“Berlebihan bagaimana Tania? Aku membelikan sesuatu untuk wanita yang aku cintai.”


****


Sementara itu di sisi yang lain, Handi sudah datang ke acar jumpa pers yang akan digelar tidak lama lagi, Handi nampak begitu gugup nanti saat dia akan memberitahu apa yang sudah Ester lakukan pada awak media,


namun Handi meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan ini demi kebaikan mereka bersama.

__ADS_1


“Om Handi.”


Handi nampak melihat Tania baru saja datang dan menghampirinya, wanita itu berusaha menenangkan Handi yang nampak tegang sekali dari raut wajahnya, Tania mengatakan pada Handi untuk lebih rileks saja di depan wartawan nanti.


“Om sudah berusaha mencoba rileks Tania, namun seperti yang kamu lihat saat ini, entah kenapa Om begitu tegang sekali.”


“Aku dapat mengerti kalau saat ini Om sedang tegang, namun aku yakin kalau Om pasti bisa melalui semua ini.”


“Tania, terima kasih karena sudah menyemangati Om.”


“Tidak masalah.”


Maka kemudian akhirnya waktu yang dinanti pun tiba, Handi perlahan menuju podium di mana sudah ada kursi yang khusus untuk di dudukinya, sementara ada kursi lain untuk pengacara dan juga Tania yang akan memberikan keterangan pada awak media. Ketika Handi, Tania dan pengacara mereka naik ke podium nampak para awak media langsung mengarahkan kamera mereka pada ketiga orang itu, di kursi paling depan nampak Minanti dan Ferdian duduk bersebelahan, Tania memberikan senyum pada mereka sebelum wanita itu duduk di


kusi yang sudah disediakan.


*****


Ester yang saat ini tengah menemani Jihan di rumah sakit sedang menonton televisi, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat acara konfrensi pers yang dilakukan oleh Handi dan Tania di televisi.


“Apa yang mereka berdua lakukan di sana?”


“Mama juga tidak tahu sayang.”


Pada akhirnya konfrensi pers pun berjalan, Handi nampak begitu gugup ketika sorot kamera wartawan mengarah padanya, namun Tania yang duduk di sebelahnya berusaha menengkan Handi yang tegang itu, senyum Tania


dan kekuatan tekadnya demi membalas jasa sang kakak membuat Handi bisa kembali menguasai dirinya, perlahan ia meraih mikrofon dan mengucapkan sepatah kalimat pada para wartawan yang sudah bersedia hadir di acara konfrensi pers ini.


“Saya mengucapkan terima kasih atas teman-teman media yang sudah mau hadir di acara ini, saya sangat menghargai kalian semua, baiklah saya tidak ingin membuang waktu lagi dan saya ingin memberikan sebuah


keterangan yang sangat penting pada kalian semua, dan hal ini menyangkut meninggalnya mendiang kakak saya.”


Ester dan Jihan nampak terkejut ketika mendengar ucapan Handi barusan, Ester sudah tahu apa yang akan Handi lakukan, dan tentu saja ia tidak akan membiarkan semua itu terjadi.


“Apakah papa akan membuka rahasia Mama saat in?”


“Dia tidak akan dapat melakukan itu, Mama akan buat dia tidak akan bicara apa pun pada media saat ini.”

__ADS_1


“Apakah Mama berniat untuk membunuh papa?!”


“Itu bukan urusanmu, Jihan.”


__ADS_2