
Kabar yang mengatakan bahwa salah satu oknum Kejaksaan ikut bermain serta dalam kasus suap menyuap menjadi tajuk salah satu media online dan tentu saja setelahnya banyak media elektronik dan online yang ikut memberitakan hal tersebut. Kejaksaan yang terus menerus mendapatkan sorotan dari publik akhirnya buka suara dan menyebutkan bahwa mereka sudah mendapatkan seorang tersangka yang menerima suap dari Ferdian.
“Mereka benar-benar membuatku kesal.”
Ferdian sudah mencoba berbagai cara untuk membungkam media agar mereka tidak meliput berita tentang suap menyuap itu, namun yang mengherankan media seolah tidak takut dan terus menerus menyerangnya.
“Pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini.”
Ferdian kemudian mendapatkan sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal, namun ia tetap menjawab panggilan tersebut.
“Bagaimana? Apakah kamu sudah mengetahui siapa yang membuat para wartawan masih berani memberitakan ini semua?”
“Dari penyelidikan yang saya lakukan, sepertinya ada orang berkuasa yang melindungi para wartawan hingga mereka tidak menghiraukan ancaman anda.”
“Katakan siapa orang itu.”
“Untuk itu, kami masih menyelidikinya.”
“Kalau begitu selidiki, cari tahu siapa nama orang itu agar aku dapat menghancurkannya!”
****
Tania nampak tersenyum menatap laptopnya, saat ini ia tengah membaca berita yang menjadikan kasus suap menyuap Ferdian sebagai tajuk utama mereka, sebenarnya Tania bukan dalang di balik maraknya pemberitaan suap menyuap ini namun ia sangat berterima kasih pada siapa pun orang yang sudah membuat berita ini karena dengan adanya berita seperti ini saham perusahaan Ferdian terjun bebas dan membuat para investor akan lari dari sana.
“Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini, namun aku senang melihatmu hancur Ferdian.”
Tania melirik ke arah ponselnya yang berdering, ia melihat ada sebuah nama yang tertera di layar ponselnya saat ini, untuk beberapa saat Tania tidak menghiraukan panggilan tersebut namun pada akhirnya Tania pun menjawab panggilan tersebut.
“Halo?”
“Kamu ada di mana?”
“Ada di kantor.”
“Apakah kita dapat bertemu sekarang?”
“Maaf, namun saat ini saya tidak bisa pergi karena ada rapat penting.”
“Kalau begitu bagaimana nanti malam?”
“Nanti malam? Memangnya ada apa anda mau bertemu saya nanti malam?”
“Aku mohon Tania, nanti malam kamu bisa menemuiku, kan?”
“Saya tidak bisa berjanji, lihat saja nanti.”
“Baiklah, tolong kabari aku.”
__ADS_1
TUT
Tania menghela napasnya dan meletakan kembali ponselnya ke tempatnya semula, ia tidak menyangka bahwa wanita itu akan menghubunginya saat ini.
“Sebenarnya kenapa dia menghubungiku barusan?”
****
Minanti masih bersikap pura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya Bram maksudkan, namun jauh di dalam dirinya sebenarnya Minanti merasa takut kalau Bram akan mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan darinya.
“Tidak, dia pasti tidak akan menemukan bukti apa pun.”
Minanti berusaha menenangkan dirinya saat ini, namun sejujurnya ia tidak bisa sepenuhnya tenang karena takut rahasianya akan terbongkar oleh suaminya.
“Mama nampak sedang gelisah?”
Minanti menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, nampak Felli berdiri tidak jauh darinya dan wanita itu berjalan mendekatinya.
“Mama sedang ada masalah apa?”
“Tidak ada apa-apa kok.”
“Benarkah? Namun kalau aku perhatikan sepertinya hubungan Papa dan Mama sepertinya agak sedikit renggang belakangan ini, ya?”
“Benarkah? Mungkin saja itu hanya perasaanmu saja, kami berdua baik-baik saja.”
“Bagaimana denganmu sendiri? Apakah kamu dan Juan masih saling mendiamkan satu sama lain?”
“Bukan aku yang memulainya, dia yang memulai semuanya, wanita itu sudah meracuni pikiran Juan.”
“Kamu sudah bicara baik-baik dengan Juan?”
“Aku sudah berulang kali bicara baik-baik dengan Juan, namun dia tidak mau bicara denganku.”
“Kalau begitu nanti biar Mama bicara dengannya.”
“Sepertinya percuma saja, dia itu keras kepala, apalagi dirinya sudah diracuni oleh wanita ular itu.”
****
Nama Ferdian semakin santer diberitakan oleh media hingga membuat gonjang-ganjing di perusahaannya, sang papa tentu tidak dapat membiarkan semua ini terjadi berlarut-larut, ia meminta agar Ferdian segera menghentikan semua ini atau perusahaan akan karam bersama dengan gonjang-ganjing ini.
“Aku sudah mengusahakan semuanya, namun sampai saat ini belum juga menemukan titik temunya.”
“Papa sudah membesarkan perusahaan ini selama lebih dari 30 tahun, Papa tidak mau perusahaan ini hancur dan tenggelam karena ulah sembronomu ini!”
“Jadi sekarang Papa menyalahkanku?”
__ADS_1
“Tentu saja, kamu adalah dalang di balik semua ini, kalau perusahaan sampai bangkrut maka kamu yang harus bertanggung jawab!”
Ferdian tentu saja tidak terima dengan ucapan sang papa barusan, maka adu mulut pun tak dapat terhindarkan sampai akhirnya Ferdian pun mengatakan sesuatu pada sang papa.
“Papa pikir aku akan hancur sendirian dengan karamnya perusahaan ini? Papa salah, aku juga akan menarik Papa untuk ikut hancur dan tenggelam bersamaku.”
“Apa maksudmu?”
“Papa ingat skandal mega proyek 37 tahun lalu ketika Papa juga bermain mata dengan perangkat pemerintah namun kasusnya tidak pernah naik ke pengadilan dan Papa menjadikan seseorang sebagai kambing hitam dan
membuatnya mati di penjara?”
“Apa maksudmu Ferdian?!”
“Aku akan membawa kasus itu kembali dan membuat kita berdua tenggelam bersama!”
*****
Ferdian tiba di rumah dengan lesu, dirinya nampak begitu berantakan sekali namun Tania sama sekali tidak peduli, ia sibuk memainkan ponselnya tanpa melirik sedikit pun ke arah Ferdian.
“Tania, bisakah kamu memelukku?”
“Untuk apa aku melakukannya?”
“Aku mohon.”
Tania kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pria itu, Ferdian memang nampak kacau saat ini, dasinya sudah tidak terpasang dengan benar, tiga kancing kemeja teratas juga sudah terlepas dan jas yang seharian
ini ia kenakan juga menghilang entah ke mana.
“Sekarang ada apa lagi?”
“Perusahaan kami mengalami masalah besar.”
“Apa itu?”
“Para investor sudah menarik kembali dana mereka dari perusahaan, beberapa utang jatuh tempo juga harus segera kami bayar namun keadaan perusahaan sangat tidak memungkinkan untuk kami membayar semua utang
itu dan yang lebih parahnya, Kejaksaan sudah mengincarku, mereka pasti akan menangkapku.”
“Bukankah kamu sangat yakin kalau Kejaksaan tidak akan menangkapmu?”
“Aku terlalu sesumbar waktu itu, aku pikir perusahaan kami bisa bertahan lebih lama setidaknya sampai kami mendapatkan fee dari proyek itu, namun sekarang kondisinya berubah, semua tidak berjalan seperti yang aku harapkan.”
“Apakah tidak ada jalan lain untuk membuat perusahaanmu tetap berjalan? Aku memikirkan bagaimana nasib karyawan yang sudah mengabdikan hidup mereka bekerja pada perusahaan selama puluhan tahun.”
“Kami harus mencari investor baru atau menjual seluruh saham yang kami miliki untuk menyelamatkannya, apakah kamu bersedia menjadi investor perusahaan kami Tania? Aku mohon, aku mohon padamu,” pinta Ferdian seraya berlutut di hadapan Tania.
__ADS_1